![]() |
Komunitas Populi Institute Sukses Gelar Nobar Film “Pesta Babi” di Palopo Diserbu Ratusan Peserta, Solidaritas untuk Papua Menggema |
NARASIRAKYAT.ID — Ruang diskusi publik tentang kemanusiaan, konflik agraria, dan tanah adat Papua hadir dengan cara berbeda di Kota Palopo. Senin malam, 11 Mei 2026, Komunitas Populi Institute menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi di Warkop Kopingo, Jalan Islamic Center 1, Kecamatan Wara Selatan, Kota Palopo.
Film garapan Dandhy Dwi Laksono bersama tim Ekspedisi Indonesia Baru itu berhasil menyedot perhatian publik, khususnya kalangan mahasiswa, aktivis, komunitas literasi, hingga pegiat sosial di Palopo.
Pemutaran dimulai sekitar pukul 19.45 WITA dengan suasana yang penuh antusiasme. Sekitar 100 orang memadati lokasi kegiatan. Bahkan, sejumlah peserta terpaksa mengikuti jalannya pemutaran dari area luar warkop karena kapasitas ruangan tidak lagi mencukupi.
“Kami tidak menyangka yang datang sebanyak ini. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah hadir,” ujar Rifki, salah satu panitia kegiatan.
Atmosfer malam itu tidak sekadar menjadi agenda hiburan atau pemutaran film biasa. Nobar berubah menjadi ruang refleksi sosial yang mempertemukan banyak perspektif tentang Papua, masyarakat adat, dan realitas kemanusiaan yang jarang mendapat perhatian luas.
Film Dokumenter yang Membuka Ruang Percakapan Kritis
Film Pesta Babi mengangkat berbagai persoalan mendasar di Papua, mulai dari konflik agraria, perebutan tanah adat, relasi kuasa, hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal.
Usai pemutaran, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik yang menghadirkan tiga narasumber, yakni Zulkifli Safri, Karungga Pagawak, dan Amri.
Dalam pemaparannya, Amri menjelaskan bahwa pemutaran film tersebut sejalan dengan fokus kajian Populi Institute di bidang hukum, ekonomi, dan sosial.
“Film Pesta Babi cocok menjadi ruang diskusi karena berkaitan dengan isu-isu sosial dan kemanusiaan,” katanya.
Menurutnya, forum seperti ini penting untuk menghadirkan kesadaran kritis di tengah masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih peka terhadap persoalan kemanusiaan dan hak masyarakat adat.
Papua dari Sudut Pandang yang Jarang Ditampilkan
Salah satu sorotan utama dalam diskusi datang dari Karungga Pagawak. Ia menilai film tersebut berhasil memperlihatkan sisi Papua yang jarang muncul di ruang publik nasional.
“Film ini memperlihatkan kepada kita bahwa apa yang ditampilkan media tidak sepenuhnya menggambarkan kenyataan,” ujarnya.
Pernyataan itu memantik respons peserta diskusi yang aktif menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait kondisi sosial di Papua. Banyak peserta mengaku mendapatkan perspektif baru setelah menyaksikan film dokumenter tersebut.
Sementara itu, Zulkifli Safri membedah film dari sudut pandang politik dan relasi kekuasaan terhadap masyarakat adat. Ia menilai konflik tanah dan pembangunan sering kali melibatkan ketimpangan posisi antara masyarakat lokal dengan kekuatan ekonomi maupun kebijakan negara. Diskusi berlangsung terbuka dan dinamis hingga malam hari, namun tetap berjalan tertib dan kondusif.
Aparat Hadir Memantau, Acara Berlangsung Aman
Selama kegiatan berlangsung, aparat dari Polres Palopo dan Babinsa tampak hadir memantau jalannya acara. Kehadiran aparat tidak mengganggu jalannya diskusi maupun pemutaran film.
Panitia memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung damai hingga selesai. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan seruan solidaritas bertuliskan:
“Papua bukan tanah kosong.”
Kalimat tersebut menjadi simbol dukungan moral peserta terhadap masyarakat adat Papua yang dinilai masih menghadapi berbagai persoalan hak atas tanah dan ruang hidup.
Lima Fakta Menarik Nobar Film “Pesta Babi” di Palopo
1. Penonton Membludak di Luar Ekspektasi
Panitia awalnya tidak memperkirakan antusiasme peserta akan sebesar itu. Sekitar 100 orang hadir hingga memenuhi area luar warkop.
2. Film Mengangkat Isu Sensitif dan Humanis
Pesta Babi membahas konflik agraria, kemanusiaan, serta tanah adat Papua yang jarang dibicarakan secara terbuka di ruang publik daerah.
3. Diskusi Menghadirkan Perspektif Beragam
Mulai dari sudut pandang sosial, politik, hingga relasi kekuasaan terhadap masyarakat adat dibahas secara mendalam oleh para narasumber.
4. Peserta Didominasi Anak Muda dan Aktivis
Mahasiswa, komunitas literasi, pegiat sosial, dan aktivis tampak mendominasi jalannya kegiatan diskusi malam itu.
5. Seruan Solidaritas Jadi Penutup Emosional
Kalimat “Papua bukan tanah kosong” menggema di akhir acara sebagai bentuk solidaritas terhadap masyarakat adat Papua.
Ruang Diskusi yang Menumbuhkan Kepedulian
Kegiatan nobar film dokumenter seperti ini menunjukkan bahwa ruang-ruang kecil di daerah tetap memiliki peran penting dalam membangun kesadaran sosial masyarakat.
Di tengah derasnya arus informasi digital, diskusi langsung yang menghadirkan perspektif kritis menjadi semakin relevan. Nobar Pesta Babi di Palopo bukan hanya tentang menonton film, tetapi juga tentang membuka ruang dialog, mendengar suara-suara yang selama ini jauh dari pusat perhatian, dan menumbuhkan empati terhadap persoalan kemanusiaan.
Malam itu, di sudut sebuah warkop di Kota Palopo, ratusan orang memilih duduk bersama, menyimak, berdiskusi, dan belajar memahami realitas Papua dari sudut pandang yang lebih dekat dengan suara masyarakat adat.








