![]() |
Ketulusan Tanpa Batas: Guru Mengaji di Perbatasan Soppeng–Sidrap Terima Hadiah dari Dermawan Melalui Bangkit Dari Masjid |
NARASIRAKYAT.ID — Kisah penuh haru datang dari perbatasan Kabupaten Soppeng dan Sidenreng Rappang (Sidrap). Seorang guru mengaji kampung, Bapak Lamudappe, kembali dikunjungi oleh komunitas sosial Bangkit Dari Masjid dalam rangka silaturahmi sekaligus mempertemukannya dengan seorang dermawan yang tergerak hatinya setelah melihat dedikasi beliau di media sosial.
Di bawah kolong rumah sederhana miliknya, suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa saat Bapak Lamudappe mengajar anak-anak mengaji—sebuah rutinitas yang telah ia jalani dengan penuh keikhlasan meski dalam kondisi fisik yang terbatas.
BDM Jadi Jembatan Kebaikan
Kunjungan tersebut dipimpin oleh Munaing Naim, Penanggung Jawab BDM, yang menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan bentuk nyata dari kolaborasi kebaikan antara masyarakat.
“Beberapa waktu lalu kami memposting kegiatan beliau di media sosial BDM. Alhamdulillah, ada orang baik yang ingin bersilaturahmi sekaligus mengantarkan hadiah sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi beliau,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa BDM hadir bukan hanya sebagai komunitas sosial, tetapi sebagai jembatan yang mempertemukan orang-orang baik dengan sosok-sosok mulia yang selama ini luput dari perhatian.
Sosok Sederhana dengan Dedikasi Luar Biasa
Bapak Lamudappe bukanlah sosok asing di lingkungan sekitarnya. Ia dikenal sebagai guru mengaji yang telah lama mengabdikan diri, bahkan pernah bertugas di beberapa masjid sebagai pegawai syara’.
Namun, sebuah kecelakaan yang dialaminya membuat kondisi fisiknya tidak lagi seperti dulu. Meski demikian, semangatnya tak pernah surut.
“Dulu saya sempat bertugas di beberapa masjid, tapi sejak kecelakaan itu saya mundur karena tidak kuat berjalan. Sekarang sudah tiga mi kakiku,” ujarnya sambil bercanda, mencairkan suasana penuh haru.
Dermawan Tersentuh, Bantuan Disalurkan
Salah satu momen paling menyentuh dalam pertemuan itu adalah saat seorang dermawan yang enggan disebutkan namanya menyerahkan bantuan secara langsung.
“Saya sangat terharu melihat postingan BDM yang peduli dengan guru mengaji kampung. Dari situlah saya terpanggil untuk hadir. Semoga ini bermanfaat untuk bapak dan keluarga,” ungkapnya.
Kehadiran dermawan tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian sosial masih tumbuh kuat di tengah masyarakat, terlebih ketika dipertemukan melalui media yang tepat.
Doa dan Harapan di Penghujung Pertemuan
Kegiatan silaturahmi tersebut ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh Bapak Lamudappe. Suara anak-anak yang sedang mengaji terdengar mengamini doa tersebut, menciptakan suasana yang penuh keteduhan dan harapan.
Momen ini menjadi pengingat bahwa di balik kesederhanaan, tersimpan kekuatan spiritual dan ketulusan yang luar biasa.
Lima Fakta Menarik dari Kisah Ini
Mengajar di Bawah Kolong Rumah
Keterbatasan fasilitas tidak menghalangi semangat Bapak Lamudappe dalam mengajar.Dedikasi Meski Kondisi Fisik Terbatas
Setelah mengalami kecelakaan, ia tetap melanjutkan pengabdian sebagai guru mengaji.Peran Media Sosial sebagai Penggerak Kebaikan
Postingan BDM menjadi awal pertemuan dengan dermawan.BDM sebagai Jembatan Sosial
Komunitas ini aktif menghubungkan orang baik dengan mereka yang membutuhkan.Doa sebagai Penutup yang Menguatkan
Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang penuh makna spiritual.
Kisah Bapak Lamudappe adalah cermin ketulusan yang tak lekang oleh waktu. Di tengah keterbatasan, ia tetap menyalakan cahaya ilmu bagi generasi muda. Apa yang dilakukan BDM dan para dermawan menjadi bukti bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya—terkadang melalui sebuah postingan sederhana, namun berdampak luar biasa. Di dunia yang serba cepat ini, kisah seperti ini mengingatkan kita bahwa ketulusan, kepedulian, dan doa adalah fondasi utama yang menjaga kemanusiaan tetap hidup.


















