-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     




     


     

     



     


     

     



     

    Iklan

    Aksi Bersih HMI di Masjid Agung Takalar: Menakar Kembali Khittah Perjuangan Kader

    Satry Polang
    Kamis, 18 Juni 2026, Juni 18, 2026 WIB Last Updated 2026-06-18T16:44:27Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

    Aksi Bersih HMI di Masjid Agung Takalar: Menakar Kembali Khittah Perjuangan Kader



    Oleh: Rezha Rahmatullah

    Ketua Bidang Lingkungan Hidup HMI Cabang Takalar


    NARASIRAKYAT — Di tengah derasnya arus digitalisasi dan semakin kompleksnya tantangan sosial yang dihadapi generasi muda, gerakan mahasiswa sering kali berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, mahasiswa dituntut menjadi kelompok intelektual yang mampu membaca dan mengkritisi berbagai persoalan bangsa. Namun di sisi lain, mereka juga dituntut hadir secara nyata di tengah masyarakat, menyentuh persoalan-persoalan sederhana yang sering kali luput dari perhatian.


    Pemandangan berbeda terlihat di kawasan Masjid Agung Takalar pada Selasa, 16 Juni 2026. Puluhan peserta Intermediate Training (LK II) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Takalar turun langsung membersihkan area masjid, pekarangan, hingga bahu jalan di sekitarnya.


    Tidak ada mimbar orasi. Tidak ada pengeras suara. Tidak ada spanduk tuntutan yang dibentangkan.

    Yang ada hanyalah sapu lidi, kantong sampah, dan semangat pengabdian.


    Bagi sebagian orang, kegiatan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi kader HMI yang sedang ditempa dalam proses perkaderan tingkat lanjut, aksi itu sesungguhnya mengandung makna yang jauh lebih besar daripada sekadar membersihkan lingkungan.


    Ketika Gerakan Mahasiswa Turun dari Menara Gading

    Selama bertahun-tahun, mahasiswa dikenal sebagai kelompok yang aktif berdiskusi mengenai persoalan sosial, ekonomi, politik, hingga lingkungan hidup. Berbagai teori dibedah, berbagai konsep perubahan dirumuskan, dan berbagai kritik disampaikan kepada pengambil kebijakan.


    Namun tidak sedikit kritik yang muncul bahwa sebagian gerakan mahasiswa hari ini terlalu nyaman berada dalam ruang-ruang diskusi dan terlalu jauh dari realitas masyarakat.


    Mereka fasih berbicara tentang perubahan, tetapi terkadang lupa mempraktikkan perubahan itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari.


    Aksi bersih-bersih yang dilakukan peserta Intermediate Training HMI Cabang Takalar menjadi pengingat bahwa gerakan mahasiswa tidak boleh terjebak dalam romantisme intelektual semata.


    Keilmuan harus bertemu dengan pengabdian.

    Gagasan harus berjumpa dengan tindakan.

    Dan kritik harus diiringi dengan keteladanan.


    Kebersihan sebagai Manifestasi Nilai Perjuangan

    Dalam Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI, kemanusiaan dan pengabdian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pembentukan kader.


    Karena itu, membersihkan rumah ibadah dan ruang publik bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan implementasi nyata dari nilai-nilai yang selama ini dipelajari dalam forum-forum perkaderan.


    Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Bidang Lingkungan Hidup HMI Cabang Takalar, kebersihan tidak hanya berkaitan dengan estetika lingkungan, tetapi juga mencerminkan kualitas keimanan dan kepedulian sosial seseorang.


    "Kebersihan adalah bagian dari iman, dan pengabdian kepada masyarakat adalah wujud nyata dari keimanan yang aktif, bukan pasif," ujarnya.


    Pesan ini menjadi relevan di tengah fenomena menurunnya kepedulian terhadap lingkungan yang masih menjadi persoalan di banyak daerah.


    Tiga Pesan Besar di Balik Sapu Lidi

    Jika dicermati lebih dalam, aksi sederhana tersebut sesungguhnya membawa pesan yang sangat kuat bagi gerakan mahasiswa dan masyarakat secara umum.

    1. Kesalehan Ritual Harus Beriringan dengan Kesalehan Sosial

    Merawat kebersihan masjid bukan hanya tugas pengurus atau marbot semata.

    Rumah ibadah adalah milik bersama yang harus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat.

    Melalui aksi ini, HMI mengingatkan bahwa keimanan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah personal, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap lingkungan sekitar.


    2. Merawat Ruang Publik adalah Bentuk Kepedulian Sosial

    Ketika peserta LK II membersihkan bahu jalan dan area publik di sekitar masjid, mereka sesungguhnya sedang menunjukkan bahwa lingkungan yang bersih adalah tanggung jawab kolektif.

    Tindakan tersebut juga menjadi kritik sosial yang elegan terhadap budaya membuang sampah sembarangan yang masih terjadi di berbagai tempat.


    3. Melatih Kerendahan Hati Calon Pemimpin

    Intermediate Training merupakan jenjang perkaderan yang bertujuan melahirkan kader-kader pemimpin masa depan.

    Namun kepemimpinan sejati tidak lahir dari jabatan atau gelar semata.

    Ia lahir dari kemampuan melayani.


    Memungut sampah di jalanan mungkin terlihat sederhana, tetapi di situlah seorang calon pemimpin belajar meruntuhkan ego dan kesombongan.

    Pemimpin yang baik adalah mereka yang tidak merasa lebih tinggi daripada masyarakat yang dipimpinnya.


    Menjaga Khittah Perjuangan

    Aksi bersih-bersih di Masjid Agung Takalar hendaknya tidak berhenti sebagai agenda seremonial atau sekadar dokumentasi kegiatan perkaderan.


    Yang lebih penting adalah bagaimana nilai yang terkandung di dalamnya terus hidup dalam setiap aktivitas kader setelah kembali ke daerah masing-masing.


    Sapu lidi yang digunakan dalam aksi tersebut menyimpan filosofi yang sangat dalam.

    Satu batang lidi mungkin tidak memiliki kekuatan berarti.

    Namun ketika banyak lidi disatukan, ia mampu membersihkan berbagai kotoran yang ada.


    Begitu pula dengan gerakan mahasiswa.

    Perubahan tidak akan lahir dari individu yang berjalan sendiri-sendiri, tetapi dari kolaborasi, kepedulian, dan komitmen bersama untuk memperbaiki keadaan.


    Kembali ke Khittah Gerakan

    Takalar telah menjadi saksi bahwa gerakan mahasiswa tidak hanya hadir melalui narasi dan kritik, tetapi juga melalui aksi nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat.


    Di tengah tantangan bangsa yang semakin kompleks, mahasiswa perlu kembali meneguhkan khittah perjuangannya sebagai agen perubahan, agen kontrol sosial, sekaligus agen pengabdian.


    Karena sesungguhnya perubahan besar tidak selalu dimulai dari panggung besar.

    Kadang ia lahir dari tindakan sederhana.

    Dari sapu lidi yang digenggam dengan penuh kesadaran.

    Dari tangan-tangan yang rela kotor demi lingkungan yang lebih bersih.


    Dan dari kader-kader yang memahami bahwa perjuangan tidak hanya tentang menyuarakan perubahan, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.


    Artikel opini ini merupakan pandangan penulis dan menjadi tanggung jawab pribadi penulis. Redaksi NarasiRakyat.id memberikan ruang bagi berbagai gagasan dan pandangan yang konstruktif demi kepentingan publik.

    Komentar

    Tampilkan