Oleh: Adiyansah Tayyeb, S.Pd.I
Guru Pendidikan Agama Islam
UPT SD Negeri 2 Rappang
Memperingati Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-80 sekaligus Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2025 bukan hanya seremoni penuh atribut dan ucapan selamat. Momentum ini semestinya menjadi ruang refleksi bagi seluruh insan pendidikan, khususnya guru Pendidikan Agama Islam (PAI), untuk menimbang kembali arah pembelajaran dan tantangan yang sedang dihadapi di era disrupsi saat ini.
PAI memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter peserta didik di tengah derasnya arus digitalisasi, pergeseran nilai, serta kompleksitas problem sosial modern. Namun, apakah PAI kita hari ini sudah cukup relevan, membumi, dan mencerahkan?
Titik Kritis: Di Mana Posisi Pembelajaran PAI Kita?
1. Masih Didominasi Penilaian Kognitif (Hafalan)
Selama ini keberhasilan PAI sering diukur dari kemampuan menghafal ayat, hadis, atau dalil-dalil fikih. Aspek sikap dan praktik justru kurang mendapat porsi utama. Akibatnya, pemahaman nilai tidak selalu tercermin dalam tindakan nyata siswa di dunia sosial maupun digital.
2. Metode Ceramah yang Monoton
Meski inovasi pembelajaran terus digaungkan, metode satu arah masih mendominasi ruang kelas. Generasi Z dan Alpha yang terbiasa dengan visual, gawai, dan interaktivitas membutuhkan pendekatan yang lebih dialogis, eksploratif, dan kreatif.
3. Dekontekstualisasi Materi (Terpisah dari Realitas Sosial)
Banyak materi PAI diajarkan tanpa dikaitkan dengan isu sosial yang relevan. Zakat tidak dihubungkan dengan persoalan kemiskinan, toleransi tidak dikaitkan dengan fenomena ujaran kebencian, dan fikih tidak dikaitkan dengan dinamika hukum modern.
4. Pemanfaatan Teknologi yang Masih Minim
Di tengah berkembangnya AI, platform digital, dan ragam media kreatif, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran PAI masih sangat terbatas. Padahal teknologi dapat menjadi jembatan baru untuk menyampaikan nilai-nilai Islam secara lebih menarik.
Membangun Visi PAI yang Transformative
1. Revolusi Metodologi: Dari Instruksi ke Dialog
PGRI dapat mempelopori pelatihan berbasis Student-Centered Learning, seperti project-based learning atau diskusi sokratik. Misalnya, siswa diajak menganalisis etika penggunaan AI, membuat proyek sosial, atau memecahkan studi kasus keagamaan yang relevan.
2. Penilaian Autentik yang Lebih Menyeluruh
Evaluasi belajar PAI perlu mengukur proses, perubahan perilaku, dan praktik nyata melalui portofolio ibadah sosial, jurnal refleksi, serta observasi kegiatan keagamaan yang inklusif.
3. Integrasi Kontekstual: Guru Menjadi “Guru Kehidupan”
Guru PAI harus mampu menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan tantangan zaman. Tauhid dikaitkan dengan materialisme, toleransi dikaitkan dengan fenomena cyberbullying, dan fikih dikaitkan dengan perkembangan hukum nasional.
4. Teknologi dengan Jiwa (Soulware)
Teknologi bukan sekadar alat, tetapi wahana untuk memperdalam nilai dan karakter. Konten animasi, aplikasi Qur’an digital, dan kolaborasi virtual dapat memperkaya pembelajaran, selama tetap diarahkan pada pembentukan akhlak.
HUT PGRI ke-80 dan HGN 2025 adalah momentum bagi seluruh guru, terutama guru PAI, untuk melakukan lompatan besar. PAI tidak boleh lagi sekadar menjadi pelajaran kognitif, tetapi harus menjadi nyawa pendidikan karakter bangsa.
Melalui komitmen PGRI untuk terus membimbing dan menguatkan kompetensi guru, PAI dapat berkembang menjadi pembelajaran yang lebih mencerahkan dan kontekstual, melahirkan generasi yang tidak hanya memahami nilai, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan nyata.
Selamat HUT PGRI ke-80 dan HGN 2025.
Teruslah bergerak, menginspirasi, dan membangun peradaban!










