![]() |
Luar Biasa! Rezha Rahmatullah Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Teliti Arah Kiblat di Puncak Gunung Gunung Lompobattang 2.874 MDPL |
NARASIRAKYAT.ID — Semangat akademik dan keberanian menembus batas kembali ditunjukkan mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Seorang mahasiswa Program Studi Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar sukses mencuri perhatian publik melalui penelitian skripsi unik yang dilakukan langsung di kawasan pegunungan ekstrem.
Mahasiswa tersebut adalah Rezha Rahmatullah yang melaksanakan penelitian di puncak Gunung Lompobattang dengan ketinggian mencapai 2.874 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Penelitian yang berlangsung pada 15–17 Mei 2026 itu menjadi salah satu kajian lapangan yang terbilang langka karena menggabungkan disiplin ilmu falak dengan pendekatan ekologis dan fenomena alam.
Angkat Lumut sebagai Indikator Arah Kiblat
Dalam penelitian skripsinya, Rezha Rahmatullah mengangkat judul:
“Potensi Tumbuhan Lumut Sebagai Indikator Arah Kiblat: Kajian Pemanfaatan Alam dalam Penentuan Arah Kiblat (Studi Kasus di Gunung Lompobattang)”
Penelitian tersebut menyoroti pola pertumbuhan tumbuhan lumut yang diyakini memiliki kecenderungan tumbuh pada sisi tertentu akibat faktor kelembapan, intensitas cahaya matahari, dan kondisi lingkungan.
Fenomena alam itu kemudian dikaji sebagai salah satu indikator alami yang dapat membantu masyarakat menentukan arah kiblat, khususnya di wilayah alam terbuka atau daerah terpencil yang minim akses teknologi.
Pendekatan ini dinilai unik karena menghadirkan integrasi antara ilmu agama, sains lingkungan, dan observasi alam secara langsung.
Penelitian Ekstrem di Alam Terbuka
Melaksanakan penelitian di kawasan pegunungan bukanlah perkara mudah. Selama proses penelitian, mahasiswa harus menghadapi berbagai tantangan berat mulai dari perjalanan pendakian, perubahan cuaca ekstrem, hingga keterbatasan alat penelitian di alam terbuka.
Namun kondisi tersebut justru menjadi bagian dari perjuangan akademik yang memperlihatkan dedikasi tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.
“Gunung bukan hanya tempat pendakian, tetapi juga laboratorium alam untuk melahirkan inovasi keilmuan,” ungkap Rezha Rahmatullah.
Semangat tersebut memperlihatkan bahwa penelitian ilmiah tidak selalu harus dilakukan di ruang laboratorium modern, tetapi juga bisa lahir dari kedekatan manusia dengan alam.
Ilmu Falak Dikembangkan Lewat Pendekatan Alam
Penelitian ini sekaligus membuka perspektif baru bahwa ilmu falak tidak hanya berkaitan dengan astronomi modern, hisab, maupun perhitungan matematis arah kiblat.
Melalui pendekatan ekologis, ilmu falak dapat dikembangkan dengan memanfaatkan tanda-tanda alam yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tradisional.
Kajian tersebut diharapkan mampu memperluas wawasan masyarakat tentang hubungan antara alam, sains, dan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, penelitian ini juga menjadi contoh nyata berkembangnya studi interdisipliner antara ilmu agama dan ilmu lingkungan hidup di perguruan tinggi.
Tuai Apresiasi dan Jadi Inspirasi Akademik
Keberhasilan penelitian di ketinggian 2.874 MDPL tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak karena dinilai menghadirkan inovasi baru dalam dunia akademik, khususnya di lingkungan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Kajian tersebut dinilai memiliki nilai ilmiah yang kuat sekaligus relevan dalam pengembangan metode penentuan arah kiblat berbasis alam.
Lebih dari sekadar penelitian skripsi, langkah yang dilakukan Rezha Rahmatullah juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani melakukan riset inovatif yang berdampak bagi masyarakat.
Lima Fakta Menarik Penelitian Skripsi di Gunung Lompobattang
1. Dilakukan di Ketinggian 2.874 MDPL
Penelitian berlangsung langsung di puncak Gunung Lompobattang.
2. Bahas Lumut sebagai Penunjuk Kiblat
Kajian menghubungkan fenomena alam dengan ilmu falak.
3. Penelitian Gabungkan Sains dan Agama
Mengintegrasikan ilmu lingkungan, astronomi Islam, dan observasi alam.
4. Hadapi Medan dan Cuaca Ekstrem
Proses penelitian dilakukan di alam terbuka dengan tantangan berat.
5. Jadi Inspirasi Penelitian Interdisipliner
Membuka peluang pengembangan kajian ilmu agama berbasis lingkungan.
Dari Puncak Gunung untuk Inovasi Keilmuan
Di tengah perkembangan teknologi modern, penelitian yang dilakukan Rezha Rahmatullah menjadi pengingat bahwa alam tetap menyimpan banyak pelajaran dan inspirasi ilmiah bagi manusia.
Keberanian menembus medan ekstrem demi ilmu pengetahuan memperlihatkan bahwa semangat akademik sejati lahir dari rasa ingin tahu, ketekunan, dan keberanian menjelajah hal-hal baru.
Melalui penelitian ini, mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar membuktikan bahwa inovasi tidak mengenal batas ruang. Bahkan di puncak gunung sekalipun, ilmu pengetahuan dapat tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.








