![]() |
| BMKG Peringatkan Udara Panas di SulSel hingga 45°C, Sidrap Masuk Daerah Waspada |
MAKASSAR, NarasiRakyat.id — Matahari terasa semakin menyengat di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan. Di tengah aktivitas masyarakat yang tetap berjalan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi udara terasa panas (feels like) pada 24–26 September 2026.
Dalam peringatan tersebut, kondisi udara terasa panas dipetakan dalam dua tingkat. Kategori Waspada berada pada kisaran 35–40°C, sementara kategori Siaga berada pada kisaran 40–45°C. Informasi ini menjadi pengingat agar masyarakat tidak menganggap kondisi panas sebagai sekadar ketidaknyamanan biasa.
Yang perlu digarisbawahi, angka tersebut merupakan indikator suhu yang dirasakan tubuh (feels like), bukan berarti suhu udara aktual di semua wilayah Sulawesi Selatan mencapai 45°C.
Bukan Sekadar Panas Biasa
Cuaca panas dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari. Petani yang bekerja di sawah, pekerja konstruksi, pedagang kaki lima, pengemudi, pelajar, hingga masyarakat yang harus bepergian di siang hari termasuk kelompok yang perlu lebih memperhatikan kondisi tubuh.
BMKG Wilayah IV Makassar menyampaikan peringatan dini terkait potensi udara terasa panas di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan selama periode tersebut. Pemberitaan mengenai peringatan ini juga menyebut adanya wilayah yang masuk kategori Waspada dan Siaga.
Bagi masyarakat, pesan utamanya sederhana: jangan menunggu tubuh memberi tanda bahaya baru mulai menjaga diri.
Memperbanyak minum air putih, mengurangi aktivitas fisik berat pada saat matahari sedang terik, mencari tempat teduh, serta menggunakan pelindung ketika harus berada di luar ruangan merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Sidrap Termasuk Wilayah yang Perlu Waspada
Salah satu daerah yang masuk dalam pemberitaan mengenai potensi udara panas tersebut adalah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Kondisi ini menjadi perhatian tersendiri karena sebagian aktivitas masyarakat Sidrap sangat berkaitan dengan pekerjaan di ruang terbuka, terutama sektor pertanian.
Saat cuaca panas meningkat, masyarakat yang bekerja di bawah paparan matahari perlu memperhatikan kecukupan cairan dan waktu istirahat.
Terlebih, kondisi kekeringan yang sebelumnya terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan membuat kewaspadaan terhadap cuaca panas semakin relevan.
BMKG dalam informasi cuaca nasionalnya juga mengingatkan masyarakat untuk mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang lebih kering selama musim kemarau.
Siapa yang Perlu Lebih Berhati-hati?
Cuaca panas bukan hanya persoalan rasa gerah.
Paparan panas berkepanjangan dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat panas, khususnya ketika seseorang melakukan aktivitas fisik berat dalam waktu lama.
Karena itu, masyarakat yang bekerja atau beraktivitas di luar ruangan sebaiknya mengatur waktu aktivitas. Jika memungkinkan, pekerjaan berat dapat dilakukan ketika kondisi panas tidak terlalu menyengat.
Anak-anak dan orang lanjut usia juga perlu mendapat perhatian lebih dari keluarga. Pastikan mereka cukup minum dan tidak terlalu lama berada di bawah paparan matahari langsung.
Lima Fakta Penting tentang Peringatan Panas Sulsel
1. Peringatan berlaku 24–26 September 2026.
BMKG Wilayah IV Makassar mengeluarkan peringatan dini terkait potensi udara terasa panas di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan selama periode tersebut.
2. Ada dua kategori kewaspadaan.
Kategori Waspada berada pada kisaran 35–40°C, sedangkan kategori Siaga berada pada kisaran 40–45°C berdasarkan indikator feels like.
3. Angka 45°C bukan berarti suhu udara aktual mencapai 45°C di semua daerah.
Angka tersebut berkaitan dengan kondisi udara yang terasa panas bagi tubuh. Karena itu, istilah feels like penting dipahami agar informasi tidak menimbulkan salah tafsir.
4. Sidrap termasuk wilayah yang perlu memperhatikan kondisi ini.
Daerah dengan aktivitas masyarakat yang banyak berlangsung di ruang terbuka perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan panas.
5. Kondisi panas perlu direspons dengan tindakan sederhana.
Cukupi kebutuhan cairan, kurangi aktivitas berat ketika matahari sangat terik, gunakan pelindung dari matahari, dan segera beristirahat apabila tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan akibat panas.
Jangan Tunggu Haus
Salah satu kebiasaan yang sering dianggap sepele adalah menunggu rasa haus sebelum minum.
Padahal, ketika aktivitas dilakukan di tengah suhu panas, kebutuhan cairan tubuh dapat meningkat. Karena itu, menjaga asupan air secara teratur menjadi bagian penting dari langkah antisipasi.
Bagi pekerja lapangan, petani dan masyarakat yang harus berada di luar ruangan, membawa air minum saat beraktivitas dapat menjadi kebiasaan sederhana yang sangat membantu.
Gunakan topi atau payung bila diperlukan. Kenakan pakaian yang nyaman dan memungkinkan tubuh tetap mendapatkan sirkulasi udara yang baik.
Jika muncul keluhan seperti pusing, lemas berlebihan, mual, kebingungan, atau kondisi tubuh terasa semakin buruk setelah terpapar panas, segera hentikan aktivitas dan cari tempat yang lebih sejuk serta pertimbangkan mendapatkan pertolongan medis.
Cuaca Panas Bukan Alasan untuk Panik
Peringatan dini BMKG bukan dimaksudkan untuk membuat masyarakat takut. Justru sebaliknya, informasi tersebut menjadi alat agar masyarakat dapat mengambil langkah lebih awal.
Dalam dunia meteorologi, peringatan dini merupakan bagian penting dari mitigasi. Masyarakat diberi informasi mengenai potensi kondisi cuaca sehingga dapat menyesuaikan aktivitas dan mengurangi risiko yang mungkin muncul.
Karena itu, warga Sulawesi Selatan tidak perlu panik. Yang diperlukan adalah kewaspadaan, kesiapan, dan kebiasaan menjaga kondisi tubuh.
Informasi cuaca juga sebaiknya diperoleh dari kanal resmi BMKG karena kondisi atmosfer dapat berubah dan informasi prakiraan diperbarui secara berkala. BMKG menyediakan halaman peringatan dini cuaca yang dapat digunakan masyarakat untuk memantau kondisi terbaru.
Tetap Produktif, Tetap Jaga Diri
Panas mungkin tidak bisa dihentikan, tetapi dampaknya dapat diminimalkan dengan kesiapan.
Bagi petani, tetaplah memperhatikan waktu kerja dan istirahat. Bagi orang tua, pastikan anak-anak cukup minum. Bagi pekerja lapangan, jangan abaikan sinyal tubuh. Bagi seluruh masyarakat, jadikan informasi cuaca sebagai bagian dari perencanaan aktivitas sehari-hari.
Sebab, menghadapi cuaca ekstrem bukan hanya tentang bertahan dari panas, tetapi tentang bagaimana menjaga kesehatan, produktivitas, dan keselamatan bersama.















