Kisah Perjalanan Andine Menuju Panggung Prestasi: Bangkit dari Kegagalan, Menemukan Makna Baru |
Nurhajrah
Mahasiswa Ilmu Komunikasi
UIN Alauddin Makassar
NARASIRAKYAT — Setiap perjalanan hidup selalu menyimpan cerita tentang jatuh, bangkit, dan menemukan makna baru. Kisah itulah yang tercermin dalam perjalanan Andini Dwi Aryani Hamzah, atau yang akrab disapa Andine, seorang perempuan muda asal Makassar yang membuktikan bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan pintu menuju prestasi yang lebih besar.
Lahir di Makassar pada 26 Juli 2005, Andine tumbuh dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi nilai kedisiplinan. Ayahnya berprofesi sebagai anggota kepolisian, sementara sang ibu berperan sebagai ibu rumah tangga. Lingkungan keluarga inilah yang membentuk Andine menjadi pribadi mandiri, tangguh, dan terbiasa menghadapi tantangan sejak usia dini. Saat ini, ia aktif menempuh pendidikan sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
Sejak awal, Andine dikenal sebagai sosok berprinsip kuat. Ia meyakini bahwa setiap usaha harus dilakukan secara maksimal. Baginya, menjalani sesuatu dengan setengah hati bukanlah pilihan. Prinsip tersebut mendorongnya untuk terus mencoba berbagai tantangan dan perlombaan sebagai ruang pengembangan diri.
Namun, jalan hidup Andine tidak selalu mulus. Salah satu fase terberat yang harus ia hadapi adalah ketika harus merelakan impian lamanya untuk menempuh pendidikan di jurusan Kedokteran. Selama dua tahun, Andine berjuang dengan sungguh-sungguh melalui bimbingan belajar, pengorbanan waktu dan tenaga, hingga mengikuti berbagai perlombaan sebagai penunjang prestasi. Harapan besar telah ia bangun, namun hasil yang diharapkan belum berpihak kepadanya.
Kegagalan tersebut menjadi titik terendah dalam hidupnya. Andine mengaku harus berjuang menghadapi rasa kecewa yang mendalam. Proses menerima kenyataan bukanlah hal mudah, terlebih ketika impian yang telah diperjuangkan dengan sepenuh hati harus terhenti di tengah jalan.
Setelah melalui fase sulit tersebut, Andine akhirnya memilih Ilmu Komunikasi sebagai jalan baru dalam melanjutkan pendidikannya. Pada awal perkuliahan, ia menjalani hari-hari akademik dengan perasaan terpaksa. Bayangan tentang impian lama masih kerap menghantui, membuatnya sulit menikmati proses yang sedang dijalani.
Namun waktu perlahan mengajarkannya untuk berdamai dengan keadaan. Andine mulai menyadari bahwa hidup harus terus berjalan, meskipun rencana tidak selalu sesuai harapan. Dari sanalah ia mulai menemukan potensi baru dalam dirinya, khususnya di bidang komunikasi dan public speaking. Aktivitas berbicara di depan publik memberinya rasa percaya diri sekaligus semangat baru untuk menata masa depan.
Dalam proses bangkit tersebut, Andine tidak berjalan sendiri. Dukungan orang tua, teman-teman terdekat, serta rasa syukur kepada Allah SWT menjadi kekuatan utama yang mendorongnya untuk terus melangkah. Ia pun mulai memberanikan diri mencoba hal-hal baru, salah satunya dengan mengikuti ajang pageant dan kedutaan.
Keputusan berani itu mengantarkannya mengikuti ajang Duta Remaja Kabupaten Gowa 2025. Perjalanan menuju panggung prestasi bukanlah hal mudah. Andine harus melewati berbagai tahapan seleksi, mulai dari tes tertulis, wawancara, presentasi advokasi, pidato, debat, hingga penampilan bakat. Di tengah persaingan dengan puluhan finalis, rasa minder sempat menghampiri. Namun ia memilih untuk terus menyemangati diri dan memberikan performa terbaik di setiap tahap.
Puncak perjuangan itu terbayar ketika Andine dinobatkan sebagai Juara 1 (Winner) Duta Remaja Kabupaten Gowa 2025. Momen penyematan mahkota dan selempang menjadi simbol keberhasilan, sekaligus bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan keberanian bangkit dari kegagalan tidak pernah sia-sia.
Kini, Andine memandang hidup dengan perspektif yang lebih matang. Ia tidak lagi terjebak dalam kesedihan masa lalu, melainkan fokus menggali potensi diri dan menjalani hidup dengan pikiran yang lebih positif. Baginya, kegagalan adalah bagian dari takdir indah yang mengantarkan seseorang pada jalan terbaik yang telah disiapkan Tuhan.
Sebagai penutup, Andine berpesan kepada siapa pun yang sedang berjuang agar tidak takut gagal dan selalu mengerahkan usaha secara maksimal. Hidup, menurutnya, menuntut keberanian untuk mencoba, bangkit, serta menyusun rencana baru ketika jalan yang diharapkan belum tercapai.





