![]() |
| Zulkifli Raih Terbaik I Pengucapan Ikrar Guru, Bawa Nama Sidrap Bersinar di Porsenijar 2026 |
NARASIRAKYAT.ID, BARANTI — Ada cara unik yang dilakukan UPT SD Negeri 2 Tonronge untuk merayakan kemerdekaan Republik Indonesia. Bukan sekadar membawa atribut merah putih, para siswa justru mengajak masyarakat bernostalgia melalui permainan tradisional yang pernah menjadi bagian dari keseharian anak-anak generasi 1990-an.
Layang-layang mengudara, gasing berputar, egrang bambu melangkah, congklak kembali dimainkan, hingga boneka sarung tampil menghibur. Semua dikemas dalam sebuah parade budaya bertema “Melestarikan Permainan Tradisional, Berkarakter dan Berbudaya.”
Konsep kreatif tersebut dibawa dalam Lomba Karnaval HUT ke-81 Republik Indonesia tingkat Kecamatan Baranti, 12 Agustus 2026.
Dengan nomor urut start 01, rombongan UPT SD Negeri 2 Tonronge tampil penuh percaya diri. Anak-anak bukan hanya berjalan mengikuti rute karnaval, tetapi menjadi bagian dari sebuah pertunjukan yang membawa pesan tentang pentingnya menjaga permainan tradisional di tengah derasnya perkembangan teknologi dan permainan digital.
Dan hasilnya membanggakan.
UPT SD Negeri 2 Tonronge berhasil meraih Juara II Lomba Karnaval HUT ke-81 RI tingkat Kecamatan Baranti.
Ketika Karnaval Berubah Menjadi Mesin Waktu
Bagi generasi yang tumbuh pada era 1990-an, sejumlah permainan yang ditampilkan UPT SD Negeri 2 Tonronge bukanlah sesuatu yang asing.
Layang-layang pernah memenuhi langit sore. Gasing dimainkan di tanah lapang. Anak-anak berlomba menggunakan egrang bambu maupun tempurung. Lompat tali atau sapintrong menjadi permainan yang menguji kelincahan.
Sementara congklak menghadirkan permainan yang membutuhkan strategi dan ketelitian.
Ada pula cellu-cellu bulenreng dan boneka sarung yang menjadi bagian dari kekayaan permainan tradisional yang diperkenalkan dalam parade tersebut.
Ketika semua permainan itu dibawa ke tengah karnaval, suasana seolah berubah menjadi sebuah perjalanan singkat menuju masa lalu.
Anak-anak masa kini memainkan permainan yang dahulu menjadi bagian dari masa kecil orang tua mereka.
Di situlah kekuatan konsep UPT SD Negeri 2 Tonronge.
Mereka tidak hanya menampilkan sesuatu yang menarik secara visual, tetapi menghadirkan nostalgia sekaligus pesan pendidikan.
Dari Permainan Sederhana Lahir Karakter
Permainan tradisional sering kali terlihat sederhana.
Tidak membutuhkan layar. Tidak memerlukan jaringan internet. Tidak bergantung pada perangkat elektronik.
Namun, justru dari kesederhanaan itulah banyak nilai pendidikan tumbuh.
Permainan kelompok mengajarkan anak untuk berkomunikasi dan bekerja sama. Permainan ketangkasan melatih keberanian dan koordinasi. Permainan yang membutuhkan strategi menumbuhkan kemampuan berpikir. Sementara kompetisi mengajarkan sportivitas, menerima kemenangan maupun kekalahan.
Nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting ketika anak-anak hidup di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat.
Karena itu, tema “Melestarikan Permainan Tradisional, Berkarakter dan Berbudaya” bukan sekadar slogan. Tema tersebut menjadi pesan utama yang ingin disampaikan UPT SD Negeri 2 Tonronge melalui penampilan mereka.
Karnaval dijadikan ruang belajar di luar kelas.
Anak-anak tidak hanya mengenal budaya melalui buku, tetapi melalui pengalaman langsung.
Panggung Penghormatan Jadi Momen Paling Berkesan
Antusiasme peserta didik semakin terlihat ketika rombongan UPT SD Negeri 2 Tonronge tiba di panggung penghormatan.
Satu per satu permainan tradisional diperagakan.
Suasana semakin semarak ketika Camat Baranti Hj. Mastura, S.Pt. dan Anggota DPRD Kabupaten Sidenreng Rappang Dapil 3 Dra. Hj. Sitti Rahmah, M.Si., turut bermain bersama para peserta didik.
Momen tersebut sontak menciptakan suasana yang berbeda.
Batas antara pejabat, guru, dan peserta didik seakan mencair dalam sebuah permainan tradisional.
Anak-anak yang sebelumnya tampil dengan penuh konsentrasi menjadi semakin bersemangat ketika melihat para tokoh tersebut ikut larut dalam permainan yang mereka bawa.
Masyarakat yang menyaksikan pun mendapatkan suguhan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga sarat makna.
Sebuah pesan sederhana terlihat jelas: melestarikan budaya dapat dilakukan bersama-sama dan dengan cara yang menyenangkan.
Kepala Sekolah: Anak Harus Mengalami, Bukan Sekadar Mendengar
Kepala UPT SD Negeri 2 Tonronge, H. Abd Rahman Nu'mang, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan karnaval tersebut.
Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengenal, mencintai, sekaligus melestarikan budaya melalui pengalaman langsung.
«“Melalui karnaval ini, kami ingin anak-anak tidak hanya mengenal permainan tradisional dari cerita, tetapi juga merasakan dan mempraktikkannya secara langsung. Permainan tradisional mengajarkan kebersamaan, kreativitas, sportivitas, dan karakter.”»
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan karnaval ditempatkan bukan sekadar sebagai agenda seremonial memperingati kemerdekaan.
Ada proses pembelajaran yang sengaja dibangun.
Anak-anak belajar bekerja sama. Guru mengarahkan kreativitas. Orang tua dan masyarakat menjadi bagian dari suasana. Sementara permainan tradisional menjadi media untuk mempertemukan generasi masa lalu dan generasi masa kini.
Kreativitas Berbuah Juara II
Konsep yang kuat akhirnya membuahkan hasil.
UPT SD Negeri 2 Tonronge berhasil meraih Juara II Lomba Karnaval dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia tingkat Kecamatan Baranti.
Penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas berbasis budaya mampu tampil kompetitif dalam sebuah perlombaan.
Lebih dari sekadar posisi juara, capaian tersebut memberikan validasi bahwa pelestarian budaya dapat dikemas dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak.
Anak-anak tidak dipaksa untuk menghafal budaya.
Mereka diajak memainkan, memeragakan, merasakan, dan merayakannya.
Lima Fakta Menarik Karnaval UPT SD Negeri 2 Tonronge
1. Start dengan nomor 01
UPT SD Negeri 2 Tonronge menjadi rombongan dengan nomor urut start 01 dalam Lomba Karnaval HUT ke-81 RI tingkat Kecamatan Baranti.
2. Mengusung permainan era 90-an
Konsep penampilan menghidupkan kembali permainan yang populer di masa lalu, seperti layang-layang, gasing, lompat tali, egrang, congklak, dan boneka sarung.
3. Menggabungkan nostalgia dan pendidikan karakter
Permainan tradisional ditampilkan bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk menyampaikan nilai kebersamaan, kreativitas, ketangkasan, sportivitas, dan gotong royong.
4. Pejabat ikut bermain bersama siswa
Camat Baranti Hj. Mastura dan Anggota DPRD Sidrap Dapil 3 Dra. Hj. Sitti Rahmah turut bermain bersama peserta didik di panggung penghormatan.
5. Berhasil meraih Juara II
Kreativitas dan kekuatan konsep membawa UPT SD Negeri 2 Tonronge meraih Juara II Lomba Karnaval HUT ke-81 RI tingkat Kecamatan Baranti.
Ketika Boneka Sarung Mengajarkan Arti Kemerdekaan
Ada sesuatu yang menarik dari cara anak-anak UPT SD Negeri 2 Tonronge merayakan kemerdekaan.
Mereka tidak hanya membawa bendera.
Mereka membawa ingatan.
Mereka membawa permainan yang pernah menemani masa kecil banyak orang.
Layang-layang mengingatkan pada langit yang luas. Gasing mengajarkan keseimbangan. Egrang mengajarkan keberanian. Congklak mengasah strategi. Lompat tali melatih ketangkasan. Dan boneka sarung menghadirkan keceriaan sederhana yang mungkin semakin jarang ditemui dalam kehidupan anak-anak hari ini.
Semua itu kemudian bertemu dalam satu panggung: karnaval kemerdekaan.
Di tengah derasnya arus digital, permainan tradisional membutuhkan generasi yang mau memperkenalkannya kembali.
Dan UPT SD Negeri 2 Tonronge telah menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang kaku.
Budaya bisa dilestarikan sambil bermain. Budaya bisa dikenalkan sambil tertawa. Budaya bisa diwariskan melalui pengalaman yang menyenangkan.
Juara II menjadi bonus.
Pesan budayanya jauh lebih besar.
Karena sesungguhnya, ketika seorang anak memainkan permainan tradisional hari ini, ia sedang membantu memastikan bahwa sebuah bagian dari masa lalu tidak hilang ditelan zaman.
Dari Baranti, permainan masa lalu kembali hidup. Dari tangan anak-anak UPT SD Negeri 2 Tonronge, budaya kembali menemukan ruang untuk tumbuh.
Dan dari sebuah karnaval sederhana, lahir pesan yang sangat penting untuk generasi masa depan:
«Budaya tidak cukup hanya dikenang. Budaya harus dimainkan, dikenalkan, dicintai, dan dilestarikan.»















