-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Iklan

    Bangkit Dari Masjid Sidrap Apresiasi Guru Mengaji di Empagae, Kisah Inspiratif dan Pengabdian Hidupkan Cahaya Al Qur'an

    Satry Polang
    Senin, 28 September 2026, September 28, 2026 WIB Last Updated 2026-09-28T11:13:15Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250
    Bangkit Dari Masjid Sidrap Apresiasi Guru Mengaji di Empagae, Kisah Inspiratif dan Pengabdian Hidupkan Cahaya Al Qur'an


    SIDRAP, NarasiRakyat.id — Sore itu, sebuah rumah panggung di Empagae, Kabupaten Sidenreng Rappang, tidak hanya menjadi tempat tinggal. Rumah sederhana tersebut menjadi ruang belajar bagi anak-anak yang datang untuk mengenal huruf-huruf Al-Qur’an.

    Di sanalah Sartika, 30 tahun, menghabiskan sebagian waktunya mendampingi anak-anak belajar mengaji.


    Sudah sekitar satu dekade ia menjalani aktivitas tersebut. Tidak ada ruang kelas khusus, tidak pula fasilitas pendidikan yang lengkap. Anak-anak datang setelah pulang sekolah dan belajar dalam suasana sederhana di rumahnya.

    Namun, dari tempat sederhana itu, Sartika ikut menjaga agar tradisi belajar Al-Qur’an tetap tumbuh di tengah masyarakat.


    Informasi dari seorang pengasuh pondok di Massepe membawa Komunitas Bangkit dari Masjid (BDM) berkunjung ke Empagae. Kunjungan itu menjadi bagian dari silaturahmi sekaligus bentuk kepedulian kepada para guru mengaji kampung yang selama bertahun-tahun mendampingi anak-anak tanpa banyak sorotan.

    Ketika rombongan tiba, Sartika sedang mengajar anak-anak mappakalifu, belajar mengenal huruf-huruf Al-Qur’an.


    “Biasanya anak-anak datang mengaji setelah pulang sekolah. Saya terima semua anak yang mau belajar di sini. Mungkin karena saya memang suka dengan anak-anak,” tutur Sartika.

    Bagi Sartika, mengajar bukan sekadar mengajarkan kemampuan membaca Al-Qur’an. Anak-anak juga dibimbing menghafal doa-doa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.


    Selama kurang lebih 10 tahun, ia telah menyaksikan berbagai cerita anak-anak yang datang belajar. Ada suka, ada pula duka. Namun, semangatnya untuk terus mengajar tidak ikut surut.

    Kunjungan BDM hari itu membawa sebuah hadiah yang diterima Sartika dengan penuh syukur.


    Sebelum rombongan berpamitan, Sartika bersama para santrinya mendoakan orang-orang yang telah ikut berkontribusi.

    Bagi BDM, peran mereka bukanlah sebagai pemberi bantuan semata.


    “Alhamdulillah, kami hanya kurir. Kami menjadi jembatan bagi orang-orang baik yang peduli kepada para guru mengaji kampung,” ujar Munaing, PJ BDM.


    Dari Rumah Sartika, BDM Menemukan Kisah Lain

    Perjalanan kemudian berlanjut.

    BDM menemui Amir, 46 tahun, warga Empagae yang telah sekitar enam tahun mengajar mengaji. Sambutan hangat kembali diterima rombongan.

    Amir bercerita bahwa proses mendidik anak-anak membaca Al-Qur’an tidak berhenti ketika mereka meninggalkan tempat mengaji.


    Menurutnya, dukungan orang tua sangat menentukan perkembangan kemampuan anak.

    “Saya terkadang mengundang orang tua anak-anak untuk datang, bukan sekadar mengantar. Saya sampaikan agar mereka membantu mengingatkan anak-anak mengulang bacaan di rumah. Kalau hanya mengandalkan waktu belajar di sini, terkadang belum maksimal,” kata Amir.


    Kalimat itu sederhana, tetapi memperlihatkan bahwa menjadi guru mengaji kampung bukan hanya persoalan mengajarkan bacaan.

    Ada proses mendampingi, mengingatkan, membangun komunikasi dengan orang tua, sekaligus menjaga semangat anak-anak agar terus belajar.


    Saat Amir menyampaikan terima kasih atas hadiah yang diterimanya, Munaing menjelaskan alasan BDM memilih kata “hadiah”, bukan “bantuan”.

    “Kami datang untuk bersilaturahmi dan mengantarkan hadiah. Rasanya kurang pantas bagi kami menyebutnya bantuan kepada orang-orang yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Ini adalah tanda cinta dari para donatur untuk guru mengaji kampung,” ujar Munaing.


    Mendengar penjelasan itu, mata Amir tampak berkaca-kaca.

    Ia kemudian mendoakan anggota BDM dan para donatur agar diberi rezeki yang halal dan berkah, kesehatan, serta kemudahan dalam setiap urusan.

    Sebuah pertemuan singkat berubah menjadi ruang saling mendoakan.


    Dua Dekade Mengajar Al-Qur’an

    Petunjuk Amir kemudian membawa rombongan menuju rumah Alimuddin, 43 tahun, di Jalan Poros Akakae.

    Kisah Alimuddin berbeda lagi.

    Ia telah mengajar mengaji selama sekitar 20 tahun. Selain menjadi guru mengaji, ia juga bertugas sebagai marbot masjid.


    Alimuddin tinggal di tempat yang disediakan oleh jemaah dan pengurus masjid.

    Dua dekade mengajar membuat banyak kenangan tersimpan dalam ingatannya. Salah satunya ketika ia masih rutin mendatangi rumah-rumah warga untuk mengajar anak-anak.


    Kini, aktivitas tersebut lebih jarang dilakukan karena kendaraan yang biasa digunakannya mengalami kerusakan.

    “Dulu saya tidak hanya mengajar di sini. Kadang saya datang ke rumah anak-anak. Sekarang sudah jarang karena kendaraan saya rusak,” tuturnya.


    Keterbatasan tersebut tidak menghentikan langkahnya untuk tetap mengajar.

    Sebagai penyandang disabilitas, Alimuddin tetap menjalankan aktivitasnya mendampingi anak-anak belajar Al-Qur’an.


    Ada satu hal yang membuatnya merasa bersyukur.

    Sejumlah anak yang dahulu pernah belajar kepadanya kini telah tumbuh menjadi pendakwah dan imam masjid.


    Barangkali di situlah ukuran paling sederhana dari sebuah pengabdian.

    Tidak semua guru mengaji melihat langsung hasil dari apa yang mereka tanam. Tetapi Alimuddin telah menyaksikan sebagian dari benih itu tumbuh menjadi orang-orang yang kembali mengajarkan agama kepada masyarakat.


    Ketika Kebaikan Bertemu Kebaikan

    Dalam perbincangan, muncul pula kisah seorang guru mengaji di Takkalasi yang pernah menerima kursi roda.

    Alimuddin mengaku pernah melihat videonya di media sosial.

    Anggota BDM kemudian menceritakan bahwa Abuya Asong, yang turut dalam kunjungan tersebut, pernah ikut mengantarkan kursi roda itu melalui kolaborasi dengan Pejuang Hijrah Makassar.


    Cerita tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian kepada guru mengaji tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama.

    Ada yang datang membawa hadiah. Ada yang membantu fasilitas. Ada yang menyumbangkan tenaga. Ada pula yang sekadar menyisihkan sebagian rezekinya.


    Semua bertemu pada satu titik: memastikan mereka yang selama ini menjaga pendidikan Al-Qur’an di tingkat kampung tidak berjalan sendirian.

    Di akhir pertemuan, Alimuddin menyampaikan apresiasi kepada BDM dan mendoakan komunitas tersebut.


    Lima Fakta Menarik dari Perjalanan BDM di Empagae

    1. Sartika telah sekitar 10 tahun mengajar mengaji.
    Di rumah panggungnya, anak-anak belajar mengenal huruf Al-Qur’an sekaligus menghafal doa-doa sehari-hari.

    2. Amir melibatkan orang tua dalam proses belajar.
    Ia mengingatkan bahwa waktu belajar mengaji di tempat guru saja belum cukup. Anak-anak membutuhkan pendampingan untuk mengulang bacaan di rumah.

    3. Alimuddin telah sekitar 20 tahun mengajar Al-Qur’an.
    Selain menjadi guru mengaji, ia juga menjalankan tugas sebagai marbot masjid.

    4. Keterbatasan fisik tidak menghentikan pengabdian Alimuddin.
    Kendaraan yang rusak memang membuatnya lebih jarang mendatangi rumah-rumah anak untuk mengajar, tetapi aktivitas mengajarnya tetap berjalan.

    5. Sebagian murid Alimuddin kini menjadi pendakwah dan imam masjid.
    Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa pengabdian seorang guru mengaji dapat meninggalkan jejak yang panjang, bahkan ketika dilakukan dalam ruang yang sederhana.


    Cahaya yang Tumbuh dari Rumah-Rumah Sederhana

    Kunjungan BDM ke tiga rumah di Empagae mungkin terlihat sederhana.

    Tidak ada panggung besar. Tidak ada seremoni panjang. Tidak ada sorotan lampu.

    Hanya ada rumah-rumah sederhana, guru mengaji, anak-anak, Al-Qur’an, hadiah dari para donatur, dan doa yang dipanjatkan dengan tulus.


    Namun, dari ruang-ruang sederhana seperti itulah pendidikan agama terus berlangsung.

    Sartika dengan kecintaannya kepada anak-anak. Amir dengan upayanya melibatkan orang tua. Alimuddin dengan dua dekade pengabdiannya dan keterbatasan yang tetap ia jalani.


    Mereka mungkin bukan nama yang sering muncul di ruang publik. Tetapi setiap huruf Al-Qur’an yang berhasil dibaca seorang anak, setiap doa yang berhasil dihafal, dan setiap murid yang kelak berdiri sebagai imam atau pendakwah, merupakan bagian dari jejak pengabdian mereka.

    Bagi BDM, menjadi “kurir” kebaikan berarti menghadirkan kembali perhatian kepada mereka yang selama ini bekerja dalam senyap.


    Sementara bagi para guru mengaji kampung, hadiah yang diterima mungkin tidak hanya bernilai secara materi. Ia adalah pesan bahwa perjuangan mereka dilihat, dihargai, dan tidak dilupakan.

    Sebab, cahaya Al-Qur’an tidak selalu tumbuh dari gedung yang megah.


    Kadang ia tumbuh dari sebuah rumah panggung, dari suara anak-anak yang mengeja huruf demi huruf, dan dari ketulusan seorang guru yang memilih tetap mengajar meski memiliki banyak keterbatasan.

    Di Empagae, cahaya itu masih menyala. Dan para guru mengaji kampung adalah salah satu penjaganya.

    Komentar

    Tampilkan