-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     

     


     



     

    Iklan

    Aidil Rifky Ramadan Belajar Berani, Bertumbuh, dan Memberi Makna di Usia Muda

    Satry Polang
    Kamis, 01 Januari 2026, Januari 01, 2026 WIB Last Updated 2026-01-02T03:01:47Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

    Aidil Rifky Ramadan Belajar Berani, Bertumbuh, dan Memberi Makna di Usia Muda



    Penulis: Nur Sisi
    Mata Kuliah: Penulisan Kreatif untuk PR
    Jurusan: Ilmu Komunikasi
    Universitas: Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

    NARASIRAKYAT — Di berbagai ruang diskusi kepemudaan, kegiatan edukasi remaja, hingga forum sosial, nama Aidil Rifky Ramadan kerap disebut sebagai representasi anak muda yang tumbuh melalui proses panjang, penuh kesadaran, dan keberanian. Di usianya yang baru 21 tahun, Aidil dikenal sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar yang aktif, rendah hati, dan konsisten mengembangkan diri dengan keluar dari zona nyaman.

    Sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara, Aidil tumbuh dalam keluarga sederhana yang mengajarkannya makna syukur, kesabaran, dan kebersamaan. Hidup sederhana bagi sebagian orang mungkin identik dengan keterbatasan, namun bagi Aidil, keluarganya adalah ruang belajar pertama—tempat ia memahami bahwa setiap manusia memiliki waktu dan jalannya masing-masing. Dari sanalah ia belajar menerima diri, menghargai proses, dan menanamkan empati sejak dini.


    Perjalanan Aidil tidak dimulai dengan kepercayaan diri yang utuh. Berdiri di depan umum dulu adalah hal yang membuatnya gemetar. Namun, alih-alih menjauh dari rasa takut itu, Aidil justru menumbuhkan rasa penasaran: bukan hanya ingin bisa berbicara, tetapi ingin berani. Keinginan itulah yang membawanya melangkah mengikuti ajang pemilihan duta untuk pertama kalinya.

    Ketakutan akan gagal dan rasa malu sempat menghantuinya. Namun Aidil memahami satu hal penting: keberanian bukan berarti tanpa rasa takut, melainkan tetap melangkah meski hati bergetar. Usaha itu berbuah hasil ketika pada tahun 2023, ia meraih Juara III Putra Duta Lingkungan Hidup Kabupaten Gowa. Sejak saat itu, panggilan “Pak Duta” bukan sekadar sapaan, melainkan pengingat bahwa setiap orang memiliki ruang untuk tumbuh jika berani mencoba.


    Perjalanan Aidil tidak selalu berjalan mulus. Ia kerap berada dalam situasi di mana tanggung jawab datang bersamaan dengan proses belajar. Mengikuti kegiatan sambil memahami peran, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, dan menjalankan amanah menjadi bagian dari kesehariannya. Prinsip belajar sambil berjalan menjadi cara Aidil bertahan.

    Ada masa lelah, jenuh, dan keinginan untuk menyerah datang bersamaan. Namun ia meyakini bahwa setiap proses berat kelak akan menjadi pelajaran berharga. Baginya, *“jika berproses adalah luka, maka bertahan adalah bentuk cinta”—*cinta pada diri sendiri, pada mimpi, dan pada tujuan hidup.


    Keputusan paling berani dalam hidup Aidil datang saat ia terpilih sebagai Duta Generasi Berencana (GenRe). Posisi tersebut menuntutnya tampil di hadapan banyak orang, memimpin kegiatan, dan menghadapi berbagai pandangan. Rasa takut tetap hadir, namun ia memilih melangkah karena tidak ingin hanya menjadi penonton. Ia ingin memberi dampak.

    Melalui program edukasi dan pendampingan remaja, Aidil belajar memahami bahwa setiap individu memiliki latar belakang dan pergulatan hidup yang berbeda. Dari sana, ia tumbuh menjadi pribadi yang lebih empatik dan tidak mudah menghakimi. Ia menyadari bahwa perubahan besar sering kali lahir dari tindakan kecil yang dilakukan dengan ketulusan.


    Salah satu momen paling membekas bagi Aidil terjadi ketika seorang remaja menghampirinya seusai kegiatan dan mengatakan bahwa program yang dijalankan membuatnya lebih percaya diri dan berani berbicara. Di saat itu, semua rasa lelah dan ragu terasa terbayar.

    Aidil menyadari bahwa bagian terpenting dari perjalanannya bukanlah gelar atau penghargaan, melainkan kesempatan untuk menciptakan ruang aman bagi orang lain—tempat bertumbuh, berbagi cerita, dan berani bermimpi. Baginya, kesuksesan bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi tentang konsistensi menghadirkan manfaat bagi sekitar.

    Jika bisa berbicara kepada dirinya di masa lalu, Aidil ingin berkata, “Terima kasih sudah bertahan. Teruslah melangkah. Semua proses yang terasa berat hari ini sedang membentukmu menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih peduli.”

    Kepada generasi muda yang tengah berjuang, ia menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: tidak perlu merasa tertinggal hanya karena proses hidup kita berbeda. Setiap langkah kecil hari ini sedang mempersiapkan masa depan yang lebih baik, sebab pada akhirnya, perjalanan hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang paling tulus bertahan dan terus menghadirkan kebaikan bagi orang lain.

    Komentar

    Tampilkan