-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     

     



     


     

     


     



     


     


     


     

    Iklan

    BEM Unisan Sidrap Hidupkan Diskusi Kritis soal Kebijakan dan Kekuasaan

    Satry Polang
    Kamis, 05 November 2026, November 05, 2026 WIB Last Updated 2026-11-05T23:35:06Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250
    BEM Unisan Sidrap Hidupkan Diskusi Kritis soal Kebijakan dan Kekuasaan


    SIDRAP, NarasiRakyat.id – Mahasiswa tidak seharusnya hanya sibuk dengan aktivitas perkuliahan, tugas akademik, dan pencapaian di ruang kampus. Ada tanggung jawab yang lebih luas, yakni memahami persoalan masyarakat, membaca arah kebijakan publik, serta memastikan kekuasaan berjalan dengan kontrol dan partisipasi publik.

    Semangat itulah yang dihidupkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Ichsan Sidenreng Rappang melalui kegiatan Diskusi Publik dan Focus Group Discussion (FGD) dalam rangkaian Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) 2026, Rabu (4/11/2026).


    Bertempat di Aula Universitas Ichsan Sidrap, kegiatan ini mengangkat tema “Membaca Kebijakan, Kesadaran Politik, dan Peran Anak Muda dalam Mengawal Kekuasaan.”

    Forum tersebut menjadi ruang pertemuan gagasan bagi mahasiswa untuk memahami hubungan antara kebijakan, masyarakat, dan kekuasaan. Lebih dari sekadar agenda diskusi, kegiatan ini menghadirkan kesempatan bagi generasi muda untuk mengasah daya kritis sekaligus memperluas perspektif terhadap persoalan publik.


    Mengubah Ruang Diskusi Menjadi Ruang Kesadaran

    Di tengah dinamika sosial dan politik yang terus berkembang, kemampuan membaca kebijakan publik menjadi bagian penting dari literasi masyarakat.

    Mahasiswa perlu memahami bagaimana sebuah kebijakan dirumuskan, siapa yang terdampak, serta bagaimana masyarakat dapat mengambil peran dalam mengawasi pelaksanaannya.


    Perspektif tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam diskusi yang menghadirkan dua narasumber, yakni Faikar Muhammad Al-Baqir, S.Ag., M.Ag., dosen sekaligus mantan Ketua Umum HMI Makassar, serta Muhammad Ammar, S.Si., M.Si., peneliti BAPPERIDA Kabupaten Sidenreng Rappang.

    Diskusi dipandu Aryuni Juminarni, S.M., mahasiswa pascasarjana sekaligus RELIMA 2026.


    Kehadiran narasumber dari lingkungan akademisi dan lembaga penelitian menghadirkan perspektif berbeda mengenai pentingnya memahami kebijakan publik, kesadaran politik, dan keterlibatan generasi muda dalam kehidupan demokrasi.

    Melalui pertukaran gagasan, peserta diajak melihat bahwa persoalan publik tidak cukup dipahami hanya melalui informasi yang beredar. Dibutuhkan kemampuan menganalisis, menguji argumentasi, dan memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan.


    Mahasiswa dan Tanggung Jawab Mengawal Kekuasaan

    Salah satu pesan penting dari kegiatan ini adalah perlunya menghidupkan kembali peran mahasiswa sebagai kekuatan moral dan intelektual dalam masyarakat.

    Peran mahasiswa tidak berhenti pada aktivitas akademik. Mereka juga memiliki ruang untuk menyampaikan kritik, mengawasi kebijakan, membangun kesadaran publik, serta menawarkan gagasan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.


    Namun, kritik yang berkualitas membutuhkan pengetahuan dan argumentasi yang kuat. Kesadaran politik juga harus dibangun melalui pemahaman, bukan sekadar mengikuti arus informasi atau kepentingan tertentu.

    Karena itu, tradisi diskusi yang sehat menjadi penting. Forum akademik seperti ini dapat menjadi tempat menguji gagasan, mempertemukan perbedaan pandangan, dan membangun keberanian berpikir secara terbuka.


    Bagi BEM Universitas Ichsan Sidrap, mahasiswa perlu mengambil bagian dalam dinamika kehidupan publik. Bukan sekadar menjadi penonton, melainkan turut membaca, mengkritisi, dan mengawal arah kebijakan serta penyelenggaraan kekuasaan.


    Literasi Politik sebagai Modal Demokrasi

    Kegiatan Diskusi Publik dan FGD RELIMA 2026 juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, praktisi, dan peneliti dalam membangun literasi masyarakat.

    Sebab, demokrasi tidak hanya membutuhkan partisipasi dalam momentum politik, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang mampu memahami kebijakan dan mengawasi jalannya pemerintahan secara bertanggung jawab.


    Kontrol publik yang berkualitas lahir dari pengetahuan, keterbukaan informasi, keberanian menyampaikan pendapat, serta kemampuan membedakan fakta dan opini.

    Di sinilah ruang diskusi memiliki arti penting. Kampus tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang tumbuhnya kesadaran sosial dan intelektual generasi muda.


    Melalui kegiatan ini, BEM Universitas Ichsan Sidrap berupaya menghidupkan tradisi dialog yang argumentatif, kritis, dan berbasis pengetahuan sebagai bagian dari penguatan partisipasi mahasiswa dalam kehidupan demokrasi.


    Lima Fakta Menarik Diskusi Publik BEM Universitas Ichsan Sidrap

    1. Bagian dari RELIMA 2026: Kegiatan diselenggarakan dalam rangkaian Relawan Literasi Masyarakat 2026.
    2. Menggabungkan dua forum: Menghadirkan Diskusi Publik sekaligus Focus Group Discussion (FGD).
    3. Mengangkat isu strategis: Membahas kebijakan publik, kesadaran politik, dan peran anak muda dalam mengawal kekuasaan.
    4. Menghadirkan dua perspektif: Narasumber berasal dari kalangan akademisi dan peneliti BAPPERIDA Sidrap.
    5. Berorientasi pada partisipasi kritis: Mendorong mahasiswa agar tidak hanya memahami persoalan publik, tetapi juga berani mengkritisi dan menawarkan gagasan.

    Dari Kampus untuk Demokrasi yang Lebih Bermakna

    Pada akhirnya, kekuatan mahasiswa bukan hanya terletak pada banyaknya gagasan yang disampaikan, tetapi juga pada kemampuannya memahami persoalan dan menghadirkan solusi.

    Diskusi publik seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari ruang kekuasaan. Ia juga dapat tumbuh dari ruang-ruang dialog, lingkungan kampus, dan keberanian anak muda untuk berpikir secara kritis.


    Sebab, demokrasi membutuhkan generasi yang tidak mudah menerima informasi tanpa menguji kebenarannya, tidak takut berbeda pendapat, serta memiliki kepedulian terhadap kepentingan masyarakat.

    Mahasiswa boleh berbeda pandangan, tetapi jangan berhenti berpikir. Sebab, kekuasaan membutuhkan pengawasan, kebijakan membutuhkan kritik, dan masa depan demokrasi membutuhkan generasi muda yang berani menggunakan pengetahuannya.

    Komentar

    Tampilkan