![]() |
CATATAN SAFARI DAKWAH DI BUKKERE, DAERAH TERPENCIL DESA BINAAN MUI SIDRAP |
NARASIRAKYAT.ID — Di balik hamparan perbukitan di wilayah Panca Lautang, terdapat sebuah dusun yang menyimpan cerita perjuangan sekaligus harapan: Bukkere. Daerah terpencil di Kabupaten Sidenreng Rappang ini kini menjadi salah satu fokus pembinaan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui program Safari Dakwah.
Catatan perjalanan ini disampaikan oleh Dr. Wahidin Ar-Raffany, yang juga menjabat sebagai pimpinan BAZNAS Sidrap dan Ketua MUI Baranti. Pengalaman langsung di lapangan menggambarkan betapa akses menuju Bukkere bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga refleksi tentang ketimpangan pembangunan.
Medan Berat, Akses Terbatas
Perjalanan menuju Bukkere dari pusat kota Pangkajene di Sidrap bisa memakan waktu hingga dua jam, meski jaraknya relatif tidak terlalu jauh. Hal ini disebabkan kondisi jalan yang masih didominasi tanah merah dan bebatuan.
Saat musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur licin dengan kubangan di berbagai titik. Sementara di musim kemarau, debu tebal menjadi tantangan tersendiri bagi pengendara. Medan perbukitan dengan tanjakan dan turunan tajam membuat kendaraan tertentu, terutama motor matic, tidak direkomendasikan.
Tak hanya itu, jalan sempit yang hanya cukup untuk satu kendaraan kerap memicu antrean panjang, terutama saat berpapasan dengan truk pengangkut hasil panen atau ternak.
Dampak Nyata bagi Kehidupan Warga
Kondisi infrastruktur yang terbatas membawa konsekuensi besar bagi masyarakat Bukkere. Distribusi hasil pertanian menjadi terhambat, menyebabkan biaya angkut melonjak dan harga jual tidak kompetitif.
Anak-anak sekolah pun kerap mengalami keterlambatan, terutama saat hujan deras. Dalam situasi darurat, akses layanan kesehatan menjadi tantangan serius karena kendaraan seperti ambulans sulit menjangkau lokasi dengan cepat.
Harga kebutuhan pokok di warung setempat juga cenderung lebih tinggi akibat biaya distribusi yang mahal.
Peran Strategis MUI: Dakwah yang Membumi
Melalui program Safari Dakwah, MUI tidak hanya hadir sebagai lembaga keagamaan, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial. Edukasi keagamaan dipadukan dengan motivasi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Menurut Dr. Wahidin Ar-Raffany, pendekatan ini menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat, terutama generasi muda, agar tetap melanjutkan pendidikan dan tidak terjebak dalam keterbatasan geografis.
“Dakwah tidak hanya tentang ibadah, tetapi juga membangun kesadaran untuk maju dan mandiri,” ujarnya.
Potensi Besar di Balik Keterpencilan
Meski akses sulit, Bukkere menyimpan potensi luar biasa. Tanah yang subur dan lingkungan yang masih asri menjadi modal besar untuk pengembangan sektor pertanian dan ekonomi berbasis desa.
Program pemerintah daerah seperti “jalan tani cor beton” dan “listrik masuk sawah” mulai digencarkan sebagai bagian dari upaya membuka isolasi wilayah ini. Harapan besar pun disematkan agar Bukkere bisa bertransformasi menjadi kawasan produktif dan sejahtera.
5 Fakta Menarik tentang Bukkere
Akses ekstrem: Kecepatan rata-rata kendaraan hanya 15–20 km/jam akibat kondisi jalan.
Medan perbukitan: Lokasinya berada di kawasan berbukit dengan tanjakan curam.
Ketergantungan musim: Kondisi jalan sangat dipengaruhi cuaca dan musim panen.
Biaya hidup tinggi: Harga barang lebih mahal karena distribusi sulit.
Potensi besar: Lahan subur dan alam asri menjanjikan masa depan cerah jika dikelola optimal.
Dari Keterbatasan Menuju Keberkahan
Bukkere adalah potret nyata bagaimana keterbatasan akses tidak memadamkan harapan. Justru dari daerah terpencil inilah lahir semangat perubahan yang digerakkan oleh kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga seperti MUI.
Safari Dakwah yang dilakukan bukan sekadar kunjungan, tetapi menjadi jembatan antara realitas dan harapan. Dengan perhatian serius terhadap infrastruktur dan pembangunan sumber daya manusia, Bukkere berpeluang menjadi simbol kebangkitan desa terpencil di Indonesia.








