-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     




     


     

     



     


     

     



     

    Iklan

    Pemkab Pinrang dan BGN Bangun Ekosistem MBG, Petani hingga BUMDes Mulai Masuk Rantai Pasok Ekonomi Baru

    Satry Polang
    Kamis, 09 Juli 2026, Juli 09, 2026 WIB Last Updated 2026-07-10T02:19:04Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

    Pemkab Pinrang dan BGN Bangun Ekosistem MBG, Petani hingga BUMDes Mulai Masuk Rantai Pasok Ekonomi Baru



    PINRANG, NarasiRakyat.id – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) mulai diarahkan menjadi lebih dari sekadar program pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Di Kabupaten Pinrang, pemerintah daerah bersama Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) membangun ekosistem ekonomi berbasis potensi lokal dengan melibatkan petani, nelayan, peternak, pelaku UMKM, hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).


    Sinergi tersebut menjadi langkah strategis untuk memastikan program nasional tersebut memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat, terutama melalui penguatan rantai pasok bahan baku yang berasal dari produksi daerah sendiri.


    Komitmen itu mengemuka dalam dialog bertajuk "Benarkah MBG dan KDMP sebagai Mesin Penggerak Ekonomi Rakyat?" yang digelar KNPI Kabupaten Pinrang di See You Cafe, Minggu (6/7).


    Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi berbagai pihak dalam melihat peluang besar MBG sebagai instrumen peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.


    MBG Diproyeksikan Jadi Mesin Ekonomi Kerakyatan

    Wakil Bupati Pinrang Sudirman Bungi, S.IP., M.Si., menegaskan bahwa keberhasilan Program MBG tidak hanya diukur dari aspek pemenuhan gizi, tetapi juga dari sejauh mana program tersebut mampu menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.


    Menurutnya, Kabupaten Pinrang memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan bahan baku MBG melalui sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan usaha masyarakat lokal.

    "Harapan kita tentu seluruh kebutuhan bahan baku Program MBG dapat dipenuhi dari hasil produksi masyarakat Kabupaten Pinrang. Dengan begitu, uang yang berputar dari program ini akan kembali menggerakkan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Sudirman.

     

    Ia menjelaskan bahwa karena MBG masih merupakan program yang relatif baru, maka diperlukan proses membangun ekosistem produksi dan distribusi agar rantai pasok lokal dapat berjalan secara optimal.


    Pemerintah daerah, kata dia, akan terus melakukan pendampingan, pemetaan potensi daerah, serta membuka ruang kemitraan antara produsen lokal dengan pelaksana program MBG.


    BGN Mulai Bangun Rantai Pasok dari Petani Lokal

    Upaya membangun ekosistem tersebut mulai diwujudkan oleh Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Pinrang, Nining Anggraeni.

    Ia menjelaskan bahwa pihaknya mulai mengembangkan pola penyediaan bahan baku yang melibatkan petani lokal secara langsung.


    Salah satu pilot project dilakukan di Kecamatan Duampanua dengan mengembangkan komoditas bawang merah.

    "Kami mulai membentuk ekosistem bahan baku yang dikelola oleh petani sendiri. Pilot project kami berada di Kecamatan Duampanua. Lahannya disediakan oleh kepala desa, kemudian ada petani bernama Pak Anwar yang menanam bawang merah," kata Nining.

     

    Menurutnya, bawang merah dipilih karena memiliki nilai ekonomi tinggi serta memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Kabupaten Pinrang.


    Selama ini bawang merah lebih dikenal sebagai komoditas unggulan Kabupaten Enrekang, namun hasil pengembangan di Pinrang menunjukkan potensi yang menjanjikan.

    "Sebelumnya bawang merah terkenal dari Enrekang, tetapi ternyata Pinrang juga bisa. Kami ingin mengambil peluang itu. Alhamdulillah sudah panen satu kali jumlahnya 218 kg dengan hasil yang baik. Awalnya hanya tujuh bedeng, sekarang sudah berkembang menjadi 20 bedeng," jelasnya.


    BUMDes Mulai Jadi Mitra Strategis Penyedia Bahan Baku

    Selain sektor pertanian, BGN Kabupaten Pinrang juga membuka peluang keterlibatan BUMDes sebagai bagian dari rantai pasok MBG.

    Salah satu contoh nyata adalah kerja sama penyerapan ikan nila hasil budidaya masyarakat.


    Nining mengungkapkan, terdapat BUMDes yang memiliki produksi ikan nila dalam jumlah besar dan siap mendukung kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

    "Ada BUMDes yang menyampaikan memiliki ikan nila melimpah. SPPG tentu siap menyerap. Saya sempat bertanya, apakah bisa menyediakan ikan nila tanpa tulang? Ternyata BUMDes menyanggupi. Alhamdulillah sudah ada sekitar 3.300 ikan nila yang kami serap untuk kebutuhan SPPG," ungkapnya.

     

    Menurutnya, pola kerja sama tersebut akan terus diperluas agar manfaat MBG dapat dirasakan lebih banyak masyarakat.

    Ke depan, petani, peternak, nelayan, UMKM, dan BUMDes diharapkan menjadi bagian penting dalam penyediaan kebutuhan bahan baku program.


    Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat Jadi Kunci Keberhasilan MBG

    Pemerintah Kabupaten Pinrang menilai keberhasilan MBG membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

    Tidak hanya pemerintah dan BGN, tetapi juga peran aktif masyarakat sebagai produsen bahan baku menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem yang kuat.


    Dengan pendekatan berbasis potensi lokal, MBG diharapkan mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect), mulai dari peningkatan produksi pertanian, terbukanya lapangan usaha baru, peningkatan pendapatan masyarakat, hingga penguatan ekonomi desa.


    Dialog tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura A. Sinapati Rudy, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Mukti Ali, serta berbagai unsur masyarakat.


    Lima Fakta Menarik Ekosistem MBG Pinrang

    1. MBG Mulai Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Lokal

    Program nasional ini tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi, tetapi juga diarahkan untuk membuka peluang ekonomi masyarakat.

    2. Petani Lokal Mulai Masuk Rantai Pasok

    BGN Pinrang membangun pilot project bahan baku dengan melibatkan petani bawang merah di Kecamatan Duampanua.

    3. Bawang Merah Pinrang Tunjukkan Potensi Baru

    Budidaya bawang merah yang awalnya tujuh bedeng berkembang menjadi 20 bedeng dengan hasil panen mencapai 218 kilogram.

    4. BUMDes Mulai Berperan dalam Program Nasional

    Sekitar 3.300 ikan nila hasil budidaya masyarakat berhasil diserap untuk kebutuhan SPPG.

    5. Melibatkan Banyak Sektor Ekonomi

    Rantai pasok MBG membuka peluang bagi petani, nelayan, peternak, UMKM, hingga pelaku usaha desa.


    MBG Pinrang, Dari Program Gizi Menuju Gerakan Ekonomi Rakyat

    Program Makanan Bergizi Gratis di Kabupaten Pinrang mulai menunjukkan wajah baru sebagai program pembangunan yang menyentuh berbagai sektor kehidupan masyarakat.

    Ketika bahan baku berasal dari hasil produksi lokal, maka manfaat program tidak berhenti pada penerima makanan, tetapi juga mengalir kepada para petani, nelayan, peternak, dan pelaku usaha kecil.


    Kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Pinrang, BGN, desa, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menciptakan ekosistem MBG yang mandiri dan berkelanjutan.

    Dari sawah, kebun, kolam ikan, hingga dapur pelayanan gizi, MBG Pinrang membuktikan bahwa program nasional dapat menjadi kekuatan baru untuk menggerakkan ekonomi rakyat dari tingkat paling bawah.

    Komentar

    Tampilkan