![]() |
| Muh Ikhwan Z , Demisioner Ketua PC PMII Sidrap |
NARASIRAKYAT --- Kita sedang menyaksikan satu kegelisahan besar dalam perjalanan generasi hari ini. Generasi yang sering dielu-elukan sebagai penerus nilai dan perjuangan, namun justru tampak gamang ketika berhadapan dengan kekuasaan. Kekhawatiran itu semakin nyata ketika kita melihat bagaimana generasi yang kerap disebut sebagai generasi Nene Malomo—generasi yang seharusnya menjunjung nilai kejujuran, keteguhan, dan keberpihakan pada rakyat—perlahan terjebak dalam pesona kekuasaan.
Suara mereka kian meredup, bukan karena kehilangan gagasan, tetapi karena diredam oleh ruang-ruang kekuasaan itu sendiri. Ruang diskusi yang seharusnya menjadi tempat membicarakan arah bangsa—tentang ke mana negeri ini hendak dibawa—justru semakin sepi dari keberanian sikap. Kita mulai kehilangan watak kritis sebagai generasi yang katanya akan meneruskan perjuangan sejarah.
Yang lebih menyedihkan, organisasi-organisasi yang lahir dari rahim perlawanan kini berlomba-lomba mencari eksistensi demi mencapai puncak kekuasaan. Idealisme digadaikan, nilai diperjualbelikan, dan kritik diganti dengan kompromi yang menjijikkan. Organisasi tak lagi berdiri sebagai alat perjuangan rakyat, melainkan sebagai tangga menuju jabatan dan pengaruh.
Ketika anak muda berhenti membicarakan masyarakat pinggiran, sesungguhnya di situlah rantai sejarah perjuangan mulai terputus. Sebab sejarah tak pernah ditulis oleh mereka yang nyaman, tetapi oleh mereka yang resah dan berani melawan ketidakadilan. Diamnya generasi muda bukan sekadar sikap apatis, melainkan ancaman nyata bagi masa depan keadilan sosial itu sendiri.
Perubahan besar tidak pernah lahir dari keheningan. Ia lahir dari keberanian untuk bersuara—terutama bagi mereka yang selama ini tak pernah didengar. Namun ironisnya, anak muda yang seharusnya menjadi suara paling lantang bagi kaum terpinggirkan justru tenggelam dalam kenyamanan privilese dan narasi kesuksesan individual.
Solidaritas perlahan tergantikan oleh kompetisi. Empati dikalahkan oleh eksistensi. Kepedulian sosial direduksi menjadi konten singkat yang viral, tanpa tindak lanjut nyata di lapangan. Aktivisme berubah menjadi pencitraan, dan keberpihakan menjadi sekadar slogan.
Namun sejarah selalu menyisakan harapan. Di balik sunyi dan diam, masih ada kesadaran yang tumbuh. Tidak semua diam berarti menyerah. Sebab ada generasi yang memilih menunggu, merawat kesadaran, dan mempersiapkan diri.
Waktu ketika keberanian kembali lebih penting daripada jabatan. Waktu ketika suara rakyat kembali lebih bernilai daripada kekuasaan. Dan waktu ketika generasi muda kembali menemukan jati dirinya sebagai penjaga nurani bangsa, bukan pelengkap sistem yang timpang.








