Oleh: Gustiani Bahar
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bukan sekadar simbol organisasi yang hidup dari atribut dan seremonial. IMM adalah ruang berproses, tempat kader menempa pikiran, sikap, dan tindakan agar berjalan seiring. Di dalam IMM, eksistensi kader diuji bukan oleh seberapa lantang berbicara, tetapi sejauh mana apa yang dipikirkan benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata.
IMM mengajarkan satu prinsip fundamental: manusia benar-benar “ada” ketika pikiran dan perbuatannya selaras. Sebab, organisasi bukan ruang pelarian, melainkan ruang pertumbuhan (grow space) yang menuntut konsistensi antara nilai, nalar, dan aksi.
Pemikiran ini sejalan dengan gagasan Muhammad Iqbal (1978) yang menyatakan bahwa hidup bukanlah sesuatu yang statis. Hidup adalah kehendak kreatif—terus bergerak, tumbuh, dan berjalan dinamis menuju tujuan. Maka, sebagai manusia—terlebih sebagai kader IMM—menentukan arah tujuan adalah keniscayaan. Tujuan itu tidak boleh hanya dimiliki oleh ketua umum atau pimpinan struktural, melainkan harus hidup di setiap individu kader. Ketika tujuan personal selaras dengan nilai-nilai IMM serta visi organisasi, maka setiap langkah kolektif akan memiliki arah yang jelas dan saling menguatkan.
Tahun ini, penulis memasuki fase sebagai alumni Darul Arqam Madya (DAM). Fase ini membuka ruang refleksi yang lebih luas untuk melihat dinamika perjuangan dari sudut pandang Kader Madya. Salah satu pelajaran penting yang disadari adalah bahwa semangat berorganisasi tidak selalu tumbuh secara otomatis. Ada masa ketika api perjuangan meredup, gairah melemah, dan arah menjadi kabur. Di titik inilah peran Kader Madya menjadi krusial: menjadi sumber energi, mentransfer semangat, menguatkan kembali kader yang hampir lelah agar tetap bertahan dan terus berproses.
IMM Sidrap akan maju bukan semata karena struktur yang rapi, tetapi karena kader-kadernya memiliki sistem pemikiran yang sehat dan merdeka. Inilah mengapa personal branding kader menjadi penting—bukan dalam arti pencitraan dangkal, melainkan sebagai manifestasi integritas diri. Personal branding sejati adalah keistiqamahan berpikir dan bertindak di setiap ruang kehidupan, baik di dalam maupun di luar forum pengaderan.
Pikiran adalah cetak biru (blueprint) dari setiap tindakan. Tanpa fondasi berpikir yang kokoh, program kerja sehebat apa pun hanya akan berubah menjadi rutinitas kosong, kehilangan ruh, dan tidak menjawab kebutuhan kader. Namun ketika sistem pemikiran dibenahi, akan lahir keselarasan antara content (isi pikiran) dan action (tindakan nyata). Dari sinilah pengaruh kepemimpinan sejati muncul—bukan melalui instruksi, melainkan melalui keteladanan pikiran yang jernih dan tindakan yang berintegritas.
Kemajuan IMM Sidrap justru terletak pada keberanian kadernya untuk berhenti sejenak dan merefleksikan cara berpikirnya. Seperti pesan Socrates, “Hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dijalani.” Karena itu, IMM perlu membuka lebih banyak ruang diskusi yang inklusif, tidak terbatas pada forum formal. Diskusi adalah jantung organisasi yang sehat. Dari diskusi lahir kesadaran, dari kesadaran lahir gerakan yang bermakna.
Dengan sistem pemikiran yang sehat, bebas dari penyakit mental, dan berorientasi pada keteladanan Rasulullah SAW, IMM tidak hanya menjalankan organisasi, tetapi sedang membangun peradaban kecil yang dampaknya bisa dirasakan luas di daerah. IMM harus hadir sebagai subjek sejarah, bukan sekadar objek yang dibentuk oleh keadaan. Dengan niat yang murni dan pemikiran yang merdeka, IMM tidak akan tergerus zaman—justru menjadi pelukis peradaban yang menentukan arah masa depan.
Dalam ranah kemahasiswaan, IMM Sidrap memainkan peran strategis sebagai ruang pembentukan kesadaran intelektual, moral, dan sosial. IMM tidak berhenti pada pencetakan aktivis yang vokal, tetapi melahirkan mahasiswa yang berani berpikir kritis, peka terhadap realitas sosial, dan teguh pada nilai keislaman serta kemuhammadiyahan. Dari ruang kelas, forum diskusi, hingga advokasi kampus, kader IMM ditempa untuk membaca realitas, merumuskan sikap, dan mengambil peran strategis.
Inilah fondasi lahirnya kader yang benar-benar berdaya—berakar kuat di dunia kemahasiswaan, matang secara nalar, dan siap melangkah ke ruang pengabdian yang lebih luas, baik di bidang pendidikan, teknologi, kesehatan, maupun politik.
Sebagaimana keyakinan bersama,
“Kemajuan tidak lahir dari kerja-kerja individual yang sunyi, tetapi dari kolaborasi kolektif yang sadar arah.”
Billahi Fii Sabililhaq, Fastabiqul Khairat.








