Oleh: Munaing, S.Psi., M.Si.
Dosen Fakultas Psikologi UIT / Penggiat Komunitas Bangkit dari Masjid
NARASIRAKYAT --- Ramadhan bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriyah. Ia adalah momentum sakral yang menghadirkan transformasi spiritual sekaligus psikososial. Dalam perspektif teologis, hanya Ramadhan yang disebut secara eksplisit dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. Sementara dalam Surah At-Taubah ayat 36 ditegaskan adanya dua belas bulan dalam setahun, penyebutan langsung nama Ramadhan menunjukkan bobot simbolik dan normatif yang istimewa.
Fenomena ini bukan semata linguistik, tetapi sarat makna sosial-keagamaan. Mengapa Ramadhan disebut secara eksplisit, sementara bulan-bulan lain termasuk empat bulan haram tidak dirinci? Pertanyaan ini penting dijawab melalui pendekatan teologis-historis dan psikologi religius.
Ramadhan: Poros Wahyu dan Pembinaan Umat
Secara teologis, Ramadhan memiliki tiga fondasi utama:
Bulan Nuzul Al-Qur’an
Ramadhan adalah momentum turunnya Al-Qur’an sebagai hudan (petunjuk). Artinya, bulan ini melekat pada sumber normativitas Islam.Kewajiban Puasa
Puasa sebagai rukun Islam dilaksanakan penuh selama satu bulan, menjadikan Ramadhan sebagai periode pembinaan spiritual yang sistematis.Lailatul Qadr
Malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan memperlihatkan intensifikasi ibadah dan nilai spiritual yang dilipatgandakan.
Dalam sejarah komunitas Muslim, Ramadhan juga menjadi fase penguatan moral kolektif. Ritme hidup berubah: jadwal makan, waktu tidur, intensitas ibadah, hingga pola interaksi sosial. Ramadhan bukan hanya ibadah personal, tetapi mekanisme sosial yang membentuk disiplin bersama.
Ramadhan dalam Perspektif Psikologi Religius
Dalam psikologi religius, waktu tidak hanya bersifat kronologis (chronos), tetapi dapat menjadi waktu bermakna (kairos). Ramadhan adalah contoh nyata waktu sakral (sacred time), yaitu periode yang dipenuhi intensitas nilai dan pengalaman spiritual kolektif.
Penyebutan Ramadhan dalam teks suci memperkuat legitimasi psikologisnya. Individu tidak memaknai puasa sekadar tradisi, tetapi sebagai mandat ilahi yang berulang setiap tahun. Ini menciptakan pola internalisasi nilai yang stabil dan berkesinambungan.
Secara psikologis, puasa adalah latihan regulasi diri (self-regulation). Individu belajar menunda gratifikasi, mengendalikan impuls, dan memperkuat disiplin diri. Praktik ini dilakukan selama sekitar 30 hari—cukup lama untuk membentuk kebiasaan baru dan memperkuat ketahanan mental.
Implikasi Psikososial: Empati dan Kohesi Sosial
Puasa juga meningkatkan empati. Pengalaman lapar dan haus menumbuhkan sensitivitas terhadap penderitaan orang lain. Tidak mengherankan jika pada Ramadhan terjadi peningkatan sedekah, zakat, dan aktivitas sosial.
Dalam psikologi sosial, ritual kolektif seperti tarawih berjamaah dan buka puasa bersama menciptakan sinkronisasi perilaku. Sinkronisasi ini memperkuat identitas kelompok dan kohesi sosial. Masjid menjadi pusat interaksi, bukan hanya tempat ibadah, tetapi ruang pembentukan solidaritas.
Memuliakan Guru Mengaji Kampung: Aktualisasi Nilai Ramadhan
Jika Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, maka guru mengaji kampung adalah penjaga literasi Qur’ani di akar rumput. Mereka membentuk adab, disiplin, dan karakter anak-anak. Namun, kontribusi mereka kerap tak sebanding dengan penghargaan sosial dan dukungan ekonomi yang diterima.
Memuliakan guru mengaji adalah agenda strategis Ramadhan—menguatkan ekosistem pendidikan Qur’ani dan menjaga kesinambungan transmisi ilmu.
Program Praktis Ramadhan yang Realistis
Apresiasi Bermartabat
Mengadakan malam penghargaan di masjid/mushalla, testimoni warga, serta publikasi profil guru mengaji di papan informasi atau grup warga.Dukungan Ekonomi Transparan
Memberikan insentif yang layak dan terhormat. Banyak guru mengaji kampung mengajar tanpa bayaran, bahkan ada yang membelikan makanan untuk muridnya agar rajin mengaji.Perbaikan Fasilitas
Penyediaan pencahayaan memadai, rak buku, tempat dudukan Al-Qur’an, serta mushaf ukuran besar untuk memudahkan proses pembelajaran.Penguatan Adab dan Peran Orang Tua
Mendorong gerakan adab kepada guru dan melibatkan orang tua dalam evaluasi bacaan serta pembinaan karakter di rumah.
Ramadhan sebagai Struktur Kebaikan Sosial
Ramadhan bukan hanya ritual tahunan, melainkan mekanisme pembinaan karakter yang menyeluruh—teologis, psikologis, dan sosial. Ia mengajarkan regulasi diri, menumbuhkan empati, dan memperkuat kohesi sosial melalui pengalaman kolektif yang terstruktur.
Memuliakan guru mengaji kampung adalah wujud konkret dari spirit Ramadhan: menjaga cahaya Al-Qur’an tetap menyala di tingkat komunitas. Dengan demikian, Ramadhan tidak berhenti pada ibadah individual, tetapi menjelma menjadi struktur kebaikan sosial yang hidup sebelum, selama, dan setelah bulan suci.
Ramadhan adalah momentum transformasi. Pertanyaannya: apakah kita membiarkannya berlalu sebagai rutinitas, atau menjadikannya fondasi peradaban yang berkelanjutan?






.jpeg)











