Oleh: Yeni Rahman
NARASIRAKYAT.ID — Wacana pengembangan Sekolah Rakyat (SR) sebagai solusi pemerataan pendidikan di Indonesia membuka ruang diskusi yang lebih luas, khususnya terkait rekrutmen tenaga pendidik. Di tengah semangat menghadirkan pendidikan yang inklusif dan merata, satu hal yang tidak boleh diabaikan adalah pentingnya mengutamakan guru dan tenaga kependidikan lokal.
Bagi Yeni Rahman, kebijakan ini bukan sekadar pilihan teknis, melainkan strategi besar dalam memastikan pendidikan benar-benar menyentuh akar kebutuhan masyarakat.
Pendidikan yang Berakar pada Kultur
Dalam praktik di lapangan, tantangan terbesar dalam dunia pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga bagaimana nilai dan pengetahuan dapat tersampaikan dengan baik kepada peserta didik.
Di sinilah peran guru lokal menjadi sangat krusial.
Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga memahami:
Bahasa daerah yang digunakan sehari-hari
Nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat
Pola komunikasi yang lebih humanis dan dekat dengan siswa
Pendekatan ini menciptakan suasana belajar yang lebih cair, tidak kaku, dan mampu membangun kedekatan emosional antara guru dan murid.
Lebih dari itu, komunikasi yang efektif juga terbangun dengan orang tua atau wali murid—sebuah aspek yang sering kali menjadi penentu keberhasilan pendidikan berbasis komunitas.
Efisiensi Anggaran yang Lebih Rasional
Dari sisi kebijakan, mendatangkan tenaga pendidik dari luar daerah tentu membutuhkan biaya tambahan, mulai dari transportasi hingga kebutuhan operasional lainnya.
Sebaliknya, guru lokal menawarkan efisiensi yang signifikan:
Tidak membutuhkan biaya mobilitas tinggi
Minim kebutuhan fasilitas tambahan
Lebih stabil dalam keberlanjutan tugas
Efisiensi ini memungkinkan anggaran pendidikan dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih strategis, seperti peningkatan sarana belajar atau pengembangan kompetensi guru.
Solusi Nyata bagi Lapangan Kerja
Isu pengangguran, khususnya di kalangan lulusan muda (Gen Z), menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Memprioritaskan tenaga pendidik lokal dalam Sekolah Rakyat bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga tentang:
Membuka peluang kerja bagi alumni daerah
Mengurangi angka pengangguran terdidik
Mendorong pertumbuhan ekonomi lokal
Kebijakan ini menghadirkan efek domino yang positif, di mana pendidikan dan kesejahteraan masyarakat berjalan beriringan.
Membangun Kepercayaan dan Keadilan Sosial
Keputusan untuk mengutamakan guru lokal juga menjadi bentuk keberpihakan terhadap masyarakat setempat.
Ketika masyarakat melihat bahwa putra-putri daerah diberi ruang untuk berkontribusi, maka:
Kepercayaan terhadap program pemerintah meningkat
Partisipasi masyarakat dalam pendidikan menjadi lebih aktif
Sekolah menjadi bagian dari ekosistem sosial, bukan sekadar institusi formal
Refleksi: Pendidikan yang Tumbuh dari Masyarakat
Gagasan yang disampaikan Yeni Rahman menegaskan bahwa pendidikan tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya tempat ia tumbuh. Sekolah Rakyat akan menemukan kekuatannya justru ketika dikelola oleh mereka yang memahami denyut kehidupan masyarakat itu sendiri.
Mengutamakan guru lokal bukan berarti menutup diri dari luar, tetapi memastikan bahwa fondasi pendidikan dibangun dari akar yang kuat. Ketika pendidikan tumbuh dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat—maka di situlah keadilan pendidikan benar-benar terwujud. Sekolah Rakyat bukan sekadar program, tetapi harapan untuk masa depan yang lebih merata dan berkeadilan.
Yeni Rahman, S. Si. yang dijuluki "Sri Kandi Lorong" adalah Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Komisi E sekaligus Wakil Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.


















