![]() |
AMM Kepung Polres Palopo, Desak Polisi Segera Tangkap Pelaku Pengeroyokan Imam Masjid |
NARASIRAKYAT.ID — Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) menggelar aksi damai di Kota Palopo, Kamis (7/5/2026), sebagai bentuk protes terhadap lambannya penanganan kasus pengeroyokan terhadap Imam Masjid As-Salam Benteng, Ahmad Andis.
Aksi yang melibatkan puluhan massa tersebut dimulai dari depan kampus Universitas Muhammadiyah Palopo sebelum dilanjutkan dengan long march menggunakan sepeda motor menuju Mapolres Palopo.
Massa membawa berbagai poster dan spanduk tuntutan yang berisi desakan agar aparat kepolisian segera menangkap seluruh pelaku pengeroyokan tanpa tebang pilih.
Kasus pengeroyokan yang terjadi pada Rabu, 29 April 2026 itu menjadi perhatian luas masyarakat karena korban merupakan seorang imam masjid yang mengalami tindak kekerasan di lingkungan rumah ibadah.
Bagi AMM, lambannya proses hukum tidak lagi dipandang sekadar persoalan teknis penyidikan, tetapi mulai menimbulkan persepsi adanya pembiaran terhadap tindakan premanisme dan kekerasan terhadap tokoh agama.
Sebelum menggelar aksi, pihak AMM mengaku telah melakukan komunikasi dengan aparat kepolisian, termasuk Polsek Wara. Namun penjelasan aparat terkait belum lengkapnya alat bukti dan hasil visum dinilai belum memberikan kepastian hukum yang jelas.
Koordinator lapangan aksi, Ilham Topadda, menilai perkembangan kasus berjalan terlalu lambat meskipun laporan korban telah diterima sejak pekan sebelumnya.
“Kami melihat ada ketidakseriusan aparat dalam menangani kasus ini. Jika kekerasan terhadap imam masjid saja lamban ditangani, publik tentu mempertanyakan keberpihakan hukum terhadap masyarakat kecil,” tegasnya di hadapan massa aksi.
Situasi sempat memanas ketika massa mengetahui Kapolres Palopo tidak berada di tempat saat aksi berlangsung. Massa menolak ditemui pejabat lain dan memilih bertahan hingga selepas salat zuhur untuk menunggu kehadiran pimpinan kepolisian.
Aksi akhirnya diterima oleh Kasat Reskrim IPTU Ridwan Parintak yang menjelaskan bahwa penyidik telah memeriksa sejumlah saksi, mengumpulkan alat bukti tambahan, serta menangkap satu tersangka berinisial S.
Namun penjelasan tersebut justru memunculkan pertanyaan baru di kalangan massa aksi. Mereka menilai jika satu tersangka telah diamankan, maka pengembangan terhadap pelaku lainnya seharusnya dapat dilakukan lebih cepat.
Dalam aksi tersebut, AMM menyampaikan enam tuntutan utama kepada aparat penegak hukum.
Pertama, mendesak polisi segera menangkap seluruh pelaku pengeroyokan tanpa tebang pilih. Kedua, meminta proses hukum dilakukan secara profesional dan transparan.
Ketiga, mendesak aparat memberikan perlindungan hukum kepada korban dan keluarganya dari segala bentuk intimidasi. Keempat, menolak segala bentuk premanisme dan kekerasan terhadap tokoh agama.
Kelima, meminta aparat menjaga rasa keadilan masyarakat dalam penegakan hukum. Dan keenam, mendesak evaluasi terhadap aparat kepolisian apabila dinilai tidak serius menangani perkara tersebut.
AMM juga memperingatkan bahwa jika tuntutan mereka tidak segera ditindaklanjuti dan pelaku lain belum diamankan, maka aksi lanjutan dengan jumlah massa lebih besar akan kembali digelar.
Lima Fakta Menarik dari Aksi AMM di Palopo
1. Dipicu Kasus Pengeroyokan Imam Masjid
Aksi dilakukan sebagai respons atas lambannya penanganan kasus pengeroyokan terhadap Imam Masjid As-Salam Benteng.
2. Massa Long March ke Polres Palopo
Aksi dimulai dari depan Universitas Muhammadiyah Palopo dan dilanjutkan konvoi menuju Mapolres.
3. Soroti Dugaan Pembiaran Premanisme
AMM menilai lambannya proses hukum dapat memunculkan kesan adanya pembiaran terhadap aksi kekerasan.
4. Polisi Sebut Satu Tersangka Sudah Ditangkap
Kasat Reskrim mengungkapkan bahwa satu pelaku berinisial S telah diamankan penyidik.
5. AMM Siap Gelar Aksi Lebih Besar
Massa mengancam akan kembali turun ke jalan jika pelaku lain belum juga ditangkap.
Keadilan Harus Hadir untuk Semua
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penegakan hukum tidak hanya soal prosedur, tetapi juga tentang menghadirkan rasa aman dan keadilan bagi masyarakat.
Ketika tokoh agama menjadi korban kekerasan, maka publik berharap aparat bergerak cepat, profesional, dan transparan agar kepercayaan masyarakat terhadap hukum tetap terjaga.
Di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, sinergi antara masyarakat dan aparat penegak hukum menjadi kunci penting untuk mencegah tumbuhnya praktik kekerasan dan premanisme di ruang publik.
Aksi damai yang dilakukan AMM menunjukkan bahwa suara masyarakat sipil masih menjadi bagian penting dalam mengawal keadilan dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah kehidupan bermasyarakat.








