-->
  • Jelajahi

    Copyright © NARASI RAKYAT
    Best Viral Premium Blogger Templates


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

     



     

    Iklan

    Malangke Tidak Lagi AMAN: Belum Kering, Basah Lagi Oleh Kamal Jufr Pemuda Malangke

    Satry Polang
    Kamis, 04 Juni 2026, Juni 04, 2026 WIB Last Updated 2026-06-04T20:04:19Z
    masukkan script iklan disini
    banner 728x250

    Malangke Tidak Lagi AMAN: Belum Kering, Basah Lagi Oleh Kamal Jufr Pemuda Malangke



    Oleh: Kamal Jufr
    Pemuda Malangke

    NARASIRAKYAT  – Ketika orang mendengar nama Malangke, yang terlintas dalam benak banyak orang adalah daerah bersejarah yang menjadi bagian penting dari perjalanan Kedatuan Luwu dan perkembangan peradaban Islam di Tanah Luwu. Selain itu, Malangke juga dikenal sebagai kawasan yang subur dengan hasil pertanian dan perkebunan yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat serta berkontribusi pada pasar regional maupun nasional.


    Namun, dalam tiga tahun terakhir, identitas itu perlahan bergeser.

    Hari ini, ketika nama Malangke disebut, tidak sedikit orang yang langsung mengaitkannya dengan satu persoalan yang terus berulang: banjir.


    Bencana banjir sejatinya bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat yang tinggal di wilayah hilir. Akan tetapi, kondisi yang terjadi di Malangke saat ini bukan lagi banjir musiman yang datang dan pergi mengikuti siklus cuaca. Banjir telah berubah menjadi persoalan berkepanjangan yang seolah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.


    Belum sempat tanah mengering, air kembali datang.

    Belum pulih dari dampak sebelumnya, masyarakat kembali menghadapi genangan berikutnya.

    Karena itulah lahir ungkapan yang kini menjadi simbol keresahan warga: "Belum Kering, Basah Lagi."


    Ketika Banjir Tidak Lagi Sekadar Bencana Alam

    Selama ini banjir sering dipahami sebagai dampak dari tingginya curah hujan. Namun bagi masyarakat Malangke, persoalan yang terjadi tidak sesederhana itu.


    Jika hanya persoalan hujan, mengapa genangan bisa bertahan begitu lama?

    Mengapa dalam beberapa tahun terakhir kondisi ini semakin sering terjadi?

    Mengapa keluhan masyarakat terus berulang dari tahun ke tahun?


    Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan banjir di Malangke tidak bisa semata-mata dilihat sebagai fenomena alam, tetapi juga harus ditelaah dari aspek tata kelola lingkungan, mitigasi bencana, serta efektivitas kebijakan pemerintah.


    Masyarakat telah berulang kali menyampaikan aspirasi melalui berbagai cara, mulai dari dialog, audiensi, aksi demonstrasi, hingga kampanye di media sosial.


    Sayangnya, kritik yang muncul terkadang dipersepsikan sebagai serangan terhadap pemerintah, bukan sebagai bentuk kepedulian masyarakat yang ingin melihat perubahan.


    Padahal dalam prinsip pemerintahan partisipatif, kritik merupakan bagian penting dari mekanisme kontrol sosial.


    Kritik bukanlah ancaman.

    Kritik adalah cermin.


    Melalui kritik, pemerintah dapat mengetahui kondisi riil yang dirasakan masyarakat sekaligus mengevaluasi sejauh mana kebijakan yang dijalankan telah memberikan manfaat.


    Dampak yang Semakin Meluas

    Persoalan banjir yang terus berulang tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari. Dampaknya telah menjalar ke berbagai sektor kehidupan masyarakat.


    Pendidikan yang Terganggu

    Sekolah menjadi salah satu sektor yang terdampak langsung.

    Ketika akses jalan terendam, banyak siswa kesulitan menuju sekolah. Tidak sedikit pula sekolah yang ikut terdampak genangan sehingga proses belajar mengajar terganggu.


    Dalam jangka panjang, kondisi ini tentu berpotensi memengaruhi kualitas pendidikan dan semangat belajar generasi muda.


    Pertanian dan Perkebunan yang Terancam

    Mayoritas masyarakat Malangke menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan.

    Namun ketika lahan terus tergenang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, produktivitas pertanian mengalami penurunan.


    Banyak petani mengeluhkan tanaman yang tidak berkembang secara optimal karena tidak dapat dipupuk dengan baik.


    Sebagian mengalami gagal panen.

    Sebagian lainnya memilih membiarkan lahannya tidak ditanami karena khawatir mengalami kerugian.

    Kondisi ini tentu berdampak langsung terhadap pendapatan masyarakat.


    Ekonomi yang Melambat

    Banjir juga menghambat roda perekonomian.

    Jalan yang terendam menyebabkan distribusi barang terganggu. Aktivitas pasar menjadi tidak optimal. Pedagang dan pelaku UMKM kehilangan pelanggan karena masyarakat kesulitan beraktivitas.


    Ketika penghasilan masyarakat menurun, daya beli ikut melemah.

    Akibatnya, dampak ekonomi yang muncul menjadi semakin luas dan dirasakan hampir seluruh lapisan masyarakat.


    Aktivitas Sosial yang Berubah

    Di balik angka-angka kerugian ekonomi dan data kerusakan infrastruktur, terdapat dampak sosial yang tidak kalah besar.


    Masyarakat hidup dalam kekhawatiran.

    Orang tua cemas ketika anak-anak bermain di luar rumah.

    Pengendara khawatir kendaraannya rusak saat menerobos genangan.


    Petani, pedagang, dan pekerja harian memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga ketika penghasilan terus menurun.

    Bahkan ada yang memilih meninggalkan kampung halaman untuk mencari penghidupan di daerah lain.


    "Belum Kering, Basah Lagi" Sebuah Alarm untuk Semua Pihak

    Ungkapan "Belum Kering, Basah Lagi" bukan sekadar slogan yang muncul dalam aksi demonstrasi Aliansi Korban Banjir Malangke (ALKOBAR).

    Kalimat tersebut mencerminkan kondisi nyata yang dirasakan masyarakat.


    Ibarat luka yang tidak pernah diberi kesempatan untuk sembuh, banjir yang terus berulang akan menimbulkan dampak yang semakin besar apabila tidak segera ditangani secara serius.


    Selain mengganggu aktivitas masyarakat, kondisi ini juga berpotensi mempercepat kerusakan infrastruktur jalan, jembatan, fasilitas umum, hingga kawasan permukiman.


    Dalam perspektif pembangunan daerah, kondisi seperti ini tentu menjadi ancaman yang tidak boleh dianggap biasa.


    Saatnya Solusi Berkelanjutan

    Narasi yang berkembang di masyarakat bahwa "Masamba kehujanan, Malangke kebanjiran" memang sering digunakan untuk menjelaskan kondisi geografis wilayah tersebut.

    Sebagai daerah hilir, Malangke memang menerima aliran air dari wilayah hulu.


    Namun penjelasan geografis tidak boleh menjadi alasan untuk menerima kondisi yang terus berulang tanpa upaya perbaikan yang lebih serius.


    Masyarakat tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan.

    Mereka hanya berharap ada langkah nyata yang mampu meminimalisir risiko dan mengurangi dampak yang selama ini mereka rasakan.


    Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan perlu memperkuat langkah preventif melalui mitigasi yang berkelanjutan, penataan lingkungan yang lebih baik, penguatan regulasi, serta kebijakan anggaran yang benar-benar menyentuh akar persoalan.


    Kembalikan Malangke Menjadi Rumah yang AMAN

    Malangke adalah tanah sejarah.

    Malangke adalah tanah yang subur.

    Malangke adalah rumah bagi ribuan masyarakat yang menggantungkan hidup dan masa depan mereka di sana.


    Karena itu, sudah seharusnya Malangke tidak hanya dikenang karena banjirnya.

    Masyarakat berharap para peziarah kembali dapat mengunjungi situs-situs bersejarah tanpa rasa khawatir. Para petani kembali mengolah lahan dengan tenang. Para pedagang kembali menjalankan usaha dengan normal. Anak-anak kembali berangkat sekolah tanpa harus melewati genangan air.


    Harapan itu sederhana.

    Kembalikan Malangke menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, bekerja, dan membangun masa depan.

    Kembalikan Malangke menjadi rumah yang benar-benar AMAN.

    Komentar

    Tampilkan