-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

     



     

    Iklan

    Guru Lokal dan Sekolah Rakyat: Menjawab Tantangan Pendidikan dari Akar Budaya

    Satry Polang
    Selasa, 07 April 2026, April 07, 2026 WIB Last Updated 2026-04-07T08:50:01Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250


    Oleh: Yeni Rahman

    NARASIRAKYAT.ID — Wacana pengembangan Sekolah Rakyat (SR) sebagai solusi pemerataan pendidikan di Indonesia membuka ruang diskusi yang lebih luas, khususnya terkait rekrutmen tenaga pendidik. Di tengah semangat menghadirkan pendidikan yang inklusif dan merata, satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah pentingnya mengutamakan guru dan tenaga kependidikan lokal.


    Bagi Yeni Rahman, kebijakan ini bukan sekadar pilihan teknis, melainkan strategi besar dalam memastikan pendidikan benar-benar menyentuh akar kebutuhan masyarakat.


    Pendidikan yang Berakar pada Kultur 

    Dalam praktik di lapangan, tantangan terbesar dalam dunia pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga bagaimana nilai dan pengetahuan dapat tersampaikan dengan baik kepada peserta didik.


    Di sinilah peran guru lokal menjadi sangat krusial.

    Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga memahami:

    • Bahasa daerah yang digunakan sehari-hari

    • Nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat

    • Pola komunikasi yang lebih humanis dan dekat dengan siswa


    Pendekatan ini menciptakan suasana belajar yang lebih cair, tidak kaku, dan mampu membangun kedekatan emosional antara guru dan murid.


    Lebih dari itu, komunikasi yang efektif juga terbangun dengan orang tua atau wali murid—sebuah aspek yang sering kali menjadi penentu keberhasilan pendidikan berbasis komunitas.


    Efisiensi Anggaran yang Lebih Rasional 

    Dari sisi kebijakan, mendatangkan tenaga pendidik dari luar daerah tentu membutuhkan biaya tambahan, mulai dari transportasi hingga kebutuhan operasional lainnya.


    Sebaliknya, guru lokal menawarkan efisiensi yang signifikan:

    • Tidak membutuhkan biaya mobilitas tinggi

    • Minim kebutuhan fasilitas tambahan

    • Lebih stabil dalam keberlanjutan tugas


    Efisiensi ini memungkinkan anggaran pendidikan dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih strategis, seperti peningkatan sarana belajar atau pengembangan kompetensi guru.


    Solusi Nyata bagi Lapangan Kerja

    Isu pengangguran, khususnya di kalangan lulusan muda (Gen Z), menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.


    Memprioritaskan tenaga pendidik lokal dalam Sekolah Rakyat bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga tentang:

    • Membuka peluang kerja bagi alumni daerah

    • Mengurangi angka pengangguran terdidik

    • Mendorong pertumbuhan ekonomi lokal


    Kebijakan ini menghadirkan efek domino yang positif, di mana pendidikan dan kesejahteraan masyarakat berjalan beriringan.


    Membangun Kepercayaan dan Keadilan Sosial 

    Keputusan untuk mengutamakan guru lokal juga menjadi bentuk keberpihakan terhadap masyarakat setempat.


    Ketika masyarakat melihat bahwa putra-putri daerah diberi ruang untuk berkontribusi, maka:

    • Kepercayaan terhadap program pemerintah meningkat

    • Partisipasi masyarakat dalam pendidikan menjadi lebih aktif

    • Sekolah menjadi bagian dari ekosistem sosial, bukan sekadar institusi formal


    Refleksi: Pendidikan yang Tumbuh dari Masyarakat

    Gagasan yang disampaikan Yeni Rahman menegaskan bahwa pendidikan tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya tempat ia tumbuh. Sekolah Rakyat akan menemukan kekuatannya justru ketika dikelola oleh mereka yang memahami denyut kehidupan masyarakat itu sendiri.


    Mengutamakan guru lokal bukan berarti menutup diri dari luar, tetapi memastikan bahwa fondasi pendidikan dibangun dari akar yang kuat. Ketika pendidikan tumbuh dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat—maka di situlah keadilan pendidikan benar-benar terwujud. Sekolah Rakyat bukan sekadar program, tetapi harapan untuk masa depan yang lebih merata dan berkeadilan.


    Yeni Rahman, S. Si. yang dijuluki "Sri Kandi Lorong" adalah Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Komisi E sekaligus Wakil Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.

    Komentar

    Tampilkan