![]() |
| Sulawesi Selatan Masuk Daftar Waspada! BMKG Ungkap Ancaman Angin Kencang di Tengah Kemarau Indonesia |
JAKARTA, NARASIRAKYAT.ID — Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung di tengah kondisi atmosfer yang cukup menantang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia masih akan didominasi cuaca relatif kering sepanjang periode 18–24 Agustus 2026.
Kondisi tersebut berkaitan dengan semakin meluasnya wilayah yang memasuki musim kemarau, diperkuat pengaruh El Niño yang berada pada intensitas sangat kuat serta IOD positif.
Berdasarkan pembaruan informasi BMKG pada 17 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB, sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada Dasarian I Agustus 2026.
Kondisi kering juga tercermin dari distribusi curah hujan. BMKG mencatat 90,79 persen wilayah Indonesia berada pada kategori curah hujan rendah, sementara 87,28 persen wilayah mengalami hujan di bawah normal.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan perayaan kemerdekaan, sebagian masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan ketersediaan air, panas, kekeringan hingga risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kemarau Mendominasi, Tetapi Hujan Belum Sepenuhnya Pergi
Musim kemarau bukan berarti seluruh wilayah Indonesia akan mengalami hari-hari tanpa hujan.
BMKG mencatat bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih terjadi di sejumlah daerah. Pada periode 14–16 Agustus 2026, misalnya, curah hujan tercatat mencapai 93 mm per hari di Sumatra Utara, 87 mm per hari di Sumatra Barat, 49 mm per hari di Papua, dan 22 mm per hari di Maluku.
Fenomena tersebut menunjukkan karakter cuaca Indonesia yang sangat dinamis.
Di tengah dominasi kemarau, hujan lokal masih dapat tumbuh ketika kondisi atmosfer mendukung. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), perlambatan dan belokan angin, kelembapan serta kondisi topografi dapat memicu pertumbuhan awan konvektif.
Dengan kata lain, masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi dua sisi cuaca sekaligus: kondisi kering yang berkepanjangan dan hujan lokal yang dapat berlangsung cukup deras dalam waktu singkat.
El Niño Kuat dan IOD Positif Jadi Penggerak Kondisi Kering
BMKG memprakirakan curah hujan pada periode Dasarian II Agustus hingga Dasarian I September 2026 secara umum berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–150 mm per dasarian.
Curah hujan rendah, yakni kurang dari 50 mm per dasarian, masih berpeluang mendominasi wilayah yang luas, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Salah satu faktor penting adalah pengaruh El Niño yang berada pada intensitas sangat kuat bersama Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Kedua fenomena tersebut secara umum cenderung mengurangi suplai uap air ke Indonesia sehingga atmosfer menjadi relatif lebih kering.
Namun, pengaruhnya tidak seragam.
Dinamika atmosfer regional dan faktor lokal tetap dapat menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan awan hujan di wilayah tertentu.
MJO dan Gelombang Atmosfer Masih Membuka Peluang Hujan
Dalam sepekan ke depan, aktivitas MJO diprakirakan berada di sebagian besar Sumatra, Kalimantan bagian barat dan utara, serta Papua bagian utara dan barat.
Selain itu, Gelombang Kelvin diprediksi aktif di sebagian besar Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan. Sementara Gelombang Rossby Ekuatorial berpotensi bergerak di sebagian Kalimantan bagian utara dan timur.
Interaksi berbagai sistem atmosfer tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan awan konvektif, terutama ketika didukung konvergensi angin, kelembapan dan labilitas atmosfer lokal.
Fenomena inilah yang membuat prakiraan cuaca tidak dapat disederhanakan menjadi “Indonesia sedang kemarau”.
Di satu sisi, kondisi kering mendominasi secara klimatologis. Di sisi lain, hujan lebat tetap dapat muncul secara lokal ketika dinamika atmosfer mendukung.
Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang
Untuk periode 17–19 Agustus 2026, BMKG memprakirakan cuaca Indonesia umumnya berada pada kondisi cerah berawan hingga hujan lebat.
Peningkatan hujan dengan intensitas sedang perlu diwaspadai di sejumlah wilayah, antara lain Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jambi, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Utara, Maluku, Papua Tengah dan Papua Pegunungan.
Papua Pegunungan menjadi wilayah dengan kategori siaga untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat.
Sementara potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Aceh, Jawa Timur, Kepulauan Riau, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.
Memasuki periode 20–23 Agustus 2026, kewaspadaan terhadap hujan sedang kembali diperlukan di Aceh, Sumatra Barat, Kalimantan Tengah, Papua Pegunungan dan Papua.
Potensi angin kencang juga masih dapat terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur serta sejumlah provinsi di Sumatra, Kalimantan dan Papua.
Sulawesi Selatan Perlu Tetap Waspada
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, informasi ini memiliki relevansi khusus.
Sulawesi Selatan tercantum dalam wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang pada periode 17–19 Agustus maupun 20–23 Agustus 2026.
Artinya, meskipun sebagian wilayah Sulawesi sedang berada dalam kondisi kemarau, masyarakat tidak boleh menganggap seluruh periode akan berlangsung tanpa gangguan cuaca.
Potensi angin kencang dapat meningkatkan risiko pohon atau dahan tumbang, baliho roboh dan gangguan lainnya, terutama ketika terjadi perubahan cuaca secara cepat.
Kondisi tersebut penting diperhatikan oleh masyarakat yang melakukan aktivitas luar ruangan, termasuk perjalanan, kegiatan pertanian, pekerjaan konstruksi dan aktivitas di kawasan terbuka.
Lima Fakta Menarik Prakiraan Cuaca Indonesia 18–24 Agustus 2026
1. Sebanyak 76,5 persen wilayah telah memasuki musim kemarau
BMKG mencatat 535 Zona Musim atau ZOM telah memasuki musim kemarau pada Dasarian I Agustus 2026.
2. Lebih dari 90 persen wilayah berada dalam kategori hujan rendah
Sebanyak 90,79 persen wilayah Indonesia tercatat berada pada kategori curah hujan rendah.
3. Hujan di bawah normal mendominasi sebagian besar Indonesia
BMKG mencatat 87,28 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal, menunjukkan kondisi kering masih menjadi karakter utama.
4. El Niño sangat kuat tidak berarti hujan hilang total
Hujan sedang hingga lebat tetap dapat terjadi secara lokal karena pengaruh MJO, gelombang atmosfer, konvergensi angin, kelembapan dan faktor topografi.
5. Sulawesi Selatan masuk wilayah yang perlu mewaspadai angin kencang
Provinsi Sulawesi Selatan termasuk wilayah yang diprakirakan berpotensi mengalami angin kencang pada periode 17–19 dan 20–23 Agustus 2026.
BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Karhutla
Dominasi kondisi kering membawa konsekuensi yang perlu diantisipasi bersama.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar secara sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar dan hutan.
Ketika menemukan indikasi titik api atau hotspot, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak terkait.
Kewaspadaan tersebut menjadi semakin penting karena kondisi kering dapat membuat vegetasi lebih mudah terbakar dan mempercepat penyebaran api.
Jangan Lengah Saat Hujan Datang
Paradoks musim kemarau juga perlu dipahami.
Meski kondisi umum cenderung kering, hujan lokal dengan intensitas ringan hingga sedang, bahkan hujan lebat, masih dapat terjadi dan berpotensi disertai kilat, petir maupun angin kencang.
Karena itu, masyarakat diminta tetap mewaspadai kemungkinan pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan hingga sambaran petir.
Ketika cuaca buruk terjadi, masyarakat sebaiknya tidak berteduh di bawah pohon, papan reklame atau bangunan yang rapuh.
Untuk aktivitas luar ruangan, BMKG juga mengingatkan pentingnya melindungi diri dari paparan matahari dan menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama pada siang hari.
Lima Langkah Menghadapi Pekan Kemarau
Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat menghadapi kondisi cuaca sepekan ke depan:
1. Hemat air, terutama di wilayah yang sudah mengalami kekeringan.
2. Gunakan pelindung dari sinar matahari dan cukup minum ketika beraktivitas di luar ruangan.
3. Hindari pembakaran terbuka, termasuk membakar sampah atau membuka lahan dengan api.
4. Waspadai perubahan cuaca mendadak, terutama potensi angin kencang dan petir.
5. Pantau informasi resmi BMKG sebelum melakukan aktivitas yang bergantung pada kondisi cuaca.
Masyarakat dapat memperoleh pembaruan prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui , aplikasi InfoBMKG serta kanal media sosial resmi @infobmkg.
Kemerdekaan di Tengah Tantangan Iklim
HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini berlangsung ketika sebagian besar wilayah Indonesia menghadapi kondisi kemarau yang semakin dominan.
Situasi tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat menjaga kehidupan dan lingkungan di tengah tantangan alam yang terus berubah.
Air harus dijaga.
Hutan harus dilindungi.
Lahan tidak boleh dibakar sembarangan.
Dan setiap perubahan cuaca harus dihadapi dengan pengetahuan, kewaspadaan dan kesiapsiagaan.
Kemarau mungkin mendominasi, tetapi kesiapsiagaan tidak boleh mengering.
Hujan mungkin datang tiba-tiba, tetapi kewaspadaan tidak boleh terlambat.
Di tengah HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia, mari menjadikan informasi cuaca bukan sekadar berita, melainkan dasar untuk mengambil keputusan yang lebih aman, menjaga lingkungan dan melindungi sesama.
Catatan: Informasi prakiraan ini bersumber dari pembaruan Direktorat Meteorologi Publik BMKG tertanggal 17 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB untuk periode prakiraan 18–24 Agustus 2026.















