![]() |
Sidrap sebagai Lumbung Kehidupan dan Peradaban |
Penulis : Sumartan, S.E., M.P., dosen pertanian Universitas Ichsan Sidenreng Rappang
NARASIRAKYAT — Julukan Sidrap Lumbung bukan sekadar slogan pembangunan daerah. Ia merupakan refleksi perjalanan panjang masyarakat Kabupaten Sidenreng Rappang dalam merawat kehidupan secara utuh—dari pangan, energi, ilmu pengetahuan, hingga nilai kebajikan spiritual. Dalam narasi besar pembangunan daerah, Sidrap hadir dengan empat wajah utama: Lumbung Beras Indonesia, Lumbung Telur Indonesia, Lumbung Energi Terbarukan Indonesia, dan Lumbung Penghafal Al-Qur’an Indonesia.
Keempatnya berpijak pada fondasi yang sama: kerja keras, ketekunan, dan kebersamaan yang tumbuh kuat dalam karakter masyarakat agraris. Di Sidrap, kata lumbung tidak hanya dimaknai sebagai bangunan penyimpanan padi, melainkan telah menjelma menjadi identitas kolektif dan cara hidup.
Lumbung adalah simbol tangan-tangan petani yang sabar menanam, keluarga tani yang tekun merawat sawah, serta harapan akan kehidupan berkelanjutan yang diwariskan lintas generasi. Ia menjadi ruang tempat hasil jerih payah disimpan, dijaga, dan dimaknai dengan penuh kesadaran—bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan.
Makna ini semakin dalam ketika lumbung dipahami bukan sekadar sebagai penyimpan hasil bumi, melainkan juga sebagai penyimpan nilai, pengetahuan, dan kebijaksanaan hidup. Pandangan tersebut disampaikan oleh Sumartan, S.E., M.P., dosen pertanian Universitas Ichsan Sidenreng Rappang, yang menempatkan lumbung Sidrap dalam konteks sejarah dan peradaban yang lebih luas.
“Bagi saya, Sidrap bukan hanya lumbung pangan, tetapi lumbung peradaban. Jauh sebelum dikenal sebagai lumbung beras atau telur, Sidrap telah lebih dahulu menjadi tanah suburnya panre atau panrita—orang-orang yang ahli dan tekun dalam bidangnya. Di sinilah lahir Panre Bessi, Panre Bola, Panre Ada, Panre Tana Tappa, hingga Panre Ulaweng. Itu menandakan bahwa lumbung di Sidrap tidak hanya menyimpan hasil bumi, tetapi juga menyimpan ilmu, keterampilan, dan nilai hidup yang diwariskan lintas generasi,” ungkapnya.
Secara historis, masyarakat Sidrap telah melahirkan beragam panre—ahli dalam berbagai bidang kehidupan. Panre Bessi menempa besi menjadi alat kerja dan simbol ketahanan. Panre Bola membangun rumah panggung Bugis dengan ketelitian teknis dan filosofi ruang hidup. Panre Ada menguasai bahasa lise’ sebagai bentuk kecanggihan logika dan filsafat tutur. Panre Tana Tappa mengolah batu merah, sementara Panre Ulaweng menempa emas dengan presisi dan kehalusan rasa.
Semua itu menegaskan bahwa Sidrap sejak lama adalah lumbung keahlian, tempat ilmu tumbuh dari praktik hidup dan diwariskan secara turun-temurun.
Dalam konteks fisik, lumbung berfungsi menyimpan padi dan hasil panen agar tetap aman dan siap dimanfaatkan. Bentuknya yang berpanggung mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga ketahanan pangan. Namun di Sidrap, lumbung juga mengajarkan nilai kesabaran, pengendalian diri, dan tanggung jawab sosial—bahwa rezeki tidak dihabiskan sekaligus, tetapi dijaga dan dibagikan dengan bijak.
Tak heran, Sidrap kemudian dikenal sebagai lumbung beras nasional, berkembang menjadi lumbung telur berbasis peternakan rakyat, dan kini melangkah ke masa depan sebagai lumbung energi terbarukan. Lebih dari itu, Sidrap juga dikenal sebagai lumbung penghafal Al-Qur’an, di mana pembangunan material berjalan seiring dengan penguatan akhlak dan nilai spiritual.
Di sinilah makna lumbung mencapai puncaknya—bukan hanya menyimpan hasil bumi, tetapi menjaga kehidupan, peradaban, dan nilai-nilai luhur.
Lima Fakta Menarik tentang Sidrap sebagai Lumbung Peradaban
Empat Identitas Lumbung Sekaligus
Sidrap dikenal sebagai lumbung pangan, energi, dan nilai spiritual dalam satu kesatuan narasi pembangunan.Warisan Panre dan Panrita
Sejak lama Sidrap melahirkan para ahli di berbagai bidang, dari pandai besi hingga ahli bahasa dan filsafat lokal.Lumbung sebagai Cara Hidup
Lumbung tidak hanya berfungsi fisik, tetapi menjadi simbol pengelolaan rezeki dan solidaritas sosial.Pembangunan Berbasis Nilai
Ketahanan pangan berjalan seiring dengan penguatan ilmu dan akhlak.Orientasi Masa Depan Berkelanjutan
Sidrap mengintegrasikan pangan, energi terbarukan, dan spiritualitas sebagai fondasi pembangunan jangka panjang.
Sidrap mengajarkan bahwa pembangunan sejati bukan hanya tentang angka produksi dan infrastruktur, tetapi tentang merawat kehidupan secara utuh. Ketika pangan, energi, ilmu, dan nilai kebajikan dijaga dalam satu lumbung peradaban, di sanalah masa depan tumbuh dengan kokoh. Sidrap tidak sekadar menyimpan hasil hari ini, tetapi menanam harapan untuk generasi yang akan datang.







