-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Iklan

    Mahasiswa UNISAN Sidrap Bedah Filosofi Arsitektur Desa Penglipuran Bali

    Satry Polang
    Senin, 19 Oktober 2026, Oktober 19, 2026 WIB Last Updated 2026-10-19T19:29:01Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250
    Mahasiswa UNISAN Sidrap Bedah Filosofi Arsitektur Desa Penglipuran Bali


    BALI, NarasiRakyat.id  – Bagaimana sebuah desa mampu mempertahankan identitas budayanya di tengah perkembangan zaman? Pertanyaan itu menjadi salah satu pelajaran penting bagi mahasiswa Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Ichsan Sidenreng Rappang (UNISAN Sidrap) saat melaksanakan Studi Kerja Lapangan (SKL) di Desa Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, pada Oktober 2026.


    Di desa yang dikenal dengan keteraturan tata ruang dan kuatnya tradisi masyarakat tersebut, mahasiswa tidak sekadar melihat bentuk bangunan. Mereka mempelajari bagaimana arsitektur, budaya, dan lingkungan dapat saling terhubung untuk membentuk ruang hidup yang memiliki karakter.


    Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual bagi calon arsitek untuk memahami konsep arsitektur neo-vernakular, yakni pendekatan perancangan yang menggali nilai dan karakter arsitektur lokal, kemudian mengadaptasinya sesuai kebutuhan masa kini.


    Bagi mahasiswa Arsitektur UNISAN Sidrap, kunjungan ini juga membuka ruang untuk melihat kembali kekayaan arsitektur tradisional Bugis dan potensinya sebagai sumber inspirasi desain masa depan.


    Desa Penglipuran, Ruang Belajar tentang Identitas Arsitektur


    Desa Penglipuran dipilih sebagai lokasi studi karena memperlihatkan hubungan yang erat antara tata ruang permukiman, bentuk bangunan, penggunaan material, serta kehidupan sosial dan budaya masyarakat.


    Keteraturan lingkungan desa menjadi objek pengamatan yang menarik. Mahasiswa dapat melihat bagaimana susunan bangunan, jalur sirkulasi, gerbang tradisional atau angkul-angkul, dan ruang bersama membentuk karakter kawasan yang mudah dikenali.


    Dalam konteks pembelajaran arsitektur, kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa kualitas sebuah lingkungan binaan tidak hanya ditentukan oleh keindahan bangunan secara individual. Hubungan antarruang, keselarasan dengan lingkungan, serta nilai yang hidup di tengah masyarakat turut membentuk identitas suatu kawasan.


    Melalui pengamatan langsung, mahasiswa memiliki kesempatan untuk menghubungkan teori yang dipelajari di ruang kuliah dengan kondisi nyata di lapangan.


    Menggali Makna di Balik Konsep Neo-Vernakular


    Salah satu fokus utama kegiatan SKL ini adalah memahami penerapan prinsip arsitektur neo-vernakular.


    Pendekatan tersebut berupaya menghadirkan kembali nilai-nilai lokal dalam rancangan arsitektur modern. Namun, penerapannya tidak berhenti pada peniruan bentuk bangunan tradisional atau penggunaan ornamen khas suatu daerah.


    Lebih dari itu, arsitektur neo-vernakular mendorong perancang untuk memahami prinsip yang melatarbelakangi sebuah tradisi arsitektur, mulai dari respons terhadap iklim, pemilihan material, pola ruang, hubungan sosial, hingga filosofi budaya.


    Di Desa Penglipuran, mahasiswa dapat mengamati bagaimana karakter arsitektur dan tradisi masyarakat hadir dalam lingkungan permukiman. Pengamatan tersebut menjadi bahan untuk menelaah bagaimana nilai lokal dapat dipertahankan sekaligus dikembangkan dalam perancangan bangunan masa kini.


    Pembelajaran ini penting agar modernisasi tidak selalu berujung pada hilangnya karakter lokal. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi sumber gagasan untuk menghasilkan desain yang kontekstual, fungsional, dan berkelanjutan.


    Lima Fakta Menarik yang Dipelajari Mahasiswa


    1. Tata ruang menjadi bagian dari identitas desa

    Karakter sebuah permukiman tidak hanya dibentuk oleh rumah-rumah yang berdiri di dalamnya. Pola jalan, susunan bangunan, sirkulasi, dan hubungan antarruang turut menentukan wajah kawasan.


    2. Angkul-angkul bukan sekadar pintu masuk

    Gerbang tradisional Bali menjadi salah satu elemen yang dapat diamati untuk memahami hubungan antara bentuk arsitektur, batas ruang, dan identitas budaya masyarakat.


    3. Material lokal menyimpan pengetahuan lingkungan

    Pemilihan material dalam arsitektur tradisional berkaitan dengan ketersediaan sumber daya, keterampilan masyarakat, kondisi setempat, dan karakter bangunan. Prinsip ini relevan untuk dikaji dalam perancangan yang memperhatikan keberlanjutan.


    4. Arsitektur berkaitan erat dengan kehidupan sosial

    Ruang hunian dan ruang bersama tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan, nilai, serta interaksi masyarakat. Karena itu, memahami arsitektur juga berarti memahami cara masyarakat menggunakan dan memaknai ruang.


    5. Rumah adat Bugis dan arsitektur Bali membuka ruang perbandingan

    Mahasiswa dapat mengkaji perbedaan maupun persamaan antara arsitektur tradisional Bali dan rumah panggung Bugis, termasuk sistem struktur, organisasi ruang, respons terhadap lingkungan, serta nilai filosofisnya.


    Kelima aspek tersebut menjadi bahan pembelajaran untuk melihat bahwa setiap tradisi arsitektur memiliki karakter tersendiri yang dapat dikaji tanpa harus menghilangkan keunikannya.


    Dari Penglipuran ke Rumah Panggung Bugis


    Bagi mahasiswa Arsitektur UNISAN Sidrap, pengalaman di Bali memiliki relevansi dengan kekayaan budaya daerah asal mereka.


    Rumah panggung Bugis, misalnya, menawarkan beragam aspek yang dapat dipelajari, mulai dari struktur bangunan, pembagian ruang, hubungan dengan kondisi lingkungan, hingga makna sosial dan filosofis yang melekat pada rumah.


    Perbandingan dengan arsitektur Bali bukan bertujuan menentukan tradisi mana yang lebih baik. Sebaliknya, proses tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa arsitektur lokal berkembang melalui hubungan panjang antara manusia, lingkungan, teknologi, dan kebudayaan.


    Dari sini, muncul peluang untuk mengembangkan rancangan yang berakar pada identitas Bugis, tetapi tetap menjawab kebutuhan masyarakat modern.


    Pemanfaatan teknologi konstruksi, peningkatan kenyamanan, efisiensi energi, serta kebutuhan ruang yang terus berubah dapat dipertimbangkan tanpa harus menghapus nilai-nilai lokal yang menjadi dasar perancangan.


    Membentuk Calon Arsitek yang Peka terhadap Budaya


    Studi Kerja Lapangan menjadi salah satu sarana pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan observasi, analisis ruang, dan pemahaman terhadap lingkungan binaan.


    Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi karakter arsitektur, membaca hubungan antara bentuk dan fungsi, serta memahami konteks budaya dalam proses perancangan.


    Pengalaman lapangan juga memberikan perspektif bahwa arsitek tidak hanya bertugas menghasilkan bangunan yang menarik secara visual. Seorang arsitek perlu mempertimbangkan siapa yang menggunakan ruang, bagaimana bangunan berinteraksi dengan lingkungannya, serta nilai apa yang ingin dipertahankan melalui desain tersebut.


    Bagi Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik UNISAN Sidrap, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan mahasiswa mengenai pelestarian warisan arsitektur dan pengembangan desain yang inovatif.


    Pembelajaran di lapangan diharapkan dapat memperkuat kemampuan mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata dalam perancangan bangunan maupun kawasan permukiman.


    Tradisi Bukan Penghalang Kemajuan


    Kunjungan ke Desa Penglipuran membawa satu pesan penting bagi dunia arsitektur: kemajuan tidak harus menghapus tradisi.


    Arsitektur masa kini dapat berkembang melalui teknologi dan inovasi, sementara nilai lokal tetap menjadi sumber identitas dan inspirasi. Kuncinya terletak pada kemampuan memahami tradisi secara mendalam, bukan sekadar mengambil bentuk luarnya.


    Bagi mahasiswa Arsitektur UNISAN Sidrap, pengalaman ini diharapkan menjadi bekal untuk menghasilkan gagasan desain yang lebih peka terhadap budaya, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.


    Sebab, bangunan yang baik bukan hanya bangunan yang berdiri kokoh atau terlihat indah. Bangunan yang bermakna adalah bangunan yang mampu menjawab kebutuhan penggunanya, menghargai lingkungan, serta tetap memiliki hubungan dengan identitas tempatnya.


    Dari Desa Penglipuran, mahasiswa membawa pulang lebih dari sekadar catatan lapangan. Mereka memperoleh perspektif bahwa arsitektur lokal bukan peninggalan masa lalu yang harus ditinggalkan, melainkan warisan pengetahuan yang dapat terus dikembangkan untuk masa depan.

    Komentar

    Tampilkan