![]() |
BPBD Sidrap Rilis Sebaran Bencana Februari 2026, Komitmen Wujudkan Daerah Tangguh |
NARASIRAKYAT — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sidenreng Rappang merilis data Sebaran Kejadian Bencana periode Februari 2026. Berdasarkan linimasa kejadian, tercatat 10 peristiwa bencana yang terjadi di sejumlah kecamatan di Sidrap.
Kalaksana BPBD Sidrap, Patriadi, mengimbau masyarakat agar terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu, khususnya di tengah dinamika cuaca ekstrem.
Linimasa Kejadian Bencana Februari 2026
Berdasarkan data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang, berikut rangkuman kejadian:
3 Februari — Kebakaran rumah di Betao Riase, Pitu Riawa.
8 Februari — Empat kejadian angin kencang di Toddang Pulu (Tellu Limpoe), Takalasi (Maritengngeae), Lawowoi (Watang Pulu), dan Tonrong Rijang (Baranti).
23 Februari — Lima kejadian angin kencang di Pangkajene, Kanie, Sereang (Maritengngeae), Sipodeceng (Baranti), dan Bola Bulu (Pitu Riase).
Dari total 10 kejadian, terdiri atas:
1 kebakaran rumah
9 kejadian angin kencang
Dampak Bencana
Adapun dampak yang tercatat selama Februari 2026 meliputi:
8 warga mengungsi
1 rumah rusak berat
10 rumah rusak ringan
Data ini menunjukkan bahwa angin kencang menjadi jenis bencana dominan pada periode tersebut, dengan sebaran merata di beberapa kecamatan.
Lima Fakta Menarik dari Data Bencana Februari 2026
Angin kencang mendominasi 90% kejadian bencana selama Februari.
Puncak kejadian terjadi pada 23 Februari, dengan lima peristiwa dalam satu hari.
Kecamatan Maritengngeae paling terdampak, tercatat beberapa titik kejadian dalam dua tanggal berbeda.
Dampak pengungsian relatif terbatas, namun kerusakan rumah tetap memerlukan perhatian serius.
BPBD Sidrap aktif mempublikasikan data secara terbuka, sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat.
Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah melalui BPBD tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat.
Langkah sederhana seperti memperkuat atap rumah, memangkas pohon rawan tumbang, serta memahami jalur evakuasi dapat meminimalkan risiko kerugian.
“Sidrap Tangguh Bencana” bukan sekadar slogan, tetapi komitmen kolektif untuk membangun budaya sadar risiko dan respons cepat.
Setiap bencana adalah ujian, namun juga momentum untuk memperkuat solidaritas dan ketangguhan. Dengan data yang transparan, koordinasi yang solid, dan partisipasi aktif masyarakat, Sidrap optimistis mampu menghadapi tantangan kebencanaan ke depan.







.jpeg)











