-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Iklan

    Sidenreng Rappang dan Kertas Putih

    Satry Polang
    Sabtu, 29 Agustus 2026, Agustus 29, 2026 WIB Last Updated 2026-08-29T07:34:08Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250


    Oleh: AF

    Ada sesuatu yang menarik ketika membicarakan Kabupaten Sidenreng Rappang. Bukan karena daerah ini sempurna, melainkan karena setiap noda kecil di atasnya dapat terlihat begitu jelas.

    Bayangkan Sidenreng Rappang sebagai selembar kertas putih.

    Bersih, terang, dan memiliki ruang luas untuk menuliskan banyak cerita.


    Ketika setitik tinta jatuh di atas kertas putih, sekecil apa pun noda itu, mata akan segera menangkapnya. Orang-orang akan bertanya. Membicarakannya. Bahkan tidak jarang, perhatian kemudian hanya tertuju pada noda tersebut, seolah-olah seluruh kertas telah berubah warna.

    Barangkali begitulah Sidenreng Rappang hari ini.


    Belakangan, istilah “Kota Passobis” ramai dilekatkan kepada daerah ini. Istilah tersebut muncul dari fenomena aktivitas penipuan daring yang dilakukan oleh sebagian orang.

    Tentu, penipuan tidak pernah dapat dibenarkan.


    Siapa pun pelakunya, dari mana pun asalnya, dan apa pun motifnya, tindakan merugikan orang lain tetap harus dipertanggungjawabkan. Penegakan hukum harus berjalan, edukasi harus diperkuat, dan masyarakat harus ikut mengambil peran dalam mencegah kejahatan digital.

    Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika perilaku segelintir orang kemudian digunakan untuk mewakili wajah sebuah daerah secara keseluruhan.


    Di situlah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah adil menilai sebuah daerah hanya dari satu noda?


    Ketika Satu Noda Menutupi Banyak Warna

    Sidenreng Rappang bukan sekadar nama di peta Sulawesi Selatan.

    Ia memiliki sejarah, tradisi, kebudayaan, kehidupan keagamaan, pertanian, perdagangan, pendidikan dan sumber daya manusia yang terus berkembang.


    Daerah ini memiliki masyarakat yang bekerja sejak pagi, petani yang mengolah sawah, pedagang yang membuka usaha, guru yang mengajar, tenaga kesehatan yang melayani, santri yang menuntut ilmu, mahasiswa yang merantau, serta anak-anak muda yang mencoba membangun masa depan dengan caranya masing-masing.

    Mereka adalah bagian dari wajah Sidenreng Rappang.


    Sayangnya, cerita-cerita seperti itu sering kalah gaduh dibandingkan cerita yang kontroversial.

    Di era media sosial, sesuatu yang mengejutkan lebih mudah mendapatkan perhatian daripada sesuatu yang baik tetapi berlangsung setiap hari.

    Kebaikan sering bekerja dalam diam.


    Sementara keburukan terkadang datang dengan suara yang jauh lebih keras.

    Maka, jangan heran jika satu kasus dapat menjadi viral dalam hitungan jam, sementara ribuan kerja baik masyarakat tidak pernah mendapatkan ruang pemberitaan yang sama.


    Tetapi viral bukan berarti mewakili keseluruhan.

    Dan sebuah kasus bukanlah identitas sebuah kabupaten.


    Tanah yang Apa Pun Ditanam Akan Tumbuh

    Ada sebuah ungkapan yang menurut saya relevan untuk menggambarkan Sidenreng Rappang:

    Apa pun yang ditanam di tanah Sidenreng, akan tumbuh.


    Ungkapan itu bisa dimaknai secara harfiah maupun filosofis.

    Tanahnya menumbuhkan pertanian.

    Masyarakatnya menumbuhkan perdagangan.

    Sekolah dan perguruan tinggi menumbuhkan ilmu.

    Pesantren menumbuhkan tradisi keagamaan.

    Ruang-ruang sosial menumbuhkan solidaritas.

    Dan anak-anak mudanya menumbuhkan mimpi.

    Jika kemudian ada aktivitas ilegal yang tumbuh di tengah masyarakat, maka ia tidak boleh dibiarkan.


    Gulma tetap harus dicabut.

    Tetapi mencabut gulma tidak berarti kita harus mengatakan bahwa seluruh tanah itu adalah gulma.

    Jangan karena satu tanaman tumbuh buruk, lalu kita menganggap seluruh kebun tidak berguna.

    Di sinilah kita membutuhkan cara pandang yang lebih proporsional.


    Anak Muda dan Beban Sebuah Label

    Sebagai anak muda, persoalan stigma daerah terasa lebih dekat.

    Hari ini, anak muda Sidenreng Rappang hidup dalam ruang yang jauh lebih terbuka. Mereka berinteraksi dengan orang dari berbagai daerah melalui pendidikan, pekerjaan dan media sosial.


    Ada yang kuliah di luar daerah.

    Ada yang menjadi guru.

    Ada yang bekerja sebagai tenaga kesehatan.

    Ada yang menjadi petani dan peternak.

    Ada yang berdagang.

    Ada yang membangun usaha dari rumah.

    Ada pekerja kreatif.

    Ada aktivis.

    Ada santri.

    Ada mahasiswa.


    Ada pula mereka yang setiap hari bekerja keras membangun sesuatu dari nol, meskipun namanya tidak pernah muncul di media.

    Mereka mungkin tidak viral.

    Tetapi mereka nyata.


    Mereka adalah mayoritas cerita yang sering kalah ramai dari cerita segelintir orang.

    Karena itu, menjadi tidak adil ketika seorang anak muda harus membawa beban sebuah label hanya karena berasal dari daerah tertentu.


    Lebih menyedihkan lagi apabila seseorang yang sedang berusaha mencari pekerjaan, menempuh pendidikan atau membangun usaha harus terlebih dahulu menjelaskan:

    “Saya dari Sidrap, tetapi saya bukan penipu.”

    Padahal, mengapa seseorang harus meminta maaf atas sesuatu yang tidak pernah dilakukannya?


    Kita Tidak Sedang Membela Kesalahan

    Membela nama baik daerah bukan berarti membela kesalahan.

    Ini penting ditegaskan.


    Jika ada warga yang melakukan penipuan online, maka hukum harus bekerja.

    Jika ada anak muda yang terjerumus dalam aktivitas ilegal, maka edukasi dan pembinaan harus diperkuat.


    Jika terdapat persoalan sosial yang memungkinkan kejahatan berkembang, pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama mencari akar masalahnya.

    Tetapi memberantas kejahatan tidak sama dengan memberi stigma kepada seluruh masyarakat.


    Pelaku harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Masyarakat tidak boleh dihukum atas kesalahan yang tidak mereka lakukan.

    Kita dapat membersihkan noda tanpa membakar kertasnya.

    Kita dapat mengakui adanya masalah tanpa menjadikan masalah tersebut sebagai identitas.


    Sidenreng Rappang Lebih Besar dari Sebuah Julukan

    Cobalah berjalan menyusuri Sidenreng Rappang pada pagi hari.

    Kita akan menemukan cerita yang jauh lebih panjang daripada sebuah julukan.


    Ada petani yang berangkat bekerja.

    Ada pedagang yang mulai membuka usahanya.

    Ada guru yang menyiapkan pembelajaran.

    Ada orang tua yang mengantar anak ke sekolah.

    Ada mahasiswa yang mengejar pendidikan.

    Ada pesantren yang menghidupkan tradisi keilmuan.


    Ada masjid yang menjadi pusat kehidupan sosial.

    Ada pelaku UMKM yang berusaha mempertahankan usahanya.

    Ada anak muda yang sedang belajar, bekerja dan bermimpi.

    Semua itu adalah Sidenreng Rappang.


    Dan jumlah cerita tersebut jauh lebih besar daripada satu fenomena yang dilakukan oleh segelintir orang.

    Karena itu, kita perlu berhati-hati menggunakan sebuah label.

    Sebuah julukan mungkin terdengar sederhana.

    Tetapi bagi masyarakat yang hidup di dalamnya, label dapat berubah menjadi beban.


    Jangan Robek Kertas Putihnya

    Sidenreng Rappang tidak perlu menyangkal bahwa ada persoalan.

    Justru sebaliknya.

    Persoalan harus diakui agar dapat diselesaikan.

    Pemerintah perlu memperkuat literasi digital dan membuka lebih banyak ruang ekonomi produktif.


    Sekolah dan perguruan tinggi perlu terus menanamkan pendidikan karakter, etika digital dan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja.

    Masyarakat perlu membangun kontrol sosial.

    Dan anak muda perlu diberi ruang yang lebih luas untuk berkarya.


    Kita tidak membutuhkan propaganda yang mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

    Kita membutuhkan keberanian untuk mengatakan:

    Yang salah, mari kita perbaiki. Yang baik, mari kita perkuat.


    Itulah cara yang sehat untuk membangun sebuah daerah.

    Sidenreng Rappang terlalu besar untuk hanya dikenal karena ulah segelintir orang.

    Ia memiliki masjid, sekolah, kampus, sawah, pasar, pesantren, komunitas, pelaku usaha, guru, petani, mahasiswa, profesional dan anak-anak muda yang sedang menulis masa depannya.

    Mereka semua adalah bagian dari kertas putih itu.


    Menulis Halaman Baru

    Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya:

    “Mengapa Sidenreng Rappang disebut Kota Passobis?”


    Kemudian menggantinya dengan pertanyaan yang lebih penting:

    “Apa yang bisa kita lakukan agar dunia melihat lebih banyak cerita baik dari Sidenreng Rappang?”

    Pertanyaan kedua jauh lebih produktif.


    Karena reputasi sebuah daerah tidak dibangun hanya dengan membantah stigma.

    Reputasi dibangun melalui kerja nyata.

    Melalui prestasi.

    Melalui pendidikan.

    Melalui integritas.

    Melalui inovasi.


    Melalui anak muda yang memilih berkarya daripada menyerah pada keadaan.

    Sidenreng Rappang adalah kertas putih.

    Dan benar, noda di atas kertas putih akan mudah terlihat.


    Tetapi satu noda tidak pernah cukup untuk menceritakan seluruh isi sebuah kertas.

    Masih ada halaman yang panjang.

    Masih ada ruang yang luas.

    Dan kepada generasi mudanya, ruang itu adalah kesempatan.


    Tulislah dengan tinta ilmu.

    Tulislah dengan kerja keras.

    Tulislah dengan integritas.

    Tulislah dengan kreativitas.

    Tulislah dengan prestasi.


    Sebab suatu hari nanti, ketika orang menyebut Sidenreng Rappang, kita berharap yang muncul bukan lagi sebuah label yang lahir dari kesalahan segelintir orang.


    Melainkan sebuah daerah yang dikenal karena tanahnya yang subur, masyarakatnya yang bekerja keras, tradisi ilmunya, kehidupan keagamaannya, anak mudanya yang kreatif, serta manusia-manusia hebat yang terus tumbuh dari dalamnya.

    Sidenreng Rappang masih memiliki banyak halaman untuk ditulis.

    Dan kita semua memiliki kesempatan untuk menentukan tinta seperti apa yang akan digunakan.

    Komentar

    Tampilkan