![]() |
| Dosen UNISAN Sidrap Sumartan Rampungkan Studi di STIEM Bongaya, Bawa Gagasan Baru untuk Masa Depan Agribisnis |
MAKASSAR, NarasiRakyat.id – Kemajuan sektor pertanian tidak cukup hanya mengandalkan teknologi modern, ketersediaan lahan, modal usaha, dan peningkatan hasil produksi. Ada satu faktor penting yang kerap menjadi penentu keberhasilan pembangunan pertanian, yakni kualitas sumber daya manusia (SDM).
Pemikiran inilah yang menjadi salah satu perhatian Sumartan, S.E., M.P., dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Ichsan Sidenreng Rappang (UNISAN Sidrap).
Akademisi tersebut baru saja menuntaskan studinya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Makassar (STIEM) Bongaya. Pencapaian akademiknya ditandai dengan keikutsertaan dalam prosesi Wisuda XLI STIEM Bongaya yang berlangsung di Makassar, 29 Oktober 2026.
Namun, bagi Sumartan, penyelesaian studi bukan sekadar pencapaian pribadi atau penambahan kualifikasi akademik. Lebih dari itu, ilmu yang diperoleh diharapkan menjadi bekal untuk memperkuat pengembangan agribisnis, meningkatkan kapasitas petani, serta mendorong pembangunan pertanian yang lebih berkelanjutan.
Mengintegrasikan Ilmu Manajemen dengan Masa Depan Agribisnis
Dalam kajian akademiknya, Sumartan mengangkat penelitian berjudul “Analisis Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia: Perspektif Human Investment Management (HIM), Human Resource Management (HRM), dan Human Capital Management (HCM)”.
Kajian tersebut menempatkan sumber daya manusia sebagai faktor strategis dalam menentukan keberhasilan dan keberlanjutan organisasi.
Perspektif ini juga memiliki relevansi kuat dengan sektor pertanian yang saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan teknologi, dinamika pasar, peningkatan daya saing, hingga kebutuhan regenerasi petani.
Menurut Sumartan, pengembangan agribisnis tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Kualitas manusia yang mengelola seluruh proses usaha pertanian juga harus menjadi perhatian utama.
"Ilmu manajemen sumber daya manusia sangat relevan dengan pengembangan agribisnis. Sektor pertanian membutuhkan SDM yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan manajerial, kepemimpinan, kewirausahaan, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi serta dinamika pasar,” ungkap Sumartan.
Pemikiran tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pertanian tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar hasil panen, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam mengelola potensi, membaca peluang, dan menciptakan nilai tambah.
Petani Bukan Sekadar Produsen, tetapi Penggerak Ekonomi
Sumartan menjelaskan bahwa agribisnis merupakan sistem ekonomi yang saling terhubung, mulai dari sektor hulu, kegiatan usaha tani (on-farm), sektor hilir, hingga jasa penunjang (off-farm).
Setiap bagian memiliki peran penting dan membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten.
Pada sektor hulu, misalnya, diperlukan kemampuan mengelola sarana produksi dan distribusi. Di tingkat usaha tani, petani membutuhkan pengetahuan teknis sekaligus keterampilan manajerial. Sementara pada sektor hilir, kemampuan pengolahan, pemasaran, inovasi produk, dan pengembangan jaringan usaha menjadi semakin penting.
Karena itu, petani perlu mendapatkan ruang pengembangan yang lebih luas.
Petani tidak semestinya hanya dipandang sebagai produsen bahan pangan, tetapi juga sebagai pelaku ekonomi yang memiliki potensi menjadi wirausaha, pengelola usaha pertanian, bahkan penggerak ekonomi lokal.
Penguatan kapasitas tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan, pelatihan, pendampingan, penguatan kelembagaan, serta peningkatan kemampuan manajerial dan kewirausahaan.
Pendekatan ini menjadi penting agar pelaku pertanian mampu menghadapi perubahan dan tidak hanya bergantung pada pola produksi konvensional.
Tiga Perspektif Manajemen untuk Membangun SDM Unggul
Salah satu hal menarik dari kajian Sumartan adalah integrasi tiga perspektif pengembangan sumber daya manusia, yaitu Human Investment Management (HIM), Human Resource Management (HRM), dan Human Capital Management (HCM).
Ketiganya memiliki penekanan yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi.
Pertama, Human Resource Management (HRM).
Pendekatan ini menitikberatkan pada pengelolaan sumber daya manusia, termasuk perencanaan, pengembangan kompetensi, penempatan, dan peningkatan kinerja.
Kedua, Human Capital Management (HCM).
Perspektif ini memandang pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kompetensi manusia sebagai modal strategis yang dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing organisasi.
Ketiga, Human Investment Management (HIM).
Pendekatan ini menempatkan pengembangan manusia sebagai investasi jangka panjang melalui pendidikan, pelatihan, peningkatan kapasitas, dan pengembangan potensi.
Jika diintegrasikan dengan agribisnis, ketiga perspektif tersebut dapat menjadi landasan untuk membangun petani dan pelaku usaha pertanian yang lebih profesional, produktif, inovatif, serta memiliki daya saing.
Dengan demikian, pembangunan pertanian tidak hanya berbicara tentang peningkatan produksi, tetapi juga investasi terhadap manusia yang menjadi penggerak seluruh sistem agribisnis.
Komitmen Memperkuat Tridarma Perguruan Tinggi
Sebagai dosen UNISAN Sidrap, Sumartan berkomitmen mengimplementasikan ilmu yang diperolehnya melalui pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Fokus pengembangan yang ingin diperkuat meliputi agribisnis berkelanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemberdayaan petani, penguatan UMKM pertanian, dan pengembangan potensi komoditas lokal.
Baginya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab lebih luas daripada sekadar menyelenggarakan proses pembelajaran di ruang kelas.
Perguruan tinggi harus mampu menghadirkan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta menghasilkan solusi terhadap berbagai persoalan pembangunan.
"Perguruan tinggi harus mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat. Ilmu manajemen dan agribisnis memiliki ruang kolaborasi yang sangat luas, terutama dalam membangun kualitas SDM, meningkatkan daya saing usaha pertanian, dan mewujudkan pembangunan agribisnis yang berkelanjutan,” tambahnya.
Komitmen tersebut diharapkan dapat diwujudkan melalui penelitian, publikasi ilmiah, penulisan buku, serta berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Lima Fakta Menarik dari Pencapaian Sumartan
Berikut lima hal penting dari perjalanan akademik dan gagasan pengembangan agribisnis Sumartan:
- Dosen Agribisnis UNISAN Sidrap. Sumartan merupakan akademisi pada Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Ichsan Sidenreng Rappang.
- Rampungkan studi di STIEM Bongaya. Pencapaian tersebut ditandai dengan keikutsertaannya dalam Wisuda XLI pada 29 Oktober 2026.
- Mengangkat kajian strategis tentang SDM. Penelitiannya membahas integrasi perspektif HIM, HRM, dan HCM dalam strategi pengembangan sumber daya manusia.
- Mendorong petani menjadi pelaku ekonomi yang berdaya saing. Pengembangan kapasitas petani diarahkan tidak hanya pada keterampilan teknis, tetapi juga manajemen dan kewirausahaan.
- Berkomitmen memperkuat Tridarma Perguruan Tinggi. Fokusnya meliputi penelitian, pendidikan, pemberdayaan petani, penguatan UMKM pertanian, dan pengembangan komoditas lokal.
Gelar Akademik sebagai Awal Pengabdian
Pencapaian Sumartan menjadi pengingat bahwa perjalanan akademik seharusnya tidak berhenti pada prosesi wisuda maupun pengakuan formal atas pendidikan yang telah ditempuh.
Ilmu pengetahuan memiliki nilai yang lebih besar ketika mampu diterapkan dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Di tengah tantangan pembangunan pertanian, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Petani membutuhkan pendampingan, pelaku usaha membutuhkan penguatan manajemen, dan masyarakat membutuhkan inovasi yang mampu meningkatkan nilai ekonomi potensi lokal.
Di sinilah peran perguruan tinggi dan para akademisi menjadi semakin penting, yakni menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Bagi Sumartan, penyelesaian studi bukanlah akhir perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk mengamalkan ilmu.
Sebab, keberhasilan seorang akademisi bukan hanya diukur dari gelar yang diraih, tetapi juga dari seberapa besar ilmu yang dimiliki mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan masa depan pembangunan daerah.
















