![]() |
Nur Ainun Istiqamah Guru SMPN 2 Panca Rijang Raih Emas Perdana Sidrap di Porsenijar VII, Inovasi "Alako" Bikin Juri Terpukau |
SIDRAP, NarasiRakyat.id – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dunia pendidikan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Di tengah semangat inovasi yang mewarnai Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) VII PGRI Sulawesi Selatan 2026, seorang guru berhasil membuktikan bahwa kreativitas berbasis potensi lokal mampu bersaing di tingkat provinsi.
Adalah Nur Ainun Istiqamah, guru Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) SMP Negeri 2 Panca Rijang, yang sukses meraih medali emas pada Lomba Pembelajaran Digital jenjang SMP/MTs. Lebih istimewa lagi, capaian tersebut menjadi medali emas pertama yang dipersembahkan Kontingen Kabupaten Sidrap dalam ajang Porsenijar VII PGRI Sulawesi Selatan 2026.
Prestasi itu tidak hadir dalam semalam. Di balik medali emas yang kini dikenakan Nur Ainun, tersimpan perjalanan panjang penuh dedikasi, pembelajaran, dan penyempurnaan inovasi yang dilakukan selama hampir satu tahun.
Inovasi Lahir dari Potensi Lokal Sidrap
Mengajar di SMP Negeri 2 Panca Rijang, yang berlokasi di Jalan A.P. Pettarani, Kelurahan Lalebata, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidrap, Nur Ainun berupaya menghadirkan pembelajaran IPA yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik.
Ia mengembangkan media pembelajaran digital bernama "Alako", sebuah aplikasi berbasis animasi yang mengangkat konsep listrik alternatif melalui pemanfaatan sekam padi sebagai bahan baku bio baterai.
Pemilihan tema tersebut bukan tanpa alasan.
Sebagai daerah yang dikenal sebagai salah satu sentra pertanian di Sulawesi Selatan, Sidrap memiliki potensi limbah pertanian yang melimpah. Potensi itu kemudian diolah menjadi materi pembelajaran kontekstual sehingga siswa tidak hanya memahami konsep sains secara teoritis, tetapi juga melihat bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk menjawab persoalan nyata di lingkungan sekitar.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran menjadi lebih menarik, aplikatif, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Menaklukkan Persaingan Ketat dari 24 Kabupaten/Kota
Perjalanan menuju medali emas dimulai sejak proses seleksi daring yang digelar pada Juni 2026.
Sebanyak 24 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan mengirimkan karya terbaiknya dalam lomba pembelajaran digital.
Dari proses seleksi tersebut, hanya 10 finalis terbaik yang berhak tampil pada babak presentasi di ajang Porsenijar VII yang berlangsung di Kabupaten Sidrap.
Di hadapan dewan juri, para finalis mempresentasikan inovasi pembelajaran masing-masing.
Aspek yang dinilai meliputi kreativitas, pemanfaatan teknologi digital, kualitas materi pembelajaran, metode penyampaian, hingga dampak inovasi terhadap peningkatan kualitas proses belajar mengajar.
Melalui presentasi yang matang dan inovasi yang kuat, "Alako" berhasil mencuri perhatian dewan juri hingga akhirnya mengantarkan Nur Ainun meraih posisi tertinggi.
Buah dari Proses Panjang dan Kerja Keras
Usai menerima penghargaan, Nur Ainun mengungkapkan rasa syukur atas capaian yang diraihnya.
Menurutnya, medali emas tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang penuh evaluasi dan penyempurnaan.
"Medali emas ini adalah buah dari proses yang panjang. Selama hampir satu tahun kami terus menyempurnakan inovasi, memperbaiki materi, berlatih presentasi, dan menerima banyak masukan. Alhamdulillah, semua usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Saya sangat bersyukur sekaligus bangga bisa mempersembahkan medali emas pertama untuk Kabupaten Sidrap," ungkap Nur Ainun.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut bukanlah hasil kerja individu semata.
Nur Ainun juga menyampaikan apresiasi kepada pelatih Lomba Pembelajaran Digital Kabupaten Sidrap, Mansur, yang juga menjabat sebagai Kepala SMP Negeri 2 Panca Rijang, atas pendampingan, arahan, dan motivasi selama proses persiapan.
Baginya, kolaborasi menjadi salah satu kunci utama keberhasilan dalam menghasilkan inovasi pembelajaran yang berkualitas.
Pembelajaran Digital yang Menginspirasi
Prestasi Nur Ainun menjadi bukti bahwa guru memiliki peran strategis sebagai inovator pendidikan.
Di era transformasi digital, guru tidak hanya dituntut menguasai teknologi, tetapi juga mampu menghubungkan pembelajaran dengan realitas kehidupan peserta didik.
Inovasi seperti "Alako" memperlihatkan bahwa teknologi dapat menjadi sarana untuk memperkuat pendidikan berbasis potensi lokal, sekaligus mendorong lahirnya generasi yang kreatif, kritis, dan peduli terhadap lingkungan.
Keberhasilan ini juga semakin menegaskan bahwa Kabupaten Sidrap memiliki sumber daya pendidik yang mampu bersaing di tingkat provinsi melalui karya-karya inovatif yang memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan.
Lima Fakta Menarik
1. Nur Ainun Istiqamah berhasil meraih medali emas pada Lomba Pembelajaran Digital jenjang SMP/MTs dalam Porsenijar VII PGRI Sulawesi Selatan 2026.
2. Medali tersebut menjadi emas pertama untuk Kontingen Kabupaten Sidrap pada perhelatan Porsenijar VII.
3. Inovasi "Alako" dikembangkan selama hampir satu tahun, melalui proses penyempurnaan materi, desain media, dan latihan presentasi secara berkelanjutan.
4. Aplikasi "Alako" mengangkat konsep listrik alternatif berbasis pemanfaatan sekam padi sebagai bio baterai, mengintegrasikan sains dengan potensi lokal Kabupaten Sidrap.
5. Nur Ainun berhasil menjadi yang terbaik setelah bersaing dengan finalis hasil seleksi dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, yang dinilai berdasarkan kreativitas, teknologi, kualitas pembelajaran, dan dampak inovasi.
Kemajuan pendidikan tidak selalu lahir dari teknologi yang mahal.
Sering kali, inovasi terbaik justru muncul dari guru yang mampu melihat potensi di lingkungan sekitarnya dan mengubahnya menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
Keberhasilan Nur Ainun Istiqamah meraih medali emas melalui inovasi "Alako" menjadi bukti bahwa kreativitas, ketekunan, dan semangat belajar tidak mengenal batas.
Prestasi ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi SMP Negeri 2 Panca Rijang dan Kabupaten Sidrap, tetapi juga menjadi inspirasi bagi para guru di seluruh Indonesia untuk terus menghadirkan pembelajaran yang relevan, inovatif, dan mampu membangun generasi yang siap menghadapi masa depan.
Dari ruang kelas di Bumi Nene Mallomo, lahir sebuah pesan bahwa guru yang terus berinovasi akan selalu menjadi penggerak perubahan, dan setiap karya yang dibuat dengan hati akan memberi dampak besar bagi dunia pendidikan.















