-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

     



     

    Iklan

    Silviani Mahasiswi Peternakan UMS Rappang Temukan Formula Pengasinan Telur Itik yang Lebih Berkualitas

    Satry Polang
    Kamis, 11 Juni 2026, Juni 11, 2026 WIB Last Updated 2026-06-11T16:18:28Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

    Silviani Mahasiswi Peternakan UMS Rappang Temukan Formula Pengasinan Telur Itik yang Lebih Berkualitas



    NARASIRAKYAT  – Inovasi di bidang peternakan dan pengolahan pangan kembali lahir dari lingkungan akademik Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang). Melalui Seminar Hasil yang digelar Program Studi Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi (FAST) UMS Rappang, Kamis (11/6/2026), mahasiswi Peternakan, Silviani, memaparkan hasil penelitian yang berpotensi memberikan manfaat bagi pelaku usaha pangan dan peternak itik.


    Penelitian yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Berbagai Media Pengasinan terhadap Kualitas Organoleptik Telur Asin Itik” tersebut mengkaji efektivitas beberapa media pengasinan dalam menghasilkan telur asin dengan kualitas yang lebih baik dari segi warna, aroma, rasa, dan tekstur.


    Di tengah tingginya produksi telur itik di Kabupaten Sidenreng Rappang, penelitian ini dinilai relevan karena menawarkan informasi ilmiah yang dapat menjadi referensi dalam meningkatkan kualitas produk olahan telur asin yang memiliki nilai ekonomi tinggi.


    Mengangkat Potensi Lokal Menjadi Produk Bernilai Tambah

    Telur itik merupakan salah satu komoditas peternakan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan. Selain mudah diperoleh, telur itik juga dikenal memiliki kandungan protein, lemak, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi kesehatan.


    Namun, untuk meningkatkan daya simpan sekaligus nilai jualnya, telur itik sering diolah menjadi telur asin. Proses pengasinan yang tepat menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas produk akhir yang diterima konsumen.


    Berangkat dari kondisi tersebut, Silviani melakukan penelitian dengan membandingkan tiga media pengasinan yang umum digunakan masyarakat, yakni larutan air garam, abu gosok, dan serbuk bata merah.


    “Media pengasinan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas larutan air garam, abu gosok, dan serbuk bata merah. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan enam ulangan,” jelas Silviani saat mempresentasikan hasil penelitiannya.


    Serbuk Bata Merah Tunjukkan Hasil Terbaik

    Penelitian dilakukan dengan mengamati berbagai parameter organoleptik yang menjadi indikator kualitas telur asin, meliputi warna kuning telur, warna putih telur, aroma, rasa, serta tekstur.


    Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan media pengasinan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kualitas telur asin.


    Temuan menarik muncul pada aspek warna kuning telur dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media pengasinan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap warna kuning telur dan berpengaruh nyata terhadap cita rasa telur asin.


    Sementara itu, untuk parameter warna putih telur, aroma, serta tekstur putih dan kuning telur, perbedaan media pengasinan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.


    Yang paling menonjol adalah hasil perlakuan menggunakan serbuk bata merah (P3) yang menghasilkan nilai rata-rata tertinggi pada sebagian besar parameter organoleptik yang diamati.


    “Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa media serbuk bata merah merupakan media pengasinan yang paling efektif dalam menghasilkan kualitas organoleptik telur asin itik yang lebih baik dibandingkan media lainnya,” ungkap Silviani.


    Didukung Akademisi dan Praktisi Peternakan

    Seminar hasil tersebut dihadiri oleh tim penguji dan dosen pembimbing yang memiliki kompetensi di bidang peternakan dan teknologi hasil ternak.


    Tim penguji terdiri dari:

    • Ketua Penguji: Muh. Irwan, S.Pt., M.Si.

    • Sekretaris: Dr. Nurul Purnomo, S.Pt., M.Si.

    • Penelaah: Angga Nugraha, S.Pt., M.Pt.

    Sementara dosen pembimbing terdiri dari:

    • Armayani, M.S.Si., M.Si.

    • Dr. Musdalifa Mansur, S.Pt., M.Si.


    Ketua Penguji, Muh. Irwan, S.Pt., M.Si., memberikan apresiasi terhadap penelitian yang dinilai memiliki manfaat praktis dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.


    “Kami berharap penelitian ini tidak hanya menjadi syarat akademik, tetapi juga dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan produk pangan berbasis peternakan, khususnya pengolahan telur itik yang memiliki nilai ekonomis tinggi,” ujarnya.


    Lima Fakta Menarik Penelitian Silviani

    1. Menguji Tiga Media Pengasinan Sekaligus

    Penelitian membandingkan larutan air garam, abu gosok, dan serbuk bata merah untuk mengetahui media terbaik.

    2. Fokus pada Kualitas Organoleptik

    Penilaian dilakukan terhadap warna, rasa, aroma, dan tekstur yang menentukan tingkat penerimaan konsumen.

    3. Menggunakan Metode Ilmiah Terukur

    Penelitian menerapkan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan enam ulangan.

    4. Serbuk Bata Merah Jadi Juara

    Media serbuk bata merah menghasilkan skor tertinggi pada sebagian besar parameter yang diamati.

    5. Berpotensi Mendukung UMKM Pangan

    Hasil penelitian dapat menjadi referensi bagi pelaku usaha telur asin untuk meningkatkan kualitas produk dan daya saing di pasar.


    Dari Penelitian Kampus untuk Kemajuan Industri Pangan Lokal

    Penelitian yang dilakukan Silviani menunjukkan bahwa inovasi dalam sektor peternakan tidak selalu berkaitan dengan teknologi yang rumit. Terkadang, solusi terbaik justru lahir dari pengkajian ilmiah terhadap metode sederhana yang telah lama digunakan masyarakat.


    Melalui pendekatan ilmiah, penelitian ini berhasil memberikan informasi baru mengenai efektivitas media pengasinan telur itik yang dapat diterapkan oleh peternak, pelaku UMKM, maupun industri pengolahan pangan.


    Di tengah meningkatnya kebutuhan akan produk pangan berkualitas, hasil penelitian seperti ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi berbasis riset yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat.


    Karena sejatinya, ilmu pengetahuan akan memiliki nilai tertinggi ketika mampu menjawab kebutuhan nyata dan memberi manfaat bagi kehidupan banyak orang. Dari ruang seminar kampus, lahirlah gagasan yang berpotensi memperkuat sektor peternakan, meningkatkan nilai tambah produk lokal, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

    Komentar

    Tampilkan