![]() |
Hebat! Kelompk Wanita Tani Duampanua Baranti Ubah Pekarangan Jadi Sumber Pangan dan Penghasilan |
NARASIRAKYAT — Peran perempuan dalam pembangunan desa semakin nyata melalui keberadaan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kelurahan Duampanua, Kecamatan Baranti. KWT menjadi wadah strategis dalam pemberdayaan perempuan di sektor pertanian, sekaligus motor penggerak ketahanan pangan keluarga dan kemandirian ekonomi masyarakat.
Di tengah tantangan ekonomi dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, para anggota KWT hadir dengan solusi berbasis potensi lokal. Mereka mengoptimalkan lahan pekarangan rumah menjadi sumber pangan produktif yang berkelanjutan.
Dari Pekarangan, Lahirlah Kemandirian
Aktivitas KWT di Duampanua tidak hanya sebatas bercocok tanam, tetapi mencakup berbagai kegiatan produktif yang terintegrasi. Mulai dari budidaya sayuran, tanaman obat keluarga (TOGA), hingga tanaman pangan, semuanya dikelola secara mandiri oleh anggota kelompok.
Selain itu, hasil pertanian juga diolah menjadi produk bernilai tambah, sehingga memberikan dampak ekonomi langsung bagi keluarga. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan rumah tangga.
Gotong Royong Jadi Kekuatan Utama
Semangat kebersamaan menjadi fondasi utama dalam setiap aktivitas KWT. Kegiatan sosial dan gotong royong rutin dilakukan, mulai dari pengolahan lahan bersama hingga berbagi hasil panen.
KWT juga menjadi ruang belajar kolektif bagi perempuan, di mana mereka saling bertukar pengetahuan, pengalaman, dan inovasi dalam pertanian skala rumah tangga.
5 Fakta Menarik tentang KWT Duampanua
Berbasis Pekarangan Rumah – Memanfaatkan lahan kecil menjadi sumber pangan
Multi Komoditas – Mengelola sayuran, tanaman obat, hingga tanaman pangan
Nilai Tambah Ekonomi – Mengolah hasil panen menjadi produk bernilai jual
Perempuan sebagai Penggerak – Menjadi motor utama ketahanan pangan keluarga
Budaya Gotong Royong Kuat – Aktivitas dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan
Lebih dari Sekadar Bertani
KWT Duampanua bukan hanya tentang pertanian, tetapi juga tentang perubahan sosial. Perempuan yang sebelumnya terbatas pada peran domestik kini tampil sebagai agen perubahan, berkontribusi langsung terhadap ekonomi keluarga dan komunitas.
Dari tangan-tangan perempuan di Duampanua, lahir kekuatan besar yang sering tak terlihat: ketahanan, ketekunan, dan kepedulian. Di setiap tanaman yang tumbuh, tersimpan harapan akan masa depan yang lebih mandiri dan sejahtera.
Sidrap menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar—tetapi dari pekarangan rumah, oleh perempuan-perempuan hebat yang tak pernah berhenti berjuang.


















