-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     




     


     

     



     


     

     



     

    Iklan

    Menyusuri Jejak Pahlawan Al-Qur’an, Komunitas Bangkit Dari Masjid Sidrap Beri Apresiasi

    Satry Polang
    Senin, 22 Juni 2026, Juni 22, 2026 WIB Last Updated 2026-06-23T01:45:15Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

    Menyusuri Jejak Pahlawan Al-Qur’an, Komunitas Bangkit Dari Masjid Sidrap Beri Apresiasi



    NarasiRakyat.id – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, masih ada sosok-sosok sederhana yang mengabdikan hidupnya tanpa sorotan kamera, tanpa penghargaan besar, dan tanpa mengharapkan balasan materi. Mereka adalah para guru mengaji kampung yang puluhan tahun istiqamah mengajarkan Al-Qur’an kepada generasi penerus umat.


    Sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang pendidikan Al-Qur’an tersebut, Komunitas Bangkit dari Masjid (BDM) Sidrap melakukan perjalanan silaturahmi sekaligus mengantarkan hadiah apresiasi kepada sejumlah guru mengaji di Kota Parepare dan wilayah perbatasan Sidrap-Parepare.


    Perjalanan itu bukan sekadar mengantar bingkisan. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi momen menyerap hikmah, mendengar kisah pengabdian, dan memohon doa dari orang-orang yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menjaga cahaya Al-Qur’an tetap menyala di tengah masyarakat.



    Guru Mengaji yang Memberi Uang kepada Muridnya

    Perjalanan pertama membawa rombongan BDM ke rumah Hj. Asia (71) di wilayah Mallusetasi, Kota Parepare.

    Sosok sederhana ini telah mengabdikan dirinya selama kurang lebih 45 tahun mengajar mengaji kepada anak-anak di lingkungannya.


    Di tengah perbincangan hangat, Hj. Asia menceritakan kebiasaan unik yang selama ini ia lakukan kepada murid-muridnya.

    Setiap selesai mengajar mengaji, ia menyisihkan sebagian uang pribadinya untuk diberikan kepada anak-anak yang belajar Al-Qur’an.


    Nilainya memang tidak besar, hanya sekitar Rp2.000 per anak.

    Namun di balik nominal kecil itu tersimpan makna yang sangat besar.

    “Tabe Puang, kenapa sampai kita yang kasih uang anak-anak?” tanya M. Amran Amkar, Bendahara BDM.


    Dengan senyum penuh ketulusan, Hj. Asia menjawab sederhana.

    “Ini nak, untuk memberi motivasi supaya mereka tambah rajin mengaji.”

    Jawaban singkat tersebut membuat seluruh rombongan terdiam.


    Di saat sebagian orang tua kesulitan mendorong anak-anaknya belajar Al-Qur’an, seorang guru mengaji justru rela mengeluarkan uang pribadinya demi memastikan semangat belajar murid-muridnya tetap terjaga.

    Kalimat sederhana itu menjadi pelajaran berharga tentang keikhlasan dan cinta terhadap generasi muda.


    Setengah Abad Mengajar, Tiga Generasi Pernah Menjadi Muridnya

    Perjalanan berikutnya berlanjut ke wilayah Soreang, Kota Parepare.

    Di sana rombongan bertemu dengan Hj. P. Esa, seorang guru mengaji yang kini telah berusia sekitar 80 tahun.


    Meski usia telah senja, semangatnya mengajar Al-Qur’an tetap menyala.

    Selama kurang lebih 50 tahun, Hj. P. Esa telah mengabdikan dirinya mendidik anak-anak belajar membaca Al-Qur’an.


    Dengan mata yang berbinar, ia mengenang perjalanan panjangnya sebagai guru mengaji.

    “Mungkin sudah ada yang sampai tiga generasi saya ajar,” ujarnya.

    Pernyataan tersebut menggambarkan betapa panjang jejak pengabdiannya.


    Anak yang pernah belajar mengaji kepadanya puluhan tahun lalu kini telah menjadi orang tua, bahkan sebagian cucunya juga pernah belajar di hadapannya.


    Dalam pertemuan itu, Hj. P. Esa juga membagikan berbagai wejangan dan pengalaman hidup yang menjadi sumber inspirasi bagi rombongan BDM.


    Suasana haru tak dapat disembunyikan ketika ia mengungkapkan bahwa selama puluhan tahun mengajar, baru kali ini ada komunitas yang datang secara khusus memberikan apresiasi atas pengabdiannya.


    Pengakuan itu menjadi pengingat bahwa masih banyak pahlawan pendidikan Al-Qur’an yang bekerja dalam sunyi tanpa pernah meminta penghargaan.


    Guru Mengaji yang Mengira Kedatangan Tamu adalah “Serangan Fajar”

    Perjalanan silaturahmi kemudian berlanjut ke lokasi ketiga, menemui Samir (54) yang tinggal di kawasan perbatasan Sidrap-Parepare.

    Pria yang telah mengajar mengaji selama sekitar 25 tahun itu menyambut rombongan dengan penuh kehangatan.


    Sambil bercanda, ia mengingat kunjungan sebelumnya dari tim BDM.

    “Saya kira kemarin itu serangan fajar karena baru ada yang datang,” ujarnya yang langsung disambut gelak tawa.

    Candaan tersebut menggambarkan betapa jarangnya perhatian yang datang kepada para guru mengaji kampung.


    Menanggapi hal itu, salah satu anggota rombongan menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda silaturahmi kepada para guru mengaji yang telah lama mengabdi.


    “Maaf Pak, baru sempat kembali lagi ke sini. Kami memang sedang berkeliling bersilaturahmi dengan guru-guru mengaji. Minggu lalu kami juga bertemu guru mengaji di Makassar,” tutur Anto.

    Meski berlangsung sederhana, pertemuan tersebut menyisakan kesan mendalam bagi kedua belah pihak.


    Memohon Restu dari Penjaga Cahaya Al-Qur’an

    Bagi Komunitas Bangkit dari Masjid, perjalanan ini bukan hanya tentang memberikan hadiah atau bantuan.

    Yang lebih penting adalah mendapatkan restu, doa, dan ridha dari para guru mengaji yang telah menghabiskan hidupnya untuk mendidik generasi umat.


    Dalam setiap kunjungan, anggota komunitas selalu meminta doa agar para donatur dan orang-orang baik yang peduli terhadap guru mengaji kampung mendapatkan keberkahan dalam hidup mereka.

    Para guru mengaji ini mungkin tidak dikenal luas di media sosial.

    Mereka tidak memiliki panggung besar atau jabatan bergengsi.


    Namun dari tangan merekalah lahir ribuan anak yang mampu membaca Al-Qur’an, memahami ajaran Islam, dan tumbuh menjadi bagian dari masyarakat yang berakhlak.


    Lima Fakta Menarik dari Perjalanan Silaturahmi Guru Mengaji

    1. Guru Mengaji Memberi Uang kepada Muridnya

    Hj. Asia secara rutin memberikan Rp2.000 kepada setiap anak yang selesai mengaji sebagai bentuk motivasi belajar.

    2. Mengabdi Selama Puluhan Tahun

    Para guru yang dikunjungi telah mengajar Al-Qur’an antara 25 hingga 50 tahun tanpa mengenal lelah.

    3. Tiga Generasi Pernah Menjadi Murid

    Hj. P. Esa mengungkapkan bahwa sebagian muridnya kini telah memiliki cucu yang juga pernah belajar mengaji kepadanya.

    4. Baru Pertama Kali Mendapat Apresiasi Khusus

    Salah satu guru mengaji mengaku terharu karena baru kali ini ada komunitas yang datang secara khusus memberikan penghargaan atas pengabdiannya.

    5. Menjadi Inspirasi Gerakan Sosial Keumatan

    Perjalanan ini membuktikan bahwa perhatian terhadap guru mengaji masih sangat dibutuhkan sebagai bentuk penghormatan terhadap penjaga tradisi pendidikan Al-Qur’an.


    Menghargai Mereka yang Menjaga Al-Qur’an Tetap Hidup

    Di balik kemajuan zaman dan derasnya perkembangan teknologi, keberadaan guru mengaji kampung tetap menjadi fondasi penting dalam membangun generasi Qurani.

    Mereka mengajar dengan ketulusan, membimbing dengan kesabaran, dan mengabdi tanpa banyak tuntutan.


    Perjalanan Komunitas Bangkit dari Masjid Sidrap ini menjadi pengingat bahwa masih banyak pahlawan yang bekerja dalam diam, namun pengaruhnya begitu besar bagi masa depan umat.


    Mungkin mereka tidak pernah meminta penghargaan. Namun menghargai mereka adalah bentuk penghormatan kepada ilmu, kepada Al-Qur’an, dan kepada nilai-nilai kebaikan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.


    Karena sesungguhnya, di balik setiap anak yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, ada guru mengaji yang telah mengorbankan waktu, tenaga, dan hidupnya demi menjaga cahaya Islam tetap menyala.

    Komentar

    Tampilkan