![]() |
Akademisi Unisan Sidrap Dalami Keteladanan Nene’ Mallomo, Seminar Budaya Bangkitkan Kesadaran Sejarah Lokal |
NARASIRAKYAT.ID — Upaya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur kearifan lokal terus digencarkan di Kabupaten Sidenreng Rappang. Salah satunya melalui seminar warisan budaya bertajuk “Mengenal Sosok Nene’ Mallomo: Refleksi Kepemimpinan dan Keteladanan dari Bumi Sidenreng Rappang” yang sukses digelar di Aula Sanggar Seni Pajoge Sidrap, Pangkajene, Sabtu (4/4/2026).
Kegiatan ini mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi, khususnya civitas akademika Universitas Ichsan Sidenreng Rappang yang turut ambil bagian dalam menggali nilai-nilai historis dan keteladanan tokoh legendaris Bugis, Nene' Mallomo.
Antusiasme Akademisi: Menghidupkan Kesadaran Sejarah
Kehadiran lebih dari 30 dosen dan mahasiswa dari berbagai program studi Universitas Ichsan Sidenreng Rappang menjadi bukti tingginya minat generasi muda terhadap sejarah lokal.
Dekan Fakultas Ilmu Komputer, Aswar, menegaskan pentingnya mengintegrasikan nilai sejarah ke dalam dunia akademik.
“Nene’ Mallomo bukan sekadar cerita rakyat, tetapi bukti nyata bahwa di Sidrap telah lahir konsep supremasi hukum sejak ratusan tahun lalu. Ini penting untuk diteliti dan diajarkan kembali di bangku kuliah,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu peserta, Karmila Sari, mengaku mendapatkan perspektif baru dari seminar tersebut.
“Saya kira hanya nama jalan atau museum. Ternyata ada kisah luar biasa tentang keadilan yang ditegakkan tanpa pandang bulu. Ini pelajaran berharga bagi kami,” tuturnya.
Peran Sanggar Pajoge dalam Pelestarian Budaya
Sebagai penyelenggara, Sanggar Seni Pajoge Sidrap terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan budaya melalui pendekatan edukatif.
Ketua pelaksana, Henra Maksidatung, menyampaikan bahwa tema Nene’ Mallomo dipilih untuk memperkuat pemahaman generasi muda terhadap filosofi hidup masyarakat Bugis.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal seni, tetapi juga memahami nilai di balik tokoh besar daerah. Filosofi ‘ade’ temmakkeana temmakkeappo’ harus terus hidup,” jelasnya.
Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Nene’ Mallomo 3, program tahunan yang mengintegrasikan seni, sejarah, dan pendidikan.
Keteladanan Nene’ Mallomo: Hukum di Atas Segalanya
Dalam sesi materi, budayawan senior mengisahkan kembali ketegasan Nene' Mallomo sebagai penegak hukum adat di Kerajaan Sidenreng.
Salah satu kisah paling monumental adalah ketika beliau menjatuhkan hukuman kepada anak kandungnya sendiri demi menegakkan keadilan, sebuah peristiwa yang melahirkan prinsip bahwa hukum tidak boleh tebang pilih.
Selain itu, Nene’ Mallomo dikenal memiliki tujuh nilai utama kepemimpinan:
Warani (Berani)
Lempu’ (Jujur)
Macca (Cerdas)
Sipakatau (Memanusiakan manusia)
Reso (Kerja keras)
Getteng (Konsisten)
Deceng Kapang (Berprasangka baik)
Nilai-nilai ini dinilai sangat relevan dalam kehidupan modern, khususnya dalam penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.
5 Fakta Menarik Seminar Budaya Ini
Kolaborasi Akademisi dan Budayawan — Menggabungkan perspektif ilmiah dan kearifan lokal
Peserta Aktif — Lebih dari 30 dosen dan mahasiswa hadir
Tokoh Legendaris — Mengangkat sosok Nene’ Mallomo sebagai simbol keadilan
Bagian Festival Budaya — Termasuk dalam rangkaian Festival Nene’ Mallomo 3
Nilai Relevan — Filosofi kepemimpinan masih актуal hingga saat ini
Seminar ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus meninggalkan akar budaya. Justru dari nilai-nilai luhur seperti yang diwariskan Nene' Mallomo, generasi muda dapat belajar tentang kejujuran, keberanian, dan keadilan.
Di tengah arus modernisasi, warisan budaya bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi kompas moral untuk masa depan. Karena pada akhirnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjaga sejarah, merawat nilai, dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.


















