![]() |
| IAI DDI Sidenreng Rappang Sukses Gelar PKM Edukasi Budaya Bugis, Perkuat Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal |
SIDRAP, NarasiRakyat.id – Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, upaya menjaga identitas budaya lokal menjadi tantangan sekaligus kebutuhan. Menjawab tantangan tersebut, Institut Agama Islam (IAI) DDI Sidenreng Rappang melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) sukses menyelenggarakan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk "Edukasi Budaya Bugis sebagai Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal."
Kegiatan yang berlangsung pada Ahad, 12 Juli 2026, di Auditorium IAI DDI Sidenreng Rappang ini diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas mahasiswa, pendidik, tokoh masyarakat, pemerhati budaya, serta berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya Bugis.
Mengusung semangat "Bersama Membangun Generasi Berkarakter, Berbudaya, dan Berdaya Saing di Era Modern," kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi mengenai pentingnya menjadikan nilai-nilai budaya Bugis sebagai fondasi dalam membentuk karakter generasi muda.
Ketua LP2M IAI DDI Sidenreng Rappang menghadirkan tiga narasumber yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan, keagamaan, dan pengembangan masyarakat, yakni Dr. H. Mansur, M.Ag., Hj. Maryati, S.Ag., M.A., dan A. Rio Makkulau Wahyu, M.E. Jalannya diskusi dipandu oleh Dr. Mujahidin, M.Pd.I. sebagai moderator yang berhasil menciptakan suasana dialog yang aktif, komunikatif, dan inspiratif.
Dalam pemaparannya, para narasumber menegaskan bahwa nilai-nilai luhur masyarakat Bugis tetap relevan diterapkan di era modern. Filosofi Sipakatau (saling memanusiakan), Sipakalebbi (saling menghargai), Sipakainge (saling mengingatkan), Lempu' (kejujuran), Getteng (keteguhan), serta Reso (kerja keras) dinilai menjadi fondasi penting dalam membentuk pribadi yang berintegritas, berakhlak mulia, serta memiliki daya saing global tanpa kehilangan jati diri budaya.
Rektor IAI DDI Sidenreng Rappang, Dr. H. Mansur, M.Ag., menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan mengembangkan nilai-nilai budaya lokal sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa.
"Budaya Bugis bukan sekadar warisan leluhur, tetapi merupakan sumber nilai yang sangat relevan dalam membangun karakter generasi masa kini. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, kami ingin menegaskan bahwa pendidikan karakter harus tumbuh dari akar budaya sendiri sehingga lahir generasi yang cerdas, berakhlak, dan tetap bangga terhadap identitas lokalnya," ujarnya.
Sementara itu, salah satu narasumber, Hj. Maryati, S.Ag., M.A., menekankan pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai budaya sejak usia dini.
Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan dan budaya yang hidup di lingkungan masyarakat.
Narasumber lainnya, A. Rio Makkulau Wahyu, M.E., menjelaskan bahwa kearifan lokal merupakan modal sosial yang sangat penting dalam menghadapi perubahan zaman.
"Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas budaya. Justru nilai-nilai lokal seperti kerja keras, kejujuran, saling menghormati, dan kepedulian sosial harus menjadi kekuatan utama masyarakat dalam menghadapi persaingan global," jelasnya.
Selain sesi pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan diskusi interaktif. Para peserta tampak antusias menyampaikan berbagai pertanyaan serta berbagi pengalaman mengenai penerapan nilai-nilai budaya Bugis di lingkungan keluarga, sekolah, hingga kehidupan bermasyarakat.
Diskusi berlangsung dinamis dan menghasilkan berbagai gagasan tentang pentingnya memperkuat pendidikan karakter berbasis budaya lokal sebagai upaya membangun masyarakat yang berintegritas dan harmonis.
Melalui kegiatan PKM ini, IAI DDI Sidenreng Rappang kembali menunjukkan komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang berdampak nyata. Edukasi budaya tidak hanya menjadi upaya pelestarian warisan leluhur, tetapi juga menjadi strategi membangun sumber daya manusia yang memiliki karakter kuat, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Lima Fakta Menarik
- Sekitar 100 peserta dari kalangan mahasiswa, pendidik, tokoh masyarakat, dan pemerhati budaya mengikuti kegiatan PKM di Auditorium IAI DDI Sidenreng Rappang.
- Kegiatan mengangkat tema "Edukasi Budaya Bugis sebagai Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal" sebagai respons terhadap tantangan globalisasi.
- Tiga narasumber utama, Dr. H. Mansur, M.Ag., Hj. Maryati, S.Ag., M.A., dan A. Rio Makkulau Wahyu, M.E., membahas pentingnya nilai budaya Bugis dalam pendidikan karakter.
- Nilai-nilai Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge, Lempu', Getteng, dan Reso menjadi fokus utama sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda.
- Kegiatan menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pelestarian budaya sekaligus pembangunan sumber daya manusia.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, budaya lokal tetap menjadi kompas yang menuntun arah perjalanan bangsa. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, IAI DDI Sidenreng Rappang menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur Bugis bukan sekadar warisan sejarah, melainkan fondasi yang relevan untuk membentuk generasi yang jujur, tangguh, saling menghormati, dan mampu bersaing di tingkat global. Ketika pendidikan dipadukan dengan kearifan lokal, lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam karakter dan bangga terhadap identitas budayanya. Inilah investasi terbaik untuk membangun masa depan Indonesia yang berakar pada nilai, berdaya saing, dan tetap menjunjung tinggi jati diri bangsa.















