![]() |
| Diikuti 52 Mahasiswa, PKM IAIN Bone Bongkar Makna Pemimpin: Bukan Berkuasa, tetapi Melayani! |
BONE, NarasiRakyat.id – Menjadi pemimpin bukan tentang seberapa tinggi jabatan yang berhasil diraih, seberapa banyak orang yang memberikan penghormatan, atau seberapa besar kekuasaan yang dimiliki. Kepemimpinan justru diuji dari kesediaan seseorang untuk melayani, berkorban, dan bertanggung jawab atas amanah yang dipercayakan kepadanya.
Pesan itulah yang menjadi salah satu semangat dalam Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone.
Sebanyak 52 delegasi dari berbagai organisasi kemahasiswaan (Ormawa) IAIN Bone mengikuti kegiatan tersebut. Mereka dipersiapkan bukan sekadar untuk mengisi posisi kepengurusan berikutnya, tetapi juga membangun kapasitas sebagai generasi pemimpin yang memiliki integritas, kemampuan intelektual, dan tanggung jawab sosial.
Rangkaian kegiatan diawali dengan proses screening pada 1–2 November 2026 di Aula Utama IAIN Bone. Selanjutnya, pelatihan berlangsung selama empat hari, 3–6 November 2026, bertempat di Grand Nur.
Di balik agenda kaderisasi tersebut, terdapat pesan penting tentang bagaimana seharusnya seorang mahasiswa memaknai kepemimpinan.
Pemimpin Bukan untuk Berkuasa, tetapi Melayani
Presiden Mahasiswa IAIN Bone, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa PKM bukan sekadar kegiatan rutin organisasi yang dilaksanakan setiap tahun.
Menurutnya, pelatihan tersebut merupakan bagian penting dari proses regenerasi kepemimpinan. Sebab, keberlangsungan organisasi tidak hanya ditentukan oleh program kerja, tetapi juga kesiapan kader dalam melanjutkan estafet kepemimpinan.
Farhan mengingatkan bahwa jabatan bukanlah tujuan utama seseorang ketika memutuskan menjadi pemimpin.
Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan, keberanian, serta kesediaan untuk bertanggung jawab atas amanah yang diterimanya.
Ia bahkan menekankan bahwa pemimpin sejatinya adalah pelayan, bukan sosok yang menjadikan jabatan sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan maupun penghormatan.
"Kalau mau menjadi pemimpin untuk berkuasa, lebih baik tidak usah menjadi pemimpin. Kalau mau menjadi pemimpin hanya untuk dihormati, tidak usah menjadi pemimpin. Sebab, pemimpin itu adalah seorang pelayan," ujar Farhan.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bukan ruang untuk membesarkan ego pribadi, melainkan kesempatan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
Leiden is Lijden: Memimpin Berarti Siap Berkorban
Dalam menyampaikan pandangannya, Farhan juga mengangkat ungkapan klasik berbahasa Belanda, Leiden is lijden, yang secara umum dimaknai sebagai memimpin adalah menderita.
Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa kepemimpinan tidak selalu identik dengan kemudahan dan penghormatan.
Di balik sebuah keputusan, terdapat tanggung jawab. Di balik keberhasilan organisasi, ada kerja keras. Bahkan, seorang pemimpin sering kali harus bersedia mengutamakan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan pribadinya.
Nilai inilah yang menurut Farhan perlu dipahami oleh setiap kader organisasi mahasiswa.
Menjadi pemimpin berarti siap menghadapi kritik, menyelesaikan persoalan, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan setiap amanah.
Karena itu, proses kaderisasi tidak boleh hanya menghasilkan mahasiswa yang ingin menduduki jabatan struktural, tetapi harus melahirkan individu yang memahami esensi pengabdian.
Pemimpin Besar Harus Mampu Menulis dan Berbicara
Selain karakter dan tanggung jawab, Farhan menyoroti pentingnya kemampuan intelektual dan komunikasi bagi seorang pemimpin.
Menurutnya, mahasiswa yang ingin menjadi pemimpin harus mampu mengembangkan gagasan, menuangkannya dalam tulisan, sekaligus menyampaikan pemikirannya secara baik di hadapan publik.
Ia menilai kemampuan menulis dan berbicara merupakan dua keterampilan penting yang saling melengkapi.
Tulisan menjadi sarana mendokumentasikan pemikiran, menyampaikan kritik, dan menawarkan solusi. Sementara kemampuan berbicara membantu seorang pemimpin mengomunikasikan gagasan, membangun kepercayaan, serta menggerakkan orang lain.
"Kalau ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan berbicaralah seperti orator," tambahnya.
Pesan tersebut sekaligus menempatkan mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan organisasi, tetapi juga harus produktif dalam melahirkan pemikiran.
Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi informasi, kemampuan menyampaikan gagasan secara kritis, bertanggung jawab, dan komunikatif menjadi bekal penting bagi calon pemimpin masa depan.
52 Delegasi, Satu Semangat Regenerasi
PKM merupakan agenda tahunan yang melibatkan delegasi organisasi kemahasiswaan di lingkungan IAIN Bone.
Antusiasme peserta menjadi salah satu modal penting dalam proses pembinaan kader. Melalui pelatihan ini, mahasiswa memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan, bertukar pengalaman, serta mempelajari berbagai hal yang belum tentu diperoleh secara langsung di ruang perkuliahan.
Bagi Farhan, keberhasilan kegiatan tidak semestinya hanya diukur dari jumlah peserta atau sertifikat yang diperoleh.
Hal yang lebih penting adalah sejauh mana pengetahuan dan pengalaman selama pelatihan dapat diterapkan dalam kehidupan organisasi.
Ia berharap 52 peserta mampu membawa pulang pemahaman baru mengenai arti kepemimpinan dan mengimplementasikannya di organisasi masing-masing.
Dengan demikian, proses kaderisasi tidak berhenti ketika kegiatan berakhir, tetapi berlanjut melalui tindakan nyata dalam menjalankan tanggung jawab organisasi.
Lima Fakta Menarik PKM IAIN Bone 2026
-
Diikuti 52 delegasi mahasiswa. Peserta berasal dari berbagai organisasi kemahasiswaan di lingkungan IAIN Bone.
-
Diawali proses screening. Tahapan seleksi berlangsung pada 1–2 November 2026 di Aula Utama IAIN Bone.
-
Pelatihan berlangsung empat hari. Kegiatan utama dilaksanakan pada 3–6 November 2026 di Grand Nur.
-
Mengusung nilai kepemimpinan yang melayani. Presiden Mahasiswa Muhammad Farhan menegaskan bahwa pemimpin bukan pencari kekuasaan, melainkan pelayan yang bertanggung jawab.
-
Menekankan kemampuan intelektual. Peserta didorong mengembangkan keterampilan menulis, berbicara, berpikir kritis, dan menerapkan ilmu dalam organisasi.
Anak Muda Tidak Boleh Hanya Menunggu Perubahan
Pada bagian akhir pesannya, Muhammad Farhan mengingatkan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab untuk mengambil bagian dalam perubahan.
Menurutnya, ilmu dan pengalaman yang diperoleh melalui organisasi maupun pelatihan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Ia berharap para peserta tidak menjadikan PKM sebatas pengalaman sesaat, tetapi sebagai titik awal untuk membangun karakter dan keberanian mengambil tanggung jawab.
"Anak muda seperti kita adalah generasi dan calon pemimpin masa depan. Karena itu, ilmu yang diperoleh harus benar-benar diterapkan. Kita tidak boleh hanya menunggu perubahan, tetapi harus mengambil bagian di dalamnya. Anak muda seperti kita tidak layak mati dalam kasur," tutup Farhan.
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa masa depan tidak cukup diserahkan kepada keadaan. Perubahan membutuhkan generasi yang berani berpikir, bersedia bekerja, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah pelatihan kepemimpinan bukan terletak pada seberapa banyak sertifikat dibagikan, melainkan seberapa banyak kader yang benar-benar tumbuh menjadi pribadi bertanggung jawab.
Sebab, pemimpin besar bukan mereka yang sibuk meminta dihormati, melainkan mereka yang bersedia bekerja, melayani, dan meninggalkan manfaat bagi banyak orang.
















