![]() |
Bedah Buku “Sidenreng Rappang: Yang Berlalu dan Masih Lestari” Warnai Hari Buku Nasional 2026 di SMKN 3 Sidrap |
NARASIRAKYAT.ID — Semangat literasi dan kecintaan terhadap sejarah daerah kembali digaungkan dalam peringatan Hari Buku Nasional 2026 di UPT SMKN 3 Sidenreng Rappang melalui kegiatan bedah buku bertajuk “Sidenreng Rappang: Yang Berlalu dan Masih Lestari” karya Rahmat Ahmad.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin, 18 Mei 2026, pukul 10.15 hingga 12.25 WITA di Perpustakaan SMKN 3 Sidrap.
Acara ini menjadi momentum penting dalam membangun budaya membaca, menulis, dan memahami sejarah lokal di kalangan pelajar.
Selain dikenal sebagai kepala sekolah, Rahmat Ahmad juga merupakan penulis aktif dan penggiat pendidikan yang konsisten mendorong lahirnya budaya literasi di lingkungan sekolah.
Menulis Adalah Warisan Pemikiran
Dalam keterangannya, Rahmat Ahmad menegaskan bahwa menulis merupakan hasil dari proses panjang mendengar, membaca, dan berdiskusi.
Menurutnya, karya tulis memiliki kekuatan untuk melampaui usia penulisnya.
“Menulis itu akumulasi dari mendengar, membaca, dan berdiskusi. Lewat menulis, karya tidak akan hilang meski penulisnya meninggalkan karyanya,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi pesan mendalam bagi generasi muda agar tidak hanya menjadi pembaca informasi, tetapi juga pencipta gagasan dan penulis masa depan.
Rahmat Ahmad juga mengajak guru, akademisi, dan kalangan intelektual untuk terus aktif menulis demi memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan sejarah daerah.
Buku yang Mengangkat Sejarah dan Budaya Sidrap
Buku “Sidenreng Rappang: Yang Berlalu dan Masih Lestari” mengulas secara mendalam sejarah, asal-usul, hingga mitos Kerajaan Sidenreng dan Rappang.
Di dalamnya, pembaca diajak mengenal perjalanan kerajaan lokal yang disebut memiliki posisi penting dalam sejarah Sulawesi Selatan, sejajar dengan kerajaan besar seperti Gowa, Bone, dan Luwu.
Buku tersebut juga mengangkat kisah tokoh legendaris Nene Mallomo yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Sidenreng Rappang.
Selain membahas raja-raja yang pernah memimpin, buku itu juga mengulas agama, kepercayaan, kerajinan, hingga budaya masyarakat Sidrap yang masih lestari hingga kini.
Dalam salah satu bagian buku dijelaskan bahwa Kerajaan Sidenreng dan Rappang mulai berkembang melalui kepemimpinan Datu Patila bersama permaisurinya We Bolong Pattina, cucu Raja Sangalla dari Tana Toraja.
Narasi sejarah tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga dan identitas budaya di kalangan generasi muda Sidrap.
Buku Karya Lokal yang Tembus Perpustakaan Nasional
Tidak hanya aktif menulis, Rahmat Ahmad juga telah mencatatkan prestasi nasional melalui karya bukunya berjudul “Kincir Angin Membelah Bukit Pabbaresseng” yang kini terpajang di Perpustakaan Nasional Jakarta.
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa karya dari daerah juga mampu mendapat pengakuan di tingkat nasional.
Buku “Sidenreng Rappang: Yang Berlalu dan Masih Lestari” sendiri diterbitkan oleh Bukunesia pada 21 Mei 2025 dengan jumlah 144 halaman.
Karya itu menjadi salah satu referensi penting untuk memahami sejarah dan kebudayaan lokal Sidrap secara lebih mendalam.
Literasi untuk Membentuk Generasi Berkarakter
Melalui kegiatan bedah buku ini, pihak sekolah ingin menghadirkan dampak nyata bagi peserta didik.
Adapun output yang diharapkan dari kegiatan tersebut antara lain:
Menumbuhkan kecintaan membaca
Membiasakan siswa rajin berkunjung ke perpustakaan
Memahami budaya dan sejarah Sidrap agar tumbuh rasa percaya diri serta semangat belajar sepanjang hayat
Kegiatan bedah buku akan dipandu oleh Andi Herawati sebagai moderator.
Diskusi diharapkan menjadi ruang interaktif antara siswa dan penulis dalam memahami pentingnya sejarah lokal serta budaya literasi di era digital.
Lima Fakta Menarik Bedah Buku Hari Buku Nasional di SMKN 3 Sidrap
1. Digelar dalam Rangka Hari Buku Nasional 2026
Kegiatan menjadi bagian dari peringatan Hari Buku Nasional di lingkungan sekolah.
2. Penulisnya Adalah Kepala Sekolah
Rahmat Ahmad dikenal aktif sebagai penggiat literasi dan pendidikan.
3. Buku Bahas Sejarah Kerajaan Sidrap
Isi buku mengulas asal-usul Kerajaan Sidenreng dan Rappang hingga budaya lokal yang masih lestari.
4. Karya Penulis Sudah Diakui Nasional
Buku sebelumnya milik Rahmat Ahmad telah terpajang di Perpustakaan Nasional Jakarta.
5. Fokus Menumbuhkan Budaya Membaca Siswa
Kegiatan diarahkan untuk meningkatkan minat baca dan kecintaan terhadap perpustakaan.
Literasi Adalah Investasi Peradaban
Di tengah derasnya arus digital dan informasi instan, budaya membaca dan menulis menjadi fondasi penting dalam membangun generasi yang kritis, kreatif, dan berkarakter.
Melalui bedah buku “Sidenreng Rappang: Yang Berlalu dan Masih Lestari”, UPT SMKN 3 Sidenreng Rappang tidak hanya menghidupkan semangat literasi, tetapi juga menanamkan kebanggaan terhadap sejarah dan identitas daerah.
Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara teknologi, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga ingatan sejarah dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Dan dari ruang perpustakaan sekolah itulah, masa depan literasi Sidrap perlahan sedang dibangun.








