-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     

     


     



     

    Iklan

    Kisah Inspiratif Ahmad Ramli Dari Kehilangan hingga Menjadi Guru dan Penghafal 30 Juz Al-Qur’an

    Satry Polang
    Minggu, 04 Januari 2026, Januari 04, 2026 WIB Last Updated 2026-01-04T08:35:00Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250


    Kisah Inspiratif Ahmad Ramli Dari Kehilangan hingga Menjadi Guru dan Penghafal 30 Juz Al-Qur’an



    Penulis:
    Nabila Fulgani Rahayu 

    NARASIRAKYAT --- Tidak semua perjalanan hidup dimulai dari kenyamanan. Sebagian justru tumbuh dari kehilangan, keterbatasan, dan pilihan-pilihan berat yang harus diambil dalam usia muda. Kisah Ahmad Ramli adalah salah satunya—sebuah potret keteguhan iman dan kesabaran yang ditempa oleh keadaan, lalu berbuah pengabdian.

    Ahmad Ramli, lahir di Ujung Pandang (Makassar) pada 22 April 1996, kini dikenal sebagai guru sekaligus koordinator Al-Qur’an di sebuah sekolah dasar di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Di ruang kelas sederhana, ia bukan hanya mengajarkan bacaan Al-Qur’an, tetapi juga menghadirkan keteladanan hidup—bahwa iman yang dijaga mampu menuntun seseorang melewati fase paling gelap sekalipun.


    Ahmad tumbuh dalam keluarga sederhana. Pendidikan dasarnya ditempuh di SD DDI Kalukuang Makassar, dilanjutkan ke MTs As’adiyah 170 Layang Makassar. Hidup berjalan apa adanya, tanpa kemewahan, namun sarat nilai keimanan. Titik balik hidupnya datang ketika ia duduk di kelas dua Aliyah. Ayahnya wafat, meninggalkan duka mendalam dan beban ekonomi yang berat. Sang ibu tidak bekerja, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

    Di usia yang seharusnya diisi dengan mimpi dan rencana, Ahmad dihadapkan pada pilihan paling sulit: berhenti sekolah atau bertahan tanpa kepastian biaya. Ia memilih bertahan. Pilihan itu kelak menjadi fondasi karakter hidupnya.


    Ahmad melanjutkan pendidikan di MA As’adiyah Putra Sengkang Macanang, pada masa awal pemindahan sekolah yang masih minim fasilitas. Ia tinggal di pondok kayu tanpa kamar mandi. Untuk buang air besar, para santri harus masuk hutan dan menggali tanah. Jika mesin air rusak, mereka harus melewati dua bukit hanya untuk mandi. Jauh dari keluarga, hidup dalam sunyi, dan dikelilingi hutan, Ahmad belajar arti bertahan dalam diam.

    Situasi sosial pun tidak mudah. Pasca konflik antara kelompok Makassar dan Bone, Ahmad menjadi satu-satunya santri asal Makassar di lingkungan tersebut. Ia kerap mengalami perundungan verbal, bahkan sering tidak memahami hinaan yang disampaikan dalam bahasa Bugis. Namun Allah menghadirkan perlindungan dari arah yang tak terduga. Teman sekamarnya adalah mantan preman yang telah bertaubat—sosok yang justru menghormati dan menjaganya.


    Satu peristiwa paling membekas terjadi pada akhir semester bulan Desember. Semua santri pulang ke kampung halaman, sementara Ahmad tidak memiliki biaya untuk kembali ke Makassar. Pondok menjadi sunyi dan mencekam. Persediaan makanan habis, uang tidak ada, dan untuk menuju kantin ia harus melewati hutan gelap.

    Di titik itulah Ahmad benar-benar pasrah. Tidak ada sandaran selain Allah. Dan tepat pada saat keikhlasan itu mencapai puncaknya, pertolongan datang. Seorang senior—yang juga teman sekamarnya—tiba-tiba kembali ke pondok, membawa beras dan mengajaknya makan. Alasannya sederhana: ia bosan di kampung. Bagi Ahmad, itu bukan kebetulan, melainkan bukti bahwa pertolongan Allah selalu datang tepat waktu, meski dengan cara yang tak pernah direncanakan manusia.


    Masa SMA menjadi fase terberat sekaligus paling membentuk. Ahmad belajar mandiri, menguatkan iman, dan mengurangi ketergantungan pada manusia. Luka-luka hidup tidak menghilang, tetapi berubah menjadi kekuatan. Dari kehilangan, ia belajar bersandar. Dari keterbatasan, ia belajar bersyukur.

    Langkahnya kemudian berlanjut ke Universitas Hasanuddin, Jurusan Sastra Arab. Ia datang sebagai mahasiswa yang telah ditempa oleh kehidupan. Di fase inilah hubungannya dengan Al-Qur’an semakin kuat. Ayat demi ayat bukan sekadar dihafal, tetapi dijadikan pegangan hidup. Hingga akhirnya, ia menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an—sebuah pencapaian besar yang lahir dari kesabaran panjang dan keikhlasan yang terus dirawat.


    Kini, Ahmad Ramli memilih jalan pengabdian sebagai pengajar Al-Qur’an. Ia mengajar di sekolah dasar di Sorowako, menjalani hidup dengan kesederhanaan yang sama, namun dengan peran yang berbeda. Ia bukan lagi anak yang bertahan, melainkan guru yang menuntun. Tidak hanya mengajarkan bacaan, tetapi juga menghadirkan teladan bahwa hidup yang berat bisa dijalani tanpa kehilangan iman.

    Ahmad menyimpan mimpi membangun sekolah yang fokus pada satu pelajaran Al-Qur’an, tidak terikat sistem pemerintahan, agar menjadi ladang pahala dan terhindar dari praktik yang mendekati maksiat. Mimpi itu belum sepenuhnya terwujud, namun ia tidak tergesa. Baginya, hidup bukan soal seberapa cepat sampai, melainkan seberapa lurus langkah yang ditempuh.


    Kisah Ahmad Ramli adalah pengingat bahwa hidup tidak selalu memberi kemudahan, tetapi selalu menyediakan makna bagi mereka yang bertahan. Kehilangan, keterbatasan, dan kesepian bukanlah akhir dari segalanya. Ketika manusia bersungguh-sungguh berikhtiar dan sepenuhnya berserah kepada Allah, pertolongan akan datang dengan cara yang tak pernah disangka. Tidak ada perjuangan yang sia-sia jika dijalani dengan keyakinan.

    Komentar

    Tampilkan