![]() |
| Relawan Literasi Masyarakat Himpun Suara Guru di Porsenijar PGRI Sulsel 2026, Angkat Tantangan Pendidikan dan Harapan Masa Depan Generasi Bangsa |
SIDENRENG RAPPANG, NarasiRakyat.id – Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) PGRI Sulawesi Selatan 2026 bukan hanya menjadi panggung kompetisi dan silaturahmi bagi puluhan ribu guru. Di balik semarak kegiatan yang dipusatkan di Kabupaten Sidenreng Rappang pada 2–6 Juli 2026, tersimpan kisah-kisah inspiratif, tantangan profesi, hingga harapan besar para pendidik terhadap masa depan pendidikan Indonesia.
Momentum yang diikuti sekitar 72.000 guru dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan itu dimanfaatkan oleh Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Kabupaten Sidenreng Rappang untuk menghadirkan ruang dokumentasi yang berbeda. Melalui wawancara mendalam, Aryuni Juminarni, Relawan Literasi Masyarakat, menghimpun berbagai suara guru yang selama ini jarang terdengar di ruang publik.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan literasi yang tidak hanya berfokus pada budaya membaca, tetapi juga mendokumentasikan pengalaman hidup para pendidik sebagai sumber pembelajaran bagi masyarakat.
Mendengar Guru, Merawat Literasi
Berbeda dari liputan kegiatan pada umumnya, Aryuni memilih mendekati para guru secara personal. Ia mengajak mereka berbincang mengenai perjalanan mengajar, tantangan di sekolah, harapan terhadap dunia pendidikan, hingga pesan untuk generasi muda Indonesia.
Pertanyaan yang diajukan tidak hanya menyangkut identitas dan asal daerah, tetapi juga menggali pengalaman nyata selama menjadi pendidik.
Mulai dari berapa lama mengajar, dinamika di ruang kelas, tantangan menghadapi perkembangan zaman, hingga rekomendasi buku yang dinilai penting dibaca oleh sesama guru.
"Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga mendengar, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan pengalaman yang dapat menjadi pembelajaran bagi banyak orang. Porsenijar menjadi momentum yang tepat untuk mendengar langsung suara para guru dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan," ujar Aryuni Juminarni.
Pendekatan tersebut mencerminkan bahwa literasi dapat diwujudkan melalui dokumentasi pengalaman hidup yang kemudian menjadi inspirasi bagi masyarakat luas.
Tantangan Guru Kini: Membentuk Karakter di Era Digital
Dari berbagai wawancara yang dilakukan, muncul satu benang merah yang hampir disampaikan seluruh narasumber, yakni tantangan membentuk karakter peserta didik di tengah derasnya perkembangan teknologi digital.
Para guru mengakui bahwa tugas mereka saat ini jauh lebih kompleks dibanding sekadar menyampaikan materi pelajaran.
Mereka juga berperan sebagai pembimbing yang harus mengarahkan siswa agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, memiliki etika dalam bermedia sosial, menghormati guru dan orang tua, serta membangun karakter yang kuat sebagai bekal menghadapi masa depan
.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tidak hanya membutuhkan inovasi pembelajaran, tetapi juga penguatan pendidikan karakter sebagai fondasi utama.
Guru Berharap Pendidikan Menjadi Prioritas Bangsa
Selain berbagi pengalaman di ruang kelas, para guru juga menyampaikan berbagai harapan kepada pemerintah.
Isu kesejahteraan menjadi salah satu perhatian utama.
Sebagian guru berharap adanya peningkatan tunjangan, kepastian status bagi guru honorer maupun paruh waktu, perlindungan hukum dalam menjalankan profesi, serta kebijakan pendidikan yang lebih berpihak kepada peningkatan kualitas tenaga pendidik.
Menurut mereka, investasi terbaik bagi masa depan bangsa dimulai dari perhatian terhadap kualitas dan kesejahteraan guru sebagai ujung tombak pendidikan nasional.
Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, para guru juga menitipkan pesan kepada peserta didik dan generasi muda.
Mereka mengajak anak-anak Indonesia untuk terus belajar sepanjang hayat, membangun budaya membaca, memanfaatkan teknologi secara positif, serta menjaga akhlak dan karakter.
Menghormati guru dan orang tua dinilai tetap menjadi pondasi utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan kepedulian sosial.
Suara Guru Kini Hadir Melalui Media Sosial
Seluruh hasil wawancara yang dilakukan Aryuni Juminarni telah dikemas dalam format video singkat dan dipublikasikan melalui kanal Reels Instagram pada akun pribadinya @arynjmnrn.
Melalui platform digital tersebut, masyarakat diajak mendengarkan langsung cerita para guru dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
Dokumentasi ini diharapkan mampu memperluas ruang diskusi mengenai dunia pendidikan sekaligus memperkuat budaya literasi yang lebih inklusif dan berbasis pengalaman nyata.
Literasi Bukan Sekadar Membaca, Tetapi Mendokumentasikan Kehidupan
Gerakan yang dilakukan Relawan Literasi Masyarakat menunjukkan bahwa literasi memiliki makna yang jauh lebih luas.
Merekam pengalaman para guru, menyusun narasi, dan membagikannya kepada masyarakat merupakan bagian dari upaya membangun memori kolektif pendidikan.
Cerita-cerita sederhana tersebut dapat menjadi referensi berharga bagi pemerintah, akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat dalam memahami kondisi pendidikan secara lebih utuh.
Lima Fakta Menarik
1. Wawancarai Guru dari Berbagai Daerah
Relawan Literasi Masyarakat menghimpun pengalaman guru yang hadir dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.
2. Porsenijar Jadi Ruang Mendengar Suara Guru
Selain menjadi ajang olahraga dan seni, Porsenijar dimanfaatkan sebagai ruang dokumentasi pengalaman para pendidik.
3. Pendidikan Karakter Jadi Tantangan Terbesar
Mayoritas guru menilai perkembangan teknologi membuat pembentukan karakter siswa menjadi tantangan utama pendidikan saat ini.
4. Guru Sampaikan Harapan kepada Pemerintah
Mulai dari kesejahteraan, kepastian status guru honorer, perlindungan hukum, hingga peningkatan perhatian terhadap sektor pendidikan.
5. Dokumentasi Hadir di Media Sosial
Seluruh wawancara dikemas dalam video Reels Instagram sehingga masyarakat dapat mendengarkan langsung suara para guru.
Suara Guru Adalah Cermin Masa Depan Pendidikan
Di balik riuhnya pertandingan dan kemeriahan Porsenijar PGRI Sulawesi Selatan 2026, terdapat pesan yang jauh lebih mendalam: pendidikan tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan kurikulum, tetapi juga melalui pengalaman, dedikasi, dan suara para guru yang setiap hari mendampingi lahirnya generasi bangsa.
Inisiatif Relawan Literasi Masyarakat Kabupaten Sidenreng Rappang menjadi contoh bahwa gerakan literasi dapat diwujudkan dengan cara sederhana namun berdampak besar—mendengar, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan kisah-kisah inspiratif para pendidik.
Ketika pengalaman guru didengar dan dihargai, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memahami bahwa membangun pendidikan Indonesia berarti membangun manusia seutuhnya. Dari ruang kelas hingga ruang publik, suara guru akan selalu menjadi kompas yang menuntun arah masa depan bangsa.















