![]() |
Viral! Kisah Peserta Porsenijar PGRI Sulsel Terharu dengan Keramahan Warga Sidrap |
SIDRAP, NarasiRakyat.id – Kesuksesan Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) sebagai tuan rumah Pekan Olahraga, Seni, dan Pembelajaran (Porsenijar) VII PGRI Provinsi Sulawesi Selatan 2026 bukan hanya diukur dari megahnya pembukaan yang dihadiri sekitar 74 ribu peserta dan tamu undangan. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut justru tercermin dari cerita-cerita sederhana yang meninggalkan kesan mendalam di hati para peserta.
Di tengah lautan manusia yang memadati Stadion Ganggawa dan kawasan sekitarnya pada pembukaan Porsenijar, muncul kisah tentang ketulusan warga Sidrap yang kini menjadi perbincangan hangat di kalangan peserta.
Sebuah pengalaman yang dibagikan salah seorang peserta melalui media sosial memperlihatkan bahwa slogan "Sidrap Siap dan Ramah" bukan sekadar kalimat promosi, melainkan budaya yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Memilih Berjalan Kaki Demi Mengurangi Kemacetan
Cerita bermula ketika rombongan peserta hendak menuju lokasi pembukaan Porsenijar.
Meski panitia telah menyiapkan empat kendaraan, rombongan yang berjumlah sekitar 20 orang memilih berjalan kaki dari tempat menginap menuju lokasi acara yang berjarak kurang lebih tiga kilometer.
Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk kepedulian agar tidak menambah kepadatan lalu lintas di tengah membludaknya peserta dari seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.
Langkah sederhana itu menjadi simbol kebersamaan. Namun siapa sangka, perjalanan pulang justru menghadirkan pengalaman yang tidak pernah mereka bayangkan.
"Tidak Usah, Pak..."
Usai mengikuti pembukaan di bawah terik matahari, rombongan mulai kembali ke tempat menginap.
Di tengah perjalanan, rombongan terpisah.
Salah seorang peserta bersama rekannya, Pak Muhlis, memilih menyusuri jalan kecil untuk mencari tempat yang lebih teduh.
Saat itulah, dari bawah sebuah rumah panggung, beberapa pemuda yang sedang berkumpul spontan memanggil mereka.
"Ojek, Pak...!"
Tanpa ragu mereka menawarkan tumpangan menggunakan sepeda motor.
Setelah sampai di tujuan, kedua tamu tersebut berniat membayar sebagaimana lazimnya jasa ojek.
Namun jawaban para pemuda itu justru membuat mereka terdiam.
"Tidak usah, Pak."
Tidak ada tarif.
Tidak ada permintaan imbalan.
Yang ada hanyalah senyum tulus dan keinginan membantu tamu yang datang ke daerah mereka.
Bagi para peserta, momen singkat itu menjadi salah satu kenangan paling berharga selama berada di Kabupaten Sidrap.
Pemerintah Daerah Turut Hadir Melayani
Di waktu yang hampir bersamaan, tiga anggota rombongan lainnya juga merasakan perhatian yang sama.
Mereka diantar kembali ke tempat menginap menggunakan kendaraan dinas oleh staf Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Sidrap.
Pelayanan tersebut memperlihatkan bahwa semangat melayani tidak hanya datang dari masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari budaya kerja Pemerintah Kabupaten Sidrap selama pelaksanaan Porsenijar VII.
Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat inilah yang membuat ribuan tamu merasa nyaman selama berada di Bumi Nene Mallomo.
Keramahan yang Menjadi Identitas Sidrap
Selama pelaksanaan Porsenijar VII, berbagai kisah serupa terus bermunculan.
Rumah-rumah warga dibuka sebagai tempat menginap peserta.
Sekolah dijadikan posko kontingen.
Petani dan peternak menyumbangkan hasil panennya berupa beras dan telur untuk para tamu.
Organisasi perangkat daerah (OPD) bergotong royong mendampingi setiap kontingen dari berbagai kabupaten dan kota.
Seluruh rangkaian tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan Sidrap sebagai tuan rumah lahir dari keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Keramahan tidak lagi menjadi slogan, melainkan menjadi pengalaman nyata yang dirasakan langsung oleh para tamu.
Salah seorang peserta bahkan menyampaikan rasa terima kasihnya melalui unggahan yang kemudian mendapat banyak respons positif.
"Terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh warga dan Pemerintah Kabupaten Sidrap. Keramahan dan kebaikan hati kalian menjadi kenangan indah yang tak terlupakan bagi kami semua."
Ungkapan sederhana tersebut menjadi bukti bahwa kesan terbaik sering kali lahir bukan dari kemegahan sebuah acara, melainkan dari perhatian kecil yang diberikan dengan tulus.
Kepemimpinan yang Menggerakkan Budaya Melayani
Keberhasilan penyelenggaraan Porsenijar VII tidak hanya ditopang oleh kesiapan infrastruktur maupun kemegahan seremoni pembukaan.
Lebih dari itu, keberhasilan tersebut lahir dari kepemimpinan yang mampu membangun budaya melayani hingga ke lapisan masyarakat.
Semangat "Sidrap Siap dan Ramah" tercermin dalam tindakan nyata—mulai dari pemerintah daerah, aparatur sipil negara, relawan, pelajar, petani, pelaku UMKM, hingga masyarakat biasa yang dengan sukarela membantu para tamu.
Budaya inilah yang membuat banyak peserta mengaku pulang membawa cerita, bukan hanya tentang pertandingan dan perlombaan, tetapi juga tentang kehangatan masyarakat Sidrap.
Lima Fakta Menarik
1. Rombongan peserta memilih berjalan kaki sekitar tiga kilometer menuju lokasi pembukaan meski tersedia empat kendaraan, sebagai bentuk kepedulian untuk mengurangi kemacetan.
2. Sejumlah pemuda Sidrap menawarkan tumpangan motor secara sukarela kepada peserta yang kelelahan dan menolak menerima bayaran dengan mengatakan, "Tidak usah, Pak."
3. Staf BKD Kabupaten Sidrap mengantar peserta menggunakan kendaraan dinas, menunjukkan pelayanan yang cepat dan penuh perhatian.
4. Keramahan masyarakat menjadi pengalaman nyata yang dirasakan peserta, melengkapi berbagai bentuk gotong royong lain seperti penyediaan rumah warga, sekolah sebagai posko, hingga bantuan logistik dari petani dan peternak.
5. Slogan "Sidrap Siap dan Ramah" terbukti melalui tindakan nyata, bukan sekadar identitas penyelenggaraan Porsenijar VII PGRI Sulawesi Selatan 2026.
Setiap daerah dapat membangun stadion yang megah.
Setiap penyelenggara mampu menyusun acara yang meriah.
Namun tidak semua daerah mampu menghadirkan rasa nyaman yang lahir dari ketulusan masyarakatnya.
Di Sidrap, keramahan tidak dipentaskan di atas panggung. Ia hadir di jalanan, di rumah-rumah warga, di kantor-kantor pelayanan, bahkan dari sekelompok anak muda yang tanpa pamrih mengantar tamu hingga ke tujuan.
Ketika seorang tamu pulang dengan membawa cerita tentang ojek gratis, pelayanan aparatur yang sigap, dan senyum tulus masyarakat, maka keberhasilan Porsenijar VII telah melampaui ukuran sebuah perhelatan olahraga, seni, dan pembelajaran.
Ia menjadi bukti bahwa budaya gotong royong dan pelayanan yang tulus adalah identitas yang sesungguhnya dari Kabupaten Sidenreng Rappang—sebuah daerah yang tidak hanya siap menjadi tuan rumah, tetapi juga mampu membuat siapa pun merasa seperti pulang ke rumah sendiri.















