-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     




     


     

     



     


     

     



     

    Iklan

    Diseminasi Mappamula Pertanian di Sidrap Dorong Menjaga Warisan Bugis untuk Pertanian Berkelanjutan

    Satry Polang
    Rabu, 15 Juli 2026, Juli 15, 2026 WIB Last Updated 2026-07-15T07:57:08Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250
    Diseminasi Mappamula Pertanian di Sidrap Dorong Menjaga Warisan Bugis untuk Pertanian Berkelanjutan


    SIDENRENG RAPPANG, NarasiRakyat.id – Di tengah derasnya arus modernisasi yang perlahan menggeser berbagai tradisi lokal, upaya melestarikan warisan budaya menjadi semakin penting. Semangat itulah yang mengemuka dalam Diseminasi dan Diskusi Umum Mappamula Pertanian kepada Generasi Muda Sidenreng Rappang yang digelar pada Ahad (12/7/2026) di Auditorium IAI DDI Sidenreng Rappang.


    Mengangkat tema "Mappamula Pertanian kepada Generasi Muda Sidenreng Rappang", kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi tentang pentingnya menjaga tradisi pertanian masyarakat Bugis sebagai bagian dari identitas budaya yang tetap relevan menghadapi tantangan pembangunan pertanian modern.


    Peserta yang terdiri atas mahasiswa, akademisi, guru, dan dosen mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias. Diskusi berlangsung dinamis, mempertemukan gagasan lintas generasi mengenai bagaimana nilai-nilai budaya lokal dapat terus hidup melalui inovasi, pendidikan, dan kolaborasi.


    Kegiatan dipandu oleh A. Rio Makkulau Wahyu, fasilitator sekaligus penerima Dana Hibah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Kementerian Kebudayaan Sulawesi Selatan.


    Dalam sambutannya, Rio menegaskan bahwa Mappamula Pertanian bukan sekadar tradisi seremonial sebelum musim tanam dimulai. Lebih dari itu, tradisi tersebut merupakan warisan budaya yang mengajarkan nilai kebersamaan, gotong royong, rasa syukur kepada Tuhan, serta penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan masyarakat.


    "Generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar nilai-nilai luhur ini tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Budaya harus diwariskan, dipahami, dan diaktualisasikan sesuai kebutuhan masa kini," ungkapnya.


    Tradisi yang Menjawab Tantangan Ketahanan Pangan

    Narasumber pertama, Ahmad Yani, membawakan materi bertajuk "Menghidupkan Tradisi Pertanian Masyarakat Bugis: Dari Ritual Menuju Ketahanan Pangan Berbasis Budaya."


    Ia menjelaskan bahwa Mappamula Pertanian memiliki makna yang jauh melampaui ritual adat. Tradisi tersebut mengandung nilai sosial, spiritual, sekaligus ekologis yang mampu memperkuat sistem pertanian berkelanjutan apabila terus dilestarikan.


    Menurutnya, pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan teknologi modern, tetapi juga perlu memperkuat fondasi budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.


    "Mappamula menjadi bukti bahwa masyarakat Bugis sejak dahulu telah membangun sistem pertanian yang selaras dengan alam, menjunjung kebersamaan, dan memperhatikan keseimbangan lingkungan," paparnya.


    Generasi Digital Jadi Garda Pelestarian Budaya

    Sementara itu, narasumber kedua, Trian Fisman Adisaputra, mengangkat tema "Mappamula Ase: Paradoks Masyarakat Urban."


    Ia menyoroti tantangan besar yang dihadapi budaya lokal di tengah urbanisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat.


    Menurutnya, generasi muda justru memiliki peluang besar untuk menghidupkan kembali tradisi melalui pendekatan kreatif, seperti dokumentasi digital, produksi konten edukatif, hingga pemanfaatan media sosial sebagai media promosi budaya.


    "Pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan dengan cara konvensional. Hari ini, media digital menjadi ruang baru untuk memperkenalkan identitas budaya Bugis kepada masyarakat yang lebih luas," jelasnya.


    Ruang Kolaborasi untuk Masa Depan Budaya Bugis

    Diskusi berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan dan gagasan bermunculan dari peserta mengenai strategi mempertahankan eksistensi Mappamula Pertanian di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.


    Forum ini menjadi wadah kolaborasi antara akademisi, budayawan, mahasiswa, guru, dan masyarakat dalam merumuskan langkah nyata menjaga keberlanjutan budaya lokal.


    Harapannya, Mappamula Pertanian tidak hanya dikenang sebagai tradisi masa lalu, tetapi juga mampu menjadi inspirasi dalam membangun sektor pertanian yang berkelanjutan, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus menjaga identitas budaya masyarakat Bugis, khususnya di Kabupaten Sidenreng Rappang.


    Lima Fakta Menarik

    • Mappamula Pertanian merupakan tradisi masyarakat Bugis yang sarat nilai syukur, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam.
    • Kegiatan difasilitasi oleh penerima Dana Hibah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 dari Kementerian Kebudayaan.
    • Peserta berasal dari kalangan mahasiswa, akademisi, guru, dan dosen yang aktif berdiskusi mengenai pelestarian budaya.
    • Tradisi Mappamula dinilai relevan dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan berbasis budaya.
    • Generasi muda didorong memanfaatkan media digital sebagai sarana dokumentasi, edukasi, dan promosi budaya Bugis.


    Melestarikan budaya bukan berarti hidup di masa lalu, melainkan membawa nilai-nilai luhur leluhur untuk menjawab tantangan masa depan. Mappamula Pertanian mengajarkan bahwa kemajuan pertanian tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi juga pada kebersamaan, rasa syukur, kepedulian terhadap alam, dan identitas budaya yang menjadi jati diri masyarakat Bugis. Dari Sidrap, semangat itu kembali ditanamkan kepada generasi muda sebagai bekal membangun pertanian yang maju, berkelanjutan, dan tetap berakar pada kearifan lokal.

    Komentar

    Tampilkan