-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

    Iklan

    Hari Santri 2026, Ponpes Al Urwatul Wutsqaa Sidrap Gelar Istighozah Kebangsaan dan Tanam Pohon

    Satry Polang
    Kamis, 22 Oktober 2026, Oktober 22, 2026 WIB Last Updated 2026-10-22T11:01:24Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250
    Hari Santri 2026, Ponpes Al Urwatul Wutsqaa Sidrap Gelar Istighozah Kebangsaan dan Tanam Pohon


    NARASIRAKYAT.ID, SIDRAP – Menjadi santri bukan hanya tentang mendalami ilmu agama di lingkungan pesantren. Lebih dari itu, santri juga memikul tanggung jawab untuk menjaga akhlak, merawat persatuan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta bangsa.

    Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 yang digelar Pondok Pesantren Al Urwatul Wutsqaa Benteng, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, Kamis (22/10/2026).


    Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, kegiatan ini diisi dengan upacara, istighozah kebangsaan, serta penanaman pohon bersama alumni.

    Rangkaian kegiatan tersebut menghadirkan tiga pesan penting: memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui doa, menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan.


    Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, pesantren diharapkan tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu keagamaan, tetapi juga ruang pembentukan karakter generasi muda yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial.


    Pimpinan Pesantren: Banggalah Menjadi Santri

    Pimpinan Pondok Pesantren Al Urwatul Wutsqaa, AG. H. Suardi Latarebbi, Lc., M.Ag., mengajak para santri untuk bersyukur atas kesempatan menempuh pendidikan di pesantren dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu agama.

    Menurutnya, kesempatan menjadi santri merupakan anugerah yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pendidikan pesantren tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan, kedisiplinan, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.


    “Banggalah menjadi seorang santri, karena kalian adalah orang-orang pilihan yang dipilih oleh Allah SWT untuk menerima kebaikan,” pesannya.

    Suardi juga mengutip hadis Rasulullah SAW:

    Man yuridillahu bihi khairan yufaqqihhu fiddin.

    Hadis tersebut bermakna bahwa siapa yang dikehendaki Allah mendapatkan kebaikan, maka Allah akan memberikan pemahaman yang mendalam tentang agama.


    Pesan ini menjadi pengingat bahwa menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan dan kerendahan hati. Ilmu agama tidak cukup dipelajari untuk menambah pengetahuan, tetapi juga perlu diamalkan dalam perilaku, cara berbicara, hubungan dengan sesama, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.

    Bagi para santri, kebanggaan terhadap identitas pesantren seharusnya berjalan seiring dengan kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Prestasi bukan hanya tentang banyaknya ilmu yang dikuasai, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut membentuk pribadi yang jujur, santun, dan bermanfaat.


    Melawan Kemalasan, Menyiapkan Generasi Penerus Ulama

    Pesan penguatan karakter juga disampaikan Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Al Urwatul Wutsqaa, H. Faisal Pide, Lc.

    Ia menekankan pentingnya semangat belajar dan perjuangan melawan kebodohan serta kemalasan. Para santri diharapkan mampu memanfaatkan waktu pendidikan untuk memperdalam ilmu, memperkuat akhlak, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.


    Faisal berharap para santri dapat tumbuh menjadi generasi penerus ulama yang memiliki akhlak mulia dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, umat, serta bangsa.

    Ia juga mengingatkan kembali cita-cita Gurutta dalam menjadikan pesantren sebagai tempat pembinaan generasi muda yang berkarakter baik dan berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya.


    Harapan tersebut menempatkan pendidikan pesantren sebagai proses pembentukan manusia secara menyeluruh. Penguasaan ilmu perlu disertai karakter yang kuat, kemampuan beradaptasi, dan kesadaran untuk mengabdikan pengetahuan bagi kepentingan bersama.

    Santri masa kini juga menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat. Karena itu, semangat belajar perlu diikuti kemampuan memilah informasi, berpikir kritis, serta menjaga adab ketika berinteraksi di ruang digital maupun kehidupan nyata.


    Dengan bekal tersebut, generasi santri diharapkan mampu menjaga tradisi keilmuan sekaligus mengambil peran dalam perkembangan masyarakat modern.


    Istighozah Kebangsaan, Doa untuk Persatuan Indonesia

    Salah satu bagian penting dalam peringatan Hari Santri Nasional di Ponpes Al Urwatul Wutsqaa adalah istighozah kebangsaan.

    Kegiatan ini menjadi momentum untuk memanjatkan doa bagi keselamatan bangsa, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan meneguhkan semangat persatuan.


    Doa kebangsaan mengingatkan bahwa kehidupan berbangsa membutuhkan ikhtiar bersama. Perbedaan latar belakang, pandangan, dan keadaan sosial tidak semestinya menjadi penghalang untuk menjaga persaudaraan dan membangun kehidupan yang damai.

    Dalam tradisi pesantren, penguatan spiritual berjalan berdampingan dengan pembinaan akhlak dan tanggung jawab sosial. Nilai keagamaan diharapkan melahirkan perilaku yang menghormati sesama, menjunjung persatuan, dan menghindari tindakan yang merugikan orang lain.


    Semangat tersebut sejalan dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Masa depan bangsa tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas, tetapi juga pribadi yang berintegritas, memiliki kepedulian, dan mampu bekerja sama di tengah keberagaman.

    Melalui istighozah kebangsaan, para santri diajak memaknai cinta tanah air sebagai tanggung jawab yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari belajar dengan tekun hingga menjaga keharmonisan di lingkungan masing-masing.


    Alumni Turut Menjaga Ikatan dengan Almamater

    Peringatan Hari Santri Nasional 2026 juga menjadi ruang mempererat hubungan antara santri aktif dan para alumni.

    Ikatan Alumni Pondok Pesantren Al Urwatul Wutsqaa (IKA PPUW) menyampaikan pesan agar para santri terus menjaga persatuan, silaturahmi, dan semangat belajar.


    Nama Al Urwatul Wutsqaa, yang bermakna tali yang kokoh, dinilai membawa pesan tentang pentingnya menjaga kebersamaan dan hubungan silaturahmi.

    Dalam konteks kehidupan pesantren, ikatan tersebut tidak berhenti setelah seorang santri menyelesaikan pendidikan. Hubungan dengan almamater dapat terus menjadi sumber dukungan, pertukaran pengalaman, dan inspirasi bagi generasi berikutnya.


    Kegiatan tersebut dibuka oleh H. Abu Syakkar, Lc., yang mewakili Ketua IKA PPUW.

    Kehadiran alumni menjadi bentuk dukungan terhadap pembinaan santri sekaligus memperkuat hubungan antara lembaga pendidikan dan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pesantren.


    Kolaborasi lintas generasi seperti ini memiliki arti penting. Pengalaman alumni dapat menjadi bekal bagi santri dalam memandang masa depan, sedangkan keterlibatan alumni membantu menjaga kesinambungan nilai dan tradisi baik yang diwariskan pesantren.


    Tanam Pohon, Menanam Kepedulian untuk Masa Depan

    Selain kegiatan keagamaan, dukungan alumni diwujudkan melalui penanaman pohon bersama.

    Kegiatan ini memberikan dimensi lain pada peringatan Hari Santri Nasional. Santri tidak hanya diajak memperkuat hubungan spiritual dan kebangsaan, tetapi juga membangun kepedulian terhadap lingkungan.


    Penanaman pohon menjadi simbol bahwa menjaga masa depan membutuhkan tindakan nyata. Lingkungan yang sehat merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat, sementara kebiasaan merawat alam perlu ditanamkan sejak usia muda.

    Nilai tersebut juga relevan dengan pendidikan karakter di pesantren. Tanggung jawab tidak hanya diwujudkan melalui kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga melalui kebiasaan menjaga kebersihan, merawat tanaman, menghemat sumber daya, dan tidak merusak lingkungan.


    Agar manfaat kegiatan dapat berlanjut, penanaman pohon idealnya diikuti pemeliharaan secara berkala. Dengan demikian, kegiatan tidak berhenti pada penanaman bibit, tetapi berkembang menjadi pembelajaran tentang konsistensi, tanggung jawab, dan keberlanjutan.

    Melalui langkah sederhana tersebut, pesantren dan alumni dapat menanamkan pemahaman bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama terhadap generasi mendatang.


    Lima Fakta Menarik Hari Santri 2026 di Ponpes Al Urwatul Wutsqaa

    1. Mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”

    Tema ini menekankan peran santri dalam memperkuat karakter, persatuan, dan kontribusi bagi masa depan bangsa.

    2. Menggabungkan tiga kegiatan utama

    Peringatan diisi dengan upacara, istighozah kebangsaan, dan penanaman pohon bersama alumni.

    3. Pimpinan pesantren mengajak santri bangga menuntut ilmu

    AG. H. Suardi Latarebbi menekankan pentingnya rasa syukur, kesungguhan belajar, dan pemahaman agama yang mendalam.

    4. Alumni ikut memperkuat hubungan antargenerasi

    IKA PPUW mendorong para santri menjaga persatuan, silaturahmi, dan semangat belajar.

    5. Penanaman pohon membawa pesan kepedulian lingkungan

    Kegiatan bersama alumni menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter juga mencakup tanggung jawab terhadap alam dan kehidupan generasi mendatang.


    Dari Pesantren untuk Masyarakat dan Bangsa

    Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Ponpes Al Urwatul Wutsqaa Benteng, Sidrap, menjadi momentum untuk kembali meneguhkan makna pendidikan pesantren dalam kehidupan masyarakat.

    Ilmu agama menjadi landasan pembentukan karakter. Istighozah kebangsaan memperkuat harapan akan keselamatan dan persatuan negeri. Sementara penanaman pohon mengingatkan bahwa kepedulian harus diwujudkan melalui tindakan yang dapat dirawat secara berkelanjutan.


    Ketiga kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian santri memiliki ruang yang luas. Santri dapat berkontribusi melalui penguasaan ilmu, keteladanan akhlak, penguatan persaudaraan, serta kepedulian terhadap lingkungan.

    Harapan menuju Indonesia Emas tidak cukup dibangun melalui cita-cita besar. Ia membutuhkan generasi yang tekun belajar, kuat memegang nilai kebaikan, dan bersedia mengambil tanggung jawab di tengah masyarakat.


    Dari lingkungan pesantren di Benteng, Sidrap, semangat itu terus ditanamkan: menjadi santri bukan sekadar kebanggaan atas identitas, melainkan amanah untuk terus belajar, memperbaiki diri, menjaga persatuan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

    Komentar

    Tampilkan