-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     




     


     

     



     


     

     



     

    Iklan

    Arsitektur Bugis Naik Kelas! Karya Mahasiswa UNISAN Sidrap Tampil di Forum Arsitektur Nasional APTARI 2026

    Satry Polang
    Jumat, 07 Agustus 2026, Agustus 07, 2026 WIB Last Updated 2026-08-07T22:07:35Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

     

    Arsitektur Bugis Naik Kelas! Karya Mahasiswa UNISAN Sidrap Tampil di Forum Arsitektur Nasional APTARI 2026

    GOWA — Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan tuntutan dunia arsitektur yang semakin modern, mahasiswa Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Ichsan Sidenreng Rappang (UNISAN Sidrap) memilih membawa satu pesan penting: kemajuan arsitektur tidak harus membuat sebuah daerah kehilangan identitas budayanya.


    Pesan tersebut diwujudkan melalui karya Arsitektur Lokal Bugis yang ditampilkan mahasiswa Arsitektur UNISAN Sidrap dalam Pameran Karya Mahasiswa Arsitektur pada rangkaian Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI) 2026.


    Kegiatan berlangsung di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Gowa, dan menjadi salah satu agenda penting Rakernas APTARI 2026.


    Pameran tersebut mempertemukan karya mahasiswa arsitektur dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam sebuah ruang akademik yang tidak hanya menjadi tempat memamerkan desain, tetapi juga menjadi ruang pertukaran gagasan tentang masa depan pendidikan arsitektur Indonesia.


    Ketika Arsitektur Bugis Menjadi Bahasa Masa Depan

    Rakernas APTARI 2026 mengusung tema:

    “Transformasi Pendidikan Arsitektur untuk Mewujudkan Arsitek Profesional Berkarakter dan Berkelanjutan: Dari Kearifan Lokal hingga Teknologi Masa Depan.”

     

    Tema tersebut menjadi konteks penting bagi kehadiran karya mahasiswa UNISAN Sidrap.

    Alih-alih sekadar menampilkan bentuk bangunan tradisional, karya yang dibawa mengangkat Arsitektur Lokal Bugis melalui eksplorasi bentuk rumah tradisional Bugis, filosofi ruang, sistem konstruksi, serta nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Bugis.


    Di sinilah karya tersebut mendapatkan relevansinya.

    Arsitektur tradisional tidak ditempatkan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang dapat dipelajari dan diterjemahkan kembali ke dalam konteks desain masa kini.


    Bagi mahasiswa arsitektur, pendekatan tersebut menjadi proses belajar untuk memahami bahwa sebuah bangunan memiliki hubungan erat dengan budaya, lingkungan, manusia, teknologi, dan identitas suatu daerah.


    Membawa Identitas Sulawesi Selatan ke Forum Nasional

    Keikutsertaan UNISAN Sidrap dalam Pameran Karya Mahasiswa APTARI 2026 sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan arsitektur Sulawesi Selatan kepada komunitas akademik arsitektur yang lebih luas.


    Melalui karya tersebut, mahasiswa membawa identitas lokal Bugis ke ruang pertemuan akademisi, praktisi, dosen, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.


    Ini menjadi pengalaman penting.

    Sebab, mahasiswa tidak hanya belajar menghasilkan karya untuk kebutuhan akademik di kampus, tetapi juga memperoleh pengalaman memperkenalkan gagasan mereka kepada publik akademik yang lebih luas.


    Dari Kearifan Lokal Menuju Desain Berkelanjutan

    Salah satu kekuatan arsitektur tradisional adalah kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat.

    Karena itu, mempelajari Arsitektur Bugis tidak berhenti pada persoalan bentuk visual rumah tradisional.


    Mahasiswa juga dituntut memahami filosofi ruang, hubungan manusia dengan lingkungan, pola kehidupan masyarakat, hingga sistem konstruksi yang membentuk karakter arsitektur tersebut.

    Pengetahuan itu kemudian dapat menjadi sumber inspirasi untuk menjawab tantangan arsitektur modern.


    Pendekatan semacam ini sejalan dengan semangat arsitektur berkelanjutan, ketika desain tidak hanya mengejar estetika, tetapi juga mempertimbangkan konteks lingkungan, budaya, kebutuhan pengguna, dan keberlanjutan identitas lokal.

    Dengan demikian, teknologi masa depan tidak harus berhadapan dengan tradisi.

    Keduanya dapat berjalan berdampingan.


    Kearifan lokal menjadi fondasi, sementara teknologi menjadi alat untuk mengembangkan dan menerjemahkannya ke dalam kebutuhan zaman.


    Dekan FT UNISAN: Arsitektur Bugis Harus Menjadi Sumber Inspirasi

    Dekan Fakultas Teknik Universitas Ichsan Sidenreng Rappang, Ir. Hasniar Baharuddin, S.T., M.Ars., menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam Pameran Karya APTARI merupakan bagian dari implementasi visi Program Studi Arsitektur dalam mengembangkan pembelajaran berbasis kearifan lokal.


    Menurutnya, Arsitektur Bugis memiliki nilai yang tidak hanya penting untuk dilestarikan, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai sumber inspirasi desain arsitektur masa kini.


    “Kami ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai Arsitektur Bugis tidak hanya layak dilestarikan sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi dalam melahirkan karya arsitektur yang inovatif, berkarakter, dan berkelanjutan sesuai dengan semangat transformasi pendidikan arsitektur yang diusung APTARI,” ungkapnya.

     

    Pernyataan tersebut memperlihatkan posisi penting pendidikan arsitektur dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan inovasi desain.


    Mahasiswa tidak diarahkan untuk sekadar mengulang bentuk tradisional, melainkan memahami nilai di baliknya dan mengembangkan interpretasi yang sesuai dengan kebutuhan masa depan.


    Pameran Menjadi Laboratorium Akademik bagi Mahasiswa

    Pameran APTARI 2026 juga memberikan pengalaman akademik yang berbeda bagi mahasiswa.

    Di ruang pamer, karya tidak hanya dinilai dari bagaimana tampilannya, tetapi juga dari gagasan yang melatarbelakanginya.


    Mahasiswa berkesempatan melihat bagaimana perguruan tinggi lain mengembangkan metode pembelajaran, pendekatan desain, teknologi, hingga eksplorasi isu arsitektur yang berbeda.

    Interaksi tersebut menciptakan ruang pembelajaran yang lebih luas.


    Bagi UNISAN Sidrap, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dan inspirasi untuk terus mengembangkan pembelajaran arsitektur yang menggabungkan budaya lokal, kreativitas desain, perkembangan teknologi, dan prinsip keberlanjutan.


    Lima Fakta Menarik Pameran Arsitektur UNISAN Sidrap di APTARI 2026

    1. Membawa tema Arsitektur Lokal Bugis
    Karya mahasiswa UNISAN Sidrap mengangkat identitas budaya Bugis melalui eksplorasi bentuk, filosofi ruang, sistem konstruksi, dan kearifan lokal.

    2. Tampil dalam forum pendidikan arsitektur tingkat nasional
    Karya tersebut dipamerkan dalam rangkaian Rakernas APTARI 2026 yang mempertemukan perguruan tinggi arsitektur dari berbagai wilayah Indonesia.

    3. Tidak sekadar melestarikan bangunan tradisional
    Pendekatan karya diarahkan untuk menggali nilai dan filosofi arsitektur Bugis agar dapat menjadi inspirasi bagi desain masa kini dan masa depan.

    4. Menghubungkan budaya lokal dengan teknologi
    Karya mencerminkan semangat transformasi pendidikan arsitektur: mempertahankan karakter budaya sekaligus terbuka terhadap perkembangan teknologi.

    5. Menjadi ruang belajar dan jejaring mahasiswa
    Pameran memberikan kesempatan bagi mahasiswa UNISAN Sidrap untuk bertukar wawasan dengan mahasiswa dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi.


    Menjaga Akar, Menatap Masa Depan

    Arsitektur sebuah daerah pada dasarnya merupakan bagian dari cerita masyarakat yang hidup di dalamnya.


    Ketika sebuah karya mahasiswa membawa Arsitektur Bugis ke forum nasional, yang ditampilkan bukan hanya sebuah desain.

    Di dalamnya terdapat cerita tentang identitas, filosofi, lingkungan, sejarah, dan cara masyarakat Bugis memahami ruang kehidupan.


    Namun, menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan.

    Justru tantangan terbesar generasi arsitek saat ini adalah bagaimana menjadikan warisan masa lalu sebagai modal untuk menciptakan masa depan.


    Mahasiswa Arsitektur UNISAN Sidrap telah menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat dibawa ke ruang akademik nasional dan dibicarakan dalam konteks transformasi pendidikan arsitektur.


    Dari Sulawesi Selatan, sebuah pesan sederhana tetapi kuat kembali disuarakan:

    Arsitektur boleh bergerak menuju masa depan, tetapi identitas tidak boleh ditinggalkan di belakang.


    Dan mungkin, di sanalah masa depan arsitektur Indonesia menemukan kekuatannya—ketika teknologi semakin maju, tetapi akar budaya tetap hidup dalam setiap gagasan yang dirancang.

    Komentar

    Tampilkan