-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     

     


     



     

    Iklan

    Kolaborasi Daeng Uki dan Bangkit Dari Masjid Sidrap Dari Silaturahmi ke Aksi Nyata Kursi Roda untuk Guru Mengaji Kampung di Takkalasi

    Satry Polang
    Minggu, 11 Januari 2026, Januari 11, 2026 WIB Last Updated 2026-01-11T13:14:55Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

    Kolaborasi Daeng Uki dan Bangkit Dari Masjid Sidrap Dari Silaturahmi ke Aksi Nyata Kursi Roda untuk Guru Mengaji Kampung di Takkalasi



    NARASIRAKYAT  — Sebuah silaturahmi sederhana di Desa Takkalasi, Kabupaten Sidenreng Rappang, Kamis (8/1/2026), menjelma menjadi aksi kemanusiaan yang bermakna. Berawal dari kunjungan biasa, kepedulian itu berujung pada penyerahan kursi roda untuk Bapak Muhajir, seorang guru mengaji kampung yang telah mengabdikan hidupnya bagi pendidikan Al-Qur’an sejak puluhan tahun silam.

    Silaturahmi tersebut dilakukan oleh Daeng Uki, pentolan Suporter PSM Makassar, bersama BDM (Bangkit dari Masjid) Sidrap. Kunjungan ini bukan agenda seremonial, melainkan ruang perjumpaan yang hangat—tempat cerita, pengalaman, dan nilai pengabdian bertemu secara langsung.

    Saat rombongan tiba, Bapak Muhajir tengah mengajar anak-anak mengaji di rumah sederhananya. Dengan penuh adab, perkenalan pun dimulai.

    “Assalamu’alaikum,” tutur M. Amran Amkar, Bendahara BDM, sambil memperkenalkan Daeng Uki.
    “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Eh, siniki Pak,” jawab Bapak Muhajir, sembari tetap mendampingi santri-santrinya.

    Dalam perbincangan itu, Daeng Uki mengungkapkan rasa hormatnya kepada sosok guru mengaji kampung.

    “Tabe Pak, saya Daeng Uki. Saya sangat salut dengan bapak. Jujur saja, saya baru sekitar lima tahun belajar mengaji. Masya Allah, ternyata tidak ada kata terlambat untuk belajar,” ungkapnya.

    Bapak Muhajir kemudian bercerita bahwa dirinya telah mengajar sejak 1997. Ratusan anak telah tamat mengaji di tempat itu. Di tengah keterbatasan, banyak orang tua tetap menitipkan anak-anak mereka untuk belajar Al-Qur’an.

    “Alhamdulillah, di tengah keterbatasan, orang tua masih percaya menitipkan anak-anaknya ke saya,” ujarnya lirih.



     

    Pengalaman langsung menyaksikan pengabdian dan kondisi kesehatan Bapak Muhajir membuka kesadaran kolektif rombongan. Silaturahmi itu menumbuhkan empati yang segera diterjemahkan menjadi niat konkret.

    “Pak Muhajir ini adalah salah satu guru mengaji kampung yang dulu kami hadiahkan logam mulia dari donasi orang-orang baik,” jelas Amran.
    “Kenapa logam mulia? Karena bagi kami, guru mengaji kampung adalah orang-orang mulia.”

    Dua hari berselang, niat itu diwujudkan. Rombongan kembali ke Desa Takkalasi, kali ini untuk mengantarkan langsung kursi roda yang dibutuhkan Bapak Muhajir guna menunjang aktivitas hariannya.

    “Hari ini kami kembali datang untuk mengantar kursi roda untuk Pak Muhajir,” ungkap Daeng Uki.

    Penyerahan dilakukan secara sederhana, tanpa sorotan berlebihan. Namun justru di situlah maknanya—aksi nyata yang lahir dari keikhlasan dan kepedulian.


    Aksi ini mencerminkan kolaborasi lintas identitas: suporter sepak bola, komunitas masjid, dan relawan kemanusiaan. Di sinilah hadir bukan dalam bentuk jabatan, melainkan keteladanan sosial. Kepercayaan tumbuh karena bantuan diberikan secara langsung, transparan, dan tepat sasaran.


    Lima Fakta Menarik Aksi Kemanusiaan Ini

    1. Berawal dari silaturahmi sederhana, tanpa agenda resmi.

    2. Melibatkan lintas komunitas: suporter, gerakan masjid, dan relawan.

    3. Menyasar guru mengaji kampung—figur sentral yang kerap luput perhatian.

    4. Respons cepat: hanya dua hari dari niat hingga aksi nyata.

    5. Berbasis empati langsung, lahir dari dialog dan perjumpaan personal.


    Kisah dari Takkalasi ini mengajarkan bahwa perubahan besar kerap lahir dari langkah kecil yang tulus. Dari masjid, dari silaturahmi, dari hati yang peka—kepedulian sosial menemukan jalannya sendiri.
    Di Sidrap, seorang guru mengaji kembali tersenyum, bukan karena hadiah semata, tetapi karena merasa dihargai. Dan dari sana, harapan itu terus hidup, mengalir, dan menular.

    Komentar

    Tampilkan