![]() |
Kisah Inspiratif Muhammad Arya Mahasiswa Arsitektur Unisan Sidrap, Kuliah Sambil Mengabdi di Pesantren dan Mengajar Al-Qur’an |
NARASIRAKYAT — Di tengah tuntutan akademik yang padat, tidak sedikit mahasiswa yang memilih fokus pada perkuliahan semata. Namun, hal berbeda ditunjukkan oleh Muhammad Arya, mahasiswa Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Ichsan Sidenreng Rappang (Unisan Sidrap), yang mampu menyeimbangkan antara dunia akademik dan pengabdian sosial-keagamaan.
Mahasiswa semester IV ini dikenal sebagai sosok yang aktif, disiplin, dan memiliki semangat pengabdian tinggi. Selain menjalani perkuliahan di kampus, Arya juga membina santri di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Tasbeehatul Qur’an yang berlokasi di Desa Tonrong, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidrap.
Tidak berhenti di situ, Arya juga mengabdikan dirinya sebagai pengajar Al-Qur’an bagi anak-anak usia kelas IV SD hingga SMP di wilayah Kabupaten Pinrang, tepatnya di Kecamatan Watang Sawitto. Aktivitas tersebut dijalani secara konsisten di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa Arsitektur yang dikenal memiliki beban tugas cukup berat dan banyak menghabiskan waktu di laboratorium.
Dalam keterangannya, Arya mengungkapkan bahwa memilih jurusan Arsitektur bukanlah hal yang bertentangan dengan nilai keagamaannya. Menurutnya, menuntut ilmu di bidang apa pun tetap memiliki nilai ibadah selama dijalani dengan niat yang baik dan penuh tanggung jawab.
“Menurut saya, dalam beragama harus tetap memiliki batasan, tetapi bukan berarti tidak boleh menempuh jurusan umum. Selama niatnya baik dan dijalani dengan sungguh-sungguh, insyaallah bisa seimbang,” ungkap Arya.
Terkait pembagian waktu antara kuliah dan aktivitas pesantren, Arya mengakui bahwa tantangan pasti ada. Namun, dukungan dari dosen serta bimbingan senior di lingkungan Fakultas Teknik Unisan Sidrap menjadi faktor penting yang membantunya bertahan dan berkembang.
“Alhamdulillah, meskipun tugas Arsitektur cukup banyak dan menantang, dengan bantuan dosen dan senior, semuanya bisa dilalui,” tambahnya.
Saat ini, Arya menetap di lingkungan pesantren. Soal penghasilan, ia menyebut bahwa aktivitas mengajar dan membina santri tidak selalu berorientasi pada materi.
“Alhamdulillah, ada-ada saja rezeki yang datang. Yang penting niatnya mengabdi,” ujarnya.
Atas dedikasi, prestasi, dan latar belakang ekonominya, Muhammad Arya juga tercatat sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, yang diberikan kepada mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Pihak universitas menilai aktivitas yang dijalani Arya sebagai bentuk prestasi non-akademik yang patut diapresiasi dan diangkat ke publik. Hal ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Unisan Sidrap tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif memberi kontribusi nyata kepada masyarakat.
Lima Fakta Menarik Muhammad Arya
Mahasiswa Arsitektur yang Aktif Mengabdi
Menempuh studi Arsitektur sambil membina santri dan mengajar Al-Qur’an di dua kabupaten.Tinggal di Lingkungan Pesantren
Saat ini menetap di pesantren untuk mendukung aktivitas pembinaan santri secara langsung.Mengajar Anak SD hingga SMP
Aktif mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak usia sekolah dasar hingga menengah pertama.Penerima KIP Kuliah
Terdaftar sebagai mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar karena prestasi dan kondisi ekonomi.Didukung Lingkungan Kampus
Mendapat dukungan dari dosen dan senior sehingga mampu menyelesaikan tugas akademik tepat waktu.
Kisah Muhammad Arya menjadi cerminan nyata bahwa dunia akademik dan pengabdian sosial dapat berjalan beriringan. Dengan semangat belajar, keikhlasan mengabdi, serta dukungan lingkungan kampus, mahasiswa Unisan Sidrap mampu tumbuh menjadi insan berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat. Sosok seperti Arya menegaskan bahwa prestasi tidak selalu diukur dari nilai akademik semata, tetapi juga dari kontribusi nyata yang diberikan kepada umat dan lingkungan sekitar.







.jpeg)
