-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Iklan

    Hari Santri 2026 di Sidrap Gaungkan Gerakan Pesantren Sehat dan Ramah Anak

    Satry Polang
    Kamis, 22 Oktober 2026, Oktober 22, 2026 WIB Last Updated 2026-10-22T10:48:56Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250
    Hari Santri 2026 di Sidrap Gaungkan Gerakan Pesantren Sehat dan Ramah Anak


    NARASIRAKYAT.ID, SIDRAP  – Sebutir telur mungkin terlihat sederhana. Namun, di tengah peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, kegiatan membagikan telur dan makan bersama para santri membawa pesan yang lebih luas: pendidikan yang baik harus berjalan seiring dengan pemenuhan gizi, kesehatan, dan perlindungan anak.


    Suasana hangat itu terlihat di Lapangan Bojoe, Kecamatan Watang Pulu, Kamis (22/10/2026), setelah Wakil Bupati Sidrap, Nurkanaah, memimpin upacara peringatan Hari Santri Nasional. Ia membagikan telur kepada para santri sekaligus mengajak mereka makan bersama.


    Di balik kegiatan sederhana tersebut, tersimpan perhatian terhadap kebutuhan generasi muda yang menempuh pendidikan di pondok pesantren maupun sekolah berasrama. Mereka bukan hanya membutuhkan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan, tetapi juga asupan gizi yang memadai, lingkungan belajar yang aman, serta dukungan untuk tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan percaya diri.


    Peringatan Hari Santri di Sidrap tahun ini pun tidak berhenti pada seremoni tahunan. Momentum tersebut menjadi ruang untuk menegaskan kembali peran pesantren dalam membangun generasi yang kuat secara spiritual, sehat secara fisik, dan siap menghadapi tantangan zaman.


    Dari Lapangan Bojoe, Pesantren Didorong Menjadi Pelopor Kemajuan


    Upacara Hari Santri Nasional 2026 di Lapangan Bojoe dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para asisten dan staf ahli bupati, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), jajaran Kementerian Agama, para camat, pimpinan pondok pesantren, serta tamu undangan lainnya.


    Dalam kesempatan tersebut, Nurkanaah membacakan sambutan seragam Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar.


    Pesan yang disampaikan menegaskan bahwa peran santri tidak lagi terbatas pada penguasaan ilmu agama. Santri juga diharapkan menjadi bagian dari kemajuan ilmu pengetahuan, penguatan ekonomi masyarakat, serta gerakan pelestarian lingkungan.


    Semangat tersebut berakar pada sejarah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dimaklumatkan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. Nilai perjuangan dan cinta tanah air yang diwariskan para ulama diharapkan terus hidup, dengan bentuk pengabdian yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat masa kini.


    “Cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Kini diwujudkan melalui peran aktif santri dalam menguasai teknologi, memperkuat ekonomi warga, serta menjadi sahabat lingkungan yang merawat bumi dan menebarkan kedamaian,” ujar Nurkanaah saat membacakan sambutan tersebut.


    Pesan ini memberikan gambaran bahwa santri memiliki ruang pengabdian yang semakin luas. Selain menjaga tradisi keilmuan Islam, mereka juga dapat berkontribusi dalam pengembangan teknologi, kewirausahaan, pemberdayaan masyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan.


    Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tempat pembelajaran keagamaan, tetapi juga berpotensi menjadi pusat lahirnya gagasan dan solusi bagi persoalan sosial di sekitarnya.


    Telur, Gizi, dan Perhatian terhadap Tumbuh Kembang Santri


    Setelah upacara, perhatian beralih pada para santri yang berkumpul untuk menerima telur dan makan bersama. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran tentang pentingnya pemenuhan gizi sejak dini.


    Sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Sidrap, Nurkanaah menekankan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan bergizi perlu ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pesantren.


    “Pembagian dan makan telur bersama anak-anak kita ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mendukung tumbuh kembang anak agar tetap sehat. Apalagi, sejalan dengan penandatanganan kerja sama terkait pesantren sehat yang kita lakukan tadi, kita berharap lingkungan pesantren semakin memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan para santri,” ujar Nurkanaah.


    Telur merupakan salah satu sumber protein yang relatif mudah diolah dan dapat menjadi bagian dari menu bergizi seimbang. Meski demikian, pemenuhan gizi anak tidak cukup mengandalkan satu jenis makanan. Variasi pangan, kecukupan energi, kebersihan makanan, dan pola makan yang sesuai kebutuhan tetap menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang.


    Karena itu, perhatian terhadap gizi santri perlu diterjemahkan ke dalam kebiasaan yang berkelanjutan, mulai dari penyediaan makanan sehari-hari hingga penguatan edukasi kesehatan bagi pengelola pesantren, pengasuh, dan peserta didik.


    Bagi anak-anak yang tinggal jauh dari keluarga, lingkungan pesantren memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan hidup sehat. Kepedulian terhadap makanan, kebersihan, istirahat, dan kesehatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.


    Pesantren Sehat dan Ramah Anak, Komitmen yang Diperkuat


    Selain kegiatan makan telur bersama, peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Sidrap juga ditandai dengan penandatanganan kerja sama program Pesantren Sehat dan Pesantren Ramah Anak oleh pimpinan pondok pesantren bersama kepala puskesmas dan dinas terkait.


    Kerja sama tersebut menjadi langkah untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, layanan kesehatan, dan pengelola lembaga pendidikan keagamaan.


    Pesantren sehat tidak hanya berbicara mengenai makanan bergizi. Lingkungan yang bersih, akses pelayanan kesehatan, edukasi perilaku hidup sehat, serta perhatian terhadap kondisi fisik dan psikologis santri juga menjadi unsur penting.


    Sementara itu, pesantren ramah anak menempatkan keselamatan, martabat, dan hak anak sebagai bagian dari penyelenggaraan pendidikan. Anak harus memiliki ruang untuk belajar, beribadah, berinteraksi, dan mengembangkan potensi diri tanpa mengalami kekerasan maupun perlakuan yang merendahkan.


    Komitmen tersebut membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pemerintah dapat memperkuat dukungan dan koordinasi, tenaga kesehatan memberikan pendampingan sesuai kewenangan, sedangkan pengelola pesantren memastikan kebijakan perlindungan anak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


    Penandatanganan kerja sama menjadi langkah awal yang penting. Dampak jangka panjangnya akan ditentukan oleh pelaksanaan program, evaluasi berkala, dan konsistensi seluruh pihak dalam menjaga kualitas lingkungan pendidikan.


    Pesan Tegas Nurkanaah: Jangan Ada Perundungan di Pesantren


    Di hadapan para santri dan pengasuh pesantren, Nurkanaah juga menyampaikan pesan tentang pentingnya persahabatan dan kepedulian terhadap sesama.


    Ia memahami bahwa sebagian santri menjalani kehidupan berasrama dengan tinggal jauh dari orang tua dan keluarga. Dalam situasi tersebut, teman sebaya dan pengasuh memiliki peran penting dalam membangun suasana yang mendukung proses belajar sekaligus perkembangan emosional anak.


    Nurkanaah mengingatkan agar hubungan antarsantri dibangun atas dasar saling menghormati, bukan melalui tindakan yang menyakiti atau merendahkan orang lain.


    “Kami berharap tidak ada kasus perundungan (bullying) di lingkungan pesantren maupun sekolah berasrama. Lingkungan pendidikan harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi seluruh anak untuk belajar, beribadah, serta mengembangkan potensi diri,” tegasnya.


    Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari prestasi akademik atau kemampuan menghafal pelajaran. Rasa aman, kesehatan mental, hubungan sosial yang baik, dan kesempatan berkembang juga merupakan bagian penting dari pengalaman belajar.


    Perundungan dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari ejekan berulang, penghinaan, pengucilan, intimidasi, hingga kekerasan fisik. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan melalui aturan yang jelas, pengawasan yang memadai, saluran pengaduan yang aman, dan penanganan yang berpihak pada keselamatan anak.


    Santri juga perlu memahami bahwa saling menghormati bukan sekadar tata krama, melainkan bagian dari pembentukan akhlak. Menolong teman yang kesulitan, tidak mempermalukan orang lain, dan berani melaporkan tindakan kekerasan melalui jalur yang tepat merupakan perilaku yang perlu dibiasakan.


    Pesantren yang aman memberi ruang bagi santri untuk bertumbuh tanpa rasa takut. Di lingkungan seperti itulah ilmu, akhlak, dan persaudaraan dapat berkembang secara bersamaan.


    Direktorat Jenderal Pesantren dan Penguatan Peran Lembaga Keagamaan


    Dalam sambutan Menteri Agama yang dibacakan pada upacara tersebut, turut disampaikan komitmen pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto melalui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama.


    Pembentukan struktur tersebut diarahkan untuk memperkuat dukungan terhadap pesantren dalam menjalankan tiga fungsi utamanya, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.


    Ketiga fungsi tersebut saling berkaitan. Pendidikan membekali santri dengan pengetahuan dan karakter. Dakwah menghadirkan nilai keagamaan dalam kehidupan masyarakat. Sementara pemberdayaan masyarakat membuka ruang bagi pesantren untuk berkontribusi dalam penguatan ekonomi dan kesejahteraan warga sekitar.


    Dalam konteks Sidrap, dorongan untuk menjadikan pesantren sebagai pelopor kemajuan dapat diterjemahkan melalui penguatan kualitas pembelajaran, peningkatan literasi digital, pengembangan keterampilan, perhatian terhadap kesehatan santri, serta kemitraan dengan masyarakat dan pemerintah.


    Dengan dukungan yang tepat, pesantren berpotensi menjadi bagian penting dari pembangunan daerah tanpa kehilangan identitas dan tradisi keilmuannya.


    Lima Fakta Menarik Hari Santri 2026 di Sidrap


    1. Diperingati setiap 22 Oktober

    Hari Santri Nasional berkaitan dengan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


    2. Upacara dipusatkan di Lapangan Bojoe

    Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Sidrap berlangsung di Kecamatan Watang Pulu dan dipimpin Wakil Bupati Nurkanaah.


    3. Ada aksi berbagi telur dan makan bersama

    Kegiatan tersebut membawa pesan tentang pentingnya gizi dan perhatian terhadap tumbuh kembang anak di lingkungan pesantren.


    4. Program Pesantren Sehat dan Pesantren Ramah Anak diperkuat

    Penandatanganan kerja sama melibatkan pimpinan pondok pesantren, kepala puskesmas, dan dinas terkait.


    5. Santri didorong mengambil peran lebih luas

    Santri diharapkan tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga berkontribusi dalam penguasaan teknologi, penguatan ekonomi masyarakat, pelestarian lingkungan, dan penyebaran kedamaian.


    Menyiapkan Generasi Santri yang Sehat, Berilmu, dan Berakhlak


    Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Sidrap menghadirkan pesan bahwa masa depan pesantren tidak hanya ditentukan oleh kuatnya tradisi keilmuan, tetapi juga oleh kemampuannya menjawab kebutuhan generasi muda.


    Perhatian terhadap gizi, kesehatan, dan perlindungan anak merupakan bagian dari ikhtiar tersebut. Santri membutuhkan ruang pendidikan yang mendorong mereka berkembang secara intelektual dan spiritual, sekaligus memberi rasa aman untuk belajar dan membangun persahabatan.


    Pembagian telur menjadi simbol sederhana dari kepedulian terhadap tumbuh kembang anak. Penandatanganan kerja sama Pesantren Sehat dan Pesantren Ramah Anak memperlihatkan upaya membangun dukungan yang lebih terarah. Sementara pesan tentang penguasaan teknologi, kemandirian ekonomi, dan pelestarian lingkungan memperluas cakrawala pengabdian santri.


    Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh komitmen tersebut hadir dalam praktik sehari-hari, bukan hanya pada peringatan tahunan. Lingkungan belajar yang sehat, bebas perundungan, dan mendukung perkembangan anak membutuhkan konsistensi, keteladanan, serta kerja sama semua pihak.


    Sebab, santri yang kuat bukan hanya mereka yang tekun menuntut ilmu, tetapi juga mereka yang tumbuh dengan tubuh sehat, hati yang lapang, akhlak yang baik, dan kepedulian terhadap sesama.


    Dari pesantren di Sidrap, harapan itu dapat terus dirawat: melahirkan generasi yang berakar pada nilai keagamaan, terbuka terhadap kemajuan, dan siap memberikan manfaat bagi masyarakat, daerah, serta bangsa.

    Komentar

    Tampilkan