![]() |
Refleksi Rektor UNISAN Sidrap, Dr. Darnawati di Rakerwil L2DIKTI IX: Transformasi PTS Bukan Lagi Pilihan, Tapi Keniscayaan |
NARASIRAKYAT.ID, BANDUNG — 8 April 2026, Pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) L2DIKTI Wilayah IX yang berlangsung pada 8–10 April 2026 di Bandung menjadi momentum penting bagi perguruan tinggi swasta (PTS) untuk melakukan refleksi mendalam terhadap arah dan masa depan pendidikan tinggi di Indonesia.
Dalam forum yang dihadiri ratusan pimpinan PTS tersebut, Rektor Universitas Ichsan Sidenreng Rappang, Darnawati, menegaskan bahwa transformasi bukan lagi sekadar pilihan strategis, melainkan kebutuhan mendesak di tengah kompetisi global yang semakin ketat.
Dari Zona Nyaman Menuju Kampus Berdampak
Menurut Darnawati, dunia pendidikan tinggi telah bergerak jauh melampaui pola lama yang bersifat administratif dan normatif. Perguruan tinggi kini dituntut untuk lebih adaptif, inovatif, dan berorientasi pada dampak nyata.
Salah satu isu krusial yang mengemuka dalam Rakerwil adalah pentingnya riset berdampak. Selama ini, banyak PTS masih terjebak pada orientasi kuantitas publikasi, tanpa memperhatikan relevansi dan kontribusi terhadap masyarakat.
Padahal, di tingkat global, indikator keberhasilan perguruan tinggi telah bergeser:
Dari jumlah publikasi → ke dampak riset
Dari teori akademik → ke solusi nyata
Dari ruang kelas → ke ekosistem industri dan masyarakat
“Perguruan tinggi tidak boleh lagi menjadi menara gading. Kampus harus hadir sebagai pusat solusi yang hidup dan responsif,” tegasnya.
Rektor UNISAN Sidrap juga menyoroti pentingnya memperkuat hubungan antara kampus dan dunia industri. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya dibekali teori, tetapi juga harus terhubung dengan realitas kerja sejak dini.
Model pembelajaran konvensional yang membatasi mahasiswa di ruang kelas dinilai tidak lagi relevan. Sebaliknya, pendekatan berbasis pengalaman (experiential learning) menjadi kunci dalam mencetak lulusan yang siap bersaing.
Tanpa sinergi ini, lulusan PTS berisiko:
Kuat secara akademik, namun lemah secara praktis
Kompeten di atas kertas, tetapi tidak siap di lapangan
Klasterisasi dan Identitas Kampus
Kebijakan klasterisasi perguruan tinggi yang dibahas dalam forum juga menjadi perhatian penting. Menurut Darnawati, klasterisasi seharusnya dipahami sebagai strategi penguatan, bukan pembatasan.
Setiap PTS perlu memiliki:
Positioning yang jelas
Keunggulan spesifik
Keterkaitan dengan kebutuhan daerah
PTS yang gagal menentukan identitasnya akan kesulitan bersaing, bahkan di tingkat lokal.
Menuju 10 PTS Unggul: Tantangan dan Peluang
Target L2DIKTI Wilayah IX untuk melahirkan 10 PTS unggul pada 2026–2027 dinilai sebagai langkah progresif. Namun, keberhasilan target ini sangat bergantung pada komitmen nyata masing-masing institusi.
Transformasi yang dibutuhkan meliputi:
Reformasi tata kelola
Pembaruan kurikulum
Penguatan riset dan inovasi
Pembangunan budaya akademik adaptif
“Transformasi tidak bisa setengah-setengah. Harus menyeluruh dan berkelanjutan,” tegasnya.
5 Fakta Menarik Hasil Refleksi Rakerwil L2DIKTI IX
Transformasi PTS dinilai sebagai keniscayaan, bukan pilihan
Fokus bergeser dari kuantitas publikasi ke dampak riset
Link and match dengan industri menjadi kebutuhan utama
PTS harus memiliki identitas dan keunggulan spesifik
Target lahirnya 10 PTS unggul pada 2026–2027
Rakerwil ini bukan sekadar forum tahunan, tetapi cermin bagi masa depan pendidikan tinggi Indonesia. Pertanyaan besarnya sederhana namun mendasar: apakah PTS siap berubah, atau justru tertinggal?
Potensi besar PTS Indonesia tidak diragukan. Namun, potensi tanpa keberanian adalah stagnasi. Dibutuhkan visi besar, langkah nyata, dan keberanian keluar dari zona nyaman.
Jika transformasi dijalankan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin dalam satu dekade ke depan, perguruan tinggi swasta Indonesia akan berdiri sejajar dengan institusi kelas dunia.


















