![]() |
Kisah Haru Ibu Tatti di Sidrap Tinggal di Bekas Kandang Sapi, Bertahan Demi Cucu |
NARASIRAKYAT — Di tengah geliat pembangunan daerah, sebuah kisah pilu datang dari Dusun Macege, Desa Rijang Panua, Kecamatan Kulo, Kabupaten Sidenreng Rappang. Seorang perempuan sederhana bernama Ibu Tatti harus menghadapi kenyataan hidup yang tak mudah: kehilangan tempat tinggal dan bertahan di bangunan seadanya yang dulunya adalah kandang sapi.
Kisah ini mencuat ke publik melalui unggahan media sosial oleh seorang warga, Chicha Noraziza, yang menyaksikan langsung kondisi kehidupan Ibu Tatti.
Terpaksa Pergi, Tanpa Pilihan
Menurut penuturan Chicha, rumah yang selama ini ditempati Ibu Tatti berdiri di atas tanah yang bukan miliknya. Ketika pemilik lahan membutuhkan kembali tanah tersebut, Ibu Tatti tidak memiliki pilihan selain meninggalkannya.
Kini, ia tinggal di samping rumah keluarganya, tepatnya di bangunan bekas kandang sapi yang disulap seadanya menjadi tempat berteduh.
Dindingnya masih menyisakan bekas lama, lantainya hanya ditimbun agar tidak tergenang air, sementara atapnya bocor dan rangkanya sebagian telah patah.
Namun di balik kondisi itu, Ibu Tatti tetap bertahan—tanpa keluhan.
Bertahan Hidup Bersama Cucu
Dalam kesehariannya, Ibu Tatti hidup bersama cucunya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia tetap berusaha mandiri.
Saat musim panen tiba, ia turun ke sawah untuk mengape—mengumpulkan sisa hasil panen. Selain itu, ia juga berjualan makanan tradisional seperti baje canggoreng, sebagai upaya kecil untuk menyambung hidup. Semangat bertahan ini menjadi potret nyata ketangguhan masyarakat kecil di tengah keterbatasan.
Upaya bantuan sebenarnya telah datang. Melalui program bersama pemerintah desa dan Baznas, Ibu Tatti pernah menerima bantuan, termasuk dukungan modal usaha yang nilainya disebut mencapai sekitar Rp3 juta.
Namun, ada kendala besar yang belum terpecahkan:
status kepemilikan tanah. Karena tidak memiliki tanah sendiri, Ibu Tatti belum bisa mendapatkan bantuan program bedah rumah, yang mensyaratkan kepemilikan lahan. Akibatnya, bantuan yang ada belum mampu menjawab kebutuhan paling mendasar: rumah layak huni.
Gotong Royong Warga Mulai Bergerak
Kabar kondisi Ibu Tatti menggugah kepedulian masyarakat. Donasi mulai terkumpul, digunakan untuk membeli semen, pasir, dan kerikil guna memperbaiki lantai tempat tinggalnya yang sebelumnya hanya tanah.
Perbaikan kecil juga dilakukan pada atap rumah, termasuk penggantian rangka kayu yang patah. Namun, semua ini masih bersifat sementara. Harapan besar kini tertuju pada adanya solusi jangka panjang—termasuk kemungkinan pembelian lahan sederhana agar Ibu Tatti memiliki tempat tinggal yang benar-benar layak.
5 Fakta Menarik Kisah Ibu Tatti
Tinggal di bekas kandang sapi yang disulap menjadi tempat tinggal
Hidup bersama cucu dalam kondisi serba terbatas
Pernah menerima bantuan modal usaha sekitar Rp3 juta
Tidak bisa mendapatkan bantuan bedah rumah karena tidak memiliki tanah
Bertahan hidup dengan mengape dan berjualan makanan tradisional
Lebih dari Sekadar Kisah, Ini Panggilan Kemanusiaan
Kisah Ibu Tatti bukan hanya tentang kemiskinan, tetapi tentang ketabahan, kesederhanaan, dan kekuatan bertahan hidup.
Di balik keterbatasan, ia tidak menyerah. Namun, kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa masih ada masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih serius, terutama dalam hal hunian layak.
Dari sebuah kandang sederhana di Dusun Macege, kita belajar bahwa harapan bisa tetap hidup, meski dalam keterbatasan.
Kini, harapan itu ada di tangan kita semua — bahwa dengan kepedulian dan gotong royong, Ibu Tatti bisa memiliki rumah yang layak, tempat ia dan cucunya menjalani hidup dengan lebih bermartabat.Ayo kita bantu Ibu Tatti!!



















