-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Iklan

    Jejak Cinta di Bumi Nene Mallomo Oleh Muhammad Idris Usman

    Satry Polang
    Minggu, 30 Agustus 2026, Agustus 30, 2026 WIB Last Updated 2026-08-30T13:13:39Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

    Oleh: Muhammad Idris Usman


    Ada tempat yang kita datangi karena tugas. Ada pula tempat yang kemudian kita tinggalkan karena masa pengabdian telah selesai. Namun, ada tempat tertentu yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan karena sebagian kenangan dan hati kita memilih untuk tetap tinggal di sana.

    Bagi saya, Sidenreng Rappang (Sidrap) adalah tempat itu.


    Empat tahun sembilan bulan, sejak 2021 hingga 2025, saya mendapatkan amanah dan kehormatan untuk mengabdi sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidrap.

    Waktu tersebut, jika dihitung sebagai angka, mungkin hanyalah bagian kecil dari perjalanan hidup. Tetapi jika diukur melalui pengalaman, perjumpaan, persahabatan, pengabdian, dan kebaikan yang saya terima, empat tahun sembilan bulan terasa begitu panjang sekaligus begitu singkat.


    Panjang karena begitu banyak cerita yang terukir.

    Singkat karena waktu seolah berlari ketika setiap hari diisi dengan perjumpaan dan kebaikan.


    Sidrap yang Menjadi Rumah

    Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Nene Mallomo, saya datang sebagai seorang yang membawa amanah kedinasan.

    Namun masyarakat Sidrap tidak membiarkan saya merasa sebagai orang luar.


    Saya tidak diperlakukan sekadar sebagai pejabat yang sedang menjalankan tugas. Saya diterima sebagai bagian dari keluarga.

    Di situlah saya menemukan makna bahwa sebuah daerah dapat menjadi rumah bukan karena kita dilahirkan di sana, tetapi karena kita diterima dengan hati.


    Keramahan masyarakat Sidrap bukan sekadar kata yang indah dalam pidato. Saya mengalaminya sendiri.

    Saya menyaksikan bagaimana masyarakat membuka ruang persahabatan, memberikan dukungan, dan menghadirkan ketulusan dalam berbagai perjumpaan.


    Bagi saya, itulah wajah sesungguhnya Bumi Nene Mallomo.

    Daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung beras, lumbung ulama, dan lumbung penghafal Al-Qur'an itu menyimpan kekayaan yang jauh lebih besar daripada sekadar potensi sumber daya alam.


    Kekayaan terbesar itu adalah manusia dan nilai-nilai kebaikan yang hidup di tengah masyarakatnya.


    Nilai Bugis yang Tidak Sekadar Diucapkan

    Selama berada di Sidrap, saya semakin memahami bahwa kebudayaan bukan hanya sesuatu yang disimpan dalam buku atau dipertontonkan dalam acara seremonial.


    Kebudayaan hidup ketika ia menjadi perilaku.

    Saya menemukan semangat sipakario-rio, saling menggembirakan.

    Saya menemukan sipatokkong, saling menopang.

    Saya juga merasakan sipakalebbi, saling menghargai.

    Nilai-nilai tersebut bukan sekadar istilah dalam bahasa Bugis. Dalam banyak kesempatan, saya melihatnya hadir dalam kehidupan sehari-hari.

    Ketika seseorang membutuhkan bantuan, ada tangan yang terulur.

    Ketika ada kesulitan, ada orang yang datang membantu.

    Ketika ada perbedaan, selalu tersedia ruang untuk saling menghormati.


    Dari pengalaman itulah saya belajar bahwa masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang memiliki sumber daya ekonomi yang besar, tetapi masyarakat yang memiliki modal sosial berupa kepercayaan dan kepedulian.


    Pernah Berada di Jalan Pendidikan yang Sama

    Ada satu hal yang membuat hubungan saya dengan Bumi Nene Mallomo terasa semakin istimewa.

    Saya pernah berada dalam lingkungan pendidikan yang sama dengan seorang anak muda yang kini memimpin Kabupaten Sidrap.


    Saya mengenalnya sebagai Dinda Syaharuddin Alrif.

    Kami pernah berada di bawah didikan dan bimbingan seorang ulama besar Tanah Bugis, Almaghfurlah Anregurutta KH Abdul Rahman Ambo Dalle, di Pondok Pesantren DDI Kaballangan, Pinrang.


    Karena itu, ketika kemudian melihat Dinda Syahar memimpin Sidrap, ada perasaan tersendiri yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata.

    Saya melihat sosok pemimpin muda yang mudah bergaul dengan berbagai kalangan dan relatif mudah ditemui masyarakat.


    Bagi saya, kedekatan dengan masyarakat merupakan modal penting seorang pemimpin.

    Sebab pemimpin tidak hanya dituntut mampu membuat kebijakan, tetapi juga harus mampu mendengar denyut kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.


    Kemitraan yang Menguatkan Pengabdian

    Dalam menjalankan amanah sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidrap, tentu saya tidak bekerja seorang diri.


    Ada pemerintah daerah dengan seluruh jajarannya.

    Ada para tokoh agama.

    Ada ulama.

    Ada pimpinan lembaga pendidikan.

    Ada organisasi kemasyarakatan.

    Dan tentu saja ada keluarga besar Kementerian Agama Kabupaten Sidrap.


    Dukungan dan kemitraan tersebut memberikan ruang yang luas bagi Kemenag Sidrap untuk menjalankan pelayanan kepada umat.


    Saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, Wakil Bupati Hj. Nurkanaah, serta seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Sidrap yang telah memberikan dukungan dalam berbagai ikhtiar pelayanan keagamaan.

    Begitu pula kepada seluruh keluarga besar Kemenag Sidrap.


    Rekan-rekan kerja yang selama ini bersama-sama menjalankan tugas, memberikan dukungan, memfasilitasi berbagai kebutuhan, dan melewati berbagai dinamika pelayanan.


    Dalam sebuah pengabdian, keberhasilan tidak pernah menjadi milik seseorang secara sendirian.

    Ia lahir dari kolaborasi banyak tangan dan ketulusan banyak hati.


    Ketika Jabatan Berakhir, Persaudaraan Tidak

    Pada akhirnya, setiap amanah memiliki batas waktu.

    Jabatan berganti.

    Tempat pengabdian berpindah.

    Namun hubungan kemanusiaan tidak seharusnya ikut berakhir.

    Itulah yang saya rasakan ketika masa pengabdian di Sidrap selesai.

    Saya meninggalkan jabatan, tetapi tidak meninggalkan persaudaraan.


    Saya meninggalkan kantor, tetapi tidak meninggalkan kenangan.

    Saya meninggalkan sebuah wilayah tugas, tetapi membawa begitu banyak cerita tentang kebaikan masyarakatnya.

    Sidrap mengajarkan kepada saya bahwa ukuran keberhasilan sebuah pengabdian tidak hanya dapat dilihat dari program yang terlaksana atau laporan yang terselesaikan.


    Ada ukuran lain yang jauh lebih manusiawi: apakah kehadiran kita mampu meninggalkan kebaikan di hati orang lain.

    Dan bagi saya, Sidrap telah meninggalkan jejak yang dalam.


    Sebagian Hati Saya Tinggal di Bumi Nene Mallomo

    Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Sidenreng Rappang.

    Terima kasih karena telah menerima saya.

    Terima kasih karena telah memanusiakan saya.

    Terima kasih karena telah memberikan ruang untuk menjalankan amanah.


    Terima kasih kepada pemerintah daerah, para tokoh agama, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan pengabdian saya.

    Terima kasih pula kepada keluarga besar Kementerian Agama Kabupaten Sidrap yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.


    Empat tahun sembilan bulan mungkin telah selesai dalam catatan administrasi.

    Namun dalam ingatan, ia tidak pernah benar-benar berakhir.

    Sebagian dari hati saya akan selalu tertinggal di Bumi Nene Mallomo.


    Di sana ada wajah-wajah yang pernah saya temui.

    Ada tangan-tangan yang pernah membantu.

    Ada sahabat-sahabat yang pernah berjalan bersama.


    Ada masyarakat yang pernah menerima saya dengan ketulusan.

    Dan ada begitu banyak kenangan yang tidak mungkin dituliskan seluruhnya dalam satu artikel.


    Doa untuk Sidrap

    Saya percaya, sebuah daerah akan menjadi besar bukan hanya karena pembangunan fisiknya, tetapi karena masyarakatnya mampu menjaga nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.

    Semoga Sidrap terus menjadi daerah yang damai, maju, sejahtera, dan bermartabat.


    Semoga nilai-nilai kebaikan, gotong royong, saling menghargai, dan kepedulian terhadap sesama tetap hidup di tengah masyarakat.

    Semoga para pemimpinnya senantiasa diberi kekuatan untuk mengemban amanah.


    Dan semoga seluruh masyarakat Bumi Nene Mallomo selalu berada dalam lindungan dan keberkahan Allah SWT.

    Saya mungkin tidak lagi berada di sana dalam kapasitas sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidrap.

    Tetapi doa akan selalu menemukan jalannya.


    Karena ada tempat yang kita tinggalkan secara fisik, tetapi tidak pernah kita tinggalkan secara batin.

    Bagi saya, Sidrap adalah tempat itu.


    Bumi Nene Mallomo bukan sekadar tempat saya pernah bertugas. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup yang akan selalu saya kenang dengan cinta.

    Komentar

    Tampilkan