![]() |
Nesyi Sifra Dari Jalan Kaki Dua Kilometer ke Sekolah, Hingga Melangkah ke Istana Negara |
NARASIRAKYAT — Di bawah langit cerah Kota Makassar, pada 9 Agustus 1996, lahirlah seorang perempuan tangguh bernama Nesyi Sifra. Ia tumbuh bukan dari kisah serba mudah, melainkan dari didikan keras penuh kasih yang menempa kemandirian sejak dini. Ibunya, perempuan berdarah Ambon-Belanda yang kemudian diangkat sebagai PNS di Makassar, menjadi sosok sentral pembentuk karakter Nesyi. Sementara sang ayah tetap tinggal di Ambon, Nesyi dibesarkan bersama ibu dan kakak laki-lakinya di Makassar.
Sejak kecil, Nesyi diajarkan untuk berdiri di atas kakinya sendiri. “Walaupun perempuan, harus bisa mengurus diri sendiri,” menjadi kalimat yang terus terpatri. Ia terbiasa berangkat sekolah sendiri, mencuci pakaian, menyelesaikan tanggung jawab tanpa bergantung pada orang lain. Aktivitas organisasi yang dijalaninya sejak usia dini melatih mental bertahan, membentuk karakter mandiri yang kelak menjadi fondasi perjalanan hidupnya.
Jejak pendidikan Nesyi adalah kisah ketekunan. Saat duduk di bangku SD Inpres Baddoka, jarak rumah ke sekolah mencapai sekitar dua kilometer. Berangkat sekolah kerap menumpang orang lain, sementara pulang harus ditempuh dengan berjalan kaki di bawah terik matahari Makassar. Namun, langkah kecil itu justru menguatkan tekadnya.
Selepas SMP Negeri 9 Makassar, kesempatan besar datang saat ia menerima Beasiswa Sampoerna Akademik di Bogor selama tiga tahun. Merantau ke Jawa mempertemukannya dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia, mengajarkannya beradaptasi dengan perbedaan budaya, serta mengasah daya juang untuk bertahan hidup mandiri.
Kembali ke Makassar, Nesyi melanjutkan pendidikan di Universitas Hasanuddin, mengambil Ilmu Komunikasi konsentrasi Broadcasting, kemudian melanjutkan S2 Manajemen. Dari perjalanan akademiknya, ia menarik satu kesimpulan sederhana namun mendalam:
“Ada banyak kesempatan dalam hidup, asal kita mau belajar dan menggali potensi diri.”
Usai kuliah, jalan hidup Nesyi kembali berliku. Ia sempat merantau ke Kediri, Jawa Timur, hampir setahun. Sekembali ke Makassar, ia bergabung dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan terlibat langsung mengawal Pemilihan Wali Kota Makassar 2020 selama satu tahun penuh.
Puncak pengalaman yang paling membekas datang saat Nesyi diterima magang di Istana Negara, di bawah naungan Juru Bicara Presiden RI saat itu, Fajrul Rahman.
“Itu kehormatan langka,” ujarnya.
Pengalaman di jantung pemerintahan tersebut menjadi titik balik penting dalam hidupnya—membuka jejaring, memperluas wawasan, dan memantapkan kepercayaan diri.
Dari Istana Negara, pintu baru terbuka. Seorang teman sejak masa orientasi universitas mendirikan Kaku Food, bisnis di bidang Food and Beverage. Awalnya, Nesyi bergabung tanpa rencana besar. Namun, berbekal kemampuan broadcasting, pengalaman di depan dan belakang kamera, ia mulai menikmati dunia marketing komunikasi.
Dengan prinsip learning by doing, Nesyi belajar dari nol. Perlahan, ia berhasil merumuskan formula konten yang efektif dan menarik untuk divisi Marketing Communication (Markom) Kaku Food. Hingga kini, ia tetap berkarya dan tumbuh bersama tim yang ia sebut sebagai keluarga.
Bagi Nesyi, setiap fase hidup—baik manis maupun pahit—adalah bagian dari penghargaan terhadap usaha diri sendiri. Meski bangga dengan seluruh perjalanan yang ditempuh, pengalaman magang di Istana Negara menjadi titik paling membanggakan karena membuka jalan menuju karier yang kini ia jalani.
Prinsip hidupnya sederhana, namun sarat makna:
“Kerjakan segala sesuatu dengan maksimal. Keluarkan potensi terbaikmu. Usaha tak pernah sia-sia jika dilakukan dengan sungguh-sungguh. Motivasi diri sendiri, karena kemauan akan melahirkan usaha.”
Kisah Nesyi Sifra bukan sekadar perjalanan dari Makassar menuju Istana Negara. Ia adalah bukti bahwa kemandirian, kemampuan beradaptasi, dan kerja maksimal mampu mengubah arah hidup seseorang. Dari langkah kecil—berjalan kaki dua kilometer menuju sekolah—hingga menjejakkan kaki di pusat kekuasaan negara, Nesyi menunjukkan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu jauh untuk diraih.
Bagi generasi muda, kisah ini menyampaikan pesan sederhana namun kuat:
“Mulailah dari langkah kecil, sekecil apa pun itu. Dunia akan membuka pintu besar bagi mereka yang tidak berhenti melangkah.”







