![]() |
| 30 Tahun Mengajar Al-Qur’an Tanpa Pamrih, Guru Mengaji Kampung di Sidrap Ini Terharu Didatangi Komunitas BDM |
SIDRAP — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, masih ada orang-orang yang setiap hari memilih mengabdikan waktunya untuk mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur’an.
Mereka tidak selalu berada di ruang kelas dengan papan tulis dan fasilitas lengkap.
Sebagian justru mengajar dari rumah, di lingkungan kampung, dengan peralatan sederhana dan tanpa berharap imbalan besar.
Mereka adalah guru mengaji kampung.
Di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), keberadaan mereka masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Salah satunya terlihat dalam kunjungan silaturahmi komunitas BDM kepada sejumlah guru mengaji kampung di wilayah Lautang Benteng dan Rijang Pitu.
Kegiatan tersebut menjadi lebih dari sekadar kunjungan.
Ada perjumpaan, cerita kehidupan, rasa haru, dan pesan tentang bagaimana kebaikan dapat terus menghidupkan semangat orang-orang yang selama puluhan tahun mengabdikan diri mengajarkan Al-Qur’an.
55 Tahun Usia, Puluhan Tahun Mengajar Mengaji
Salah satu sosok yang ditemui adalah Ibu Asrinda, 55 tahun, guru mengaji kampung di wilayah Lautang Benteng.
Ia telah lama mengabdikan diri mengajar mappangaji atau mappakalifu kepada masyarakat sekitar.
Dalam perbincangan tersebut, Asrinda menceritakan perjalanan panjangnya.
Sejak masih muda, ia telah memilih untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di lingkungannya.
Puluhan tahun berlalu.
Usia bertambah, kehidupan berubah, tetapi aktivitas mengajar mengaji tetap dijalankan.
Tidak ada panggung besar.
Tidak ada sorotan.
Namun, dari tempat sederhana itulah pengetahuan tentang Al-Qur’an diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kisah Asrinda menjadi gambaran bagaimana tradisi mengaji di kampung dapat bertahan karena adanya orang-orang yang bersedia mengabdikan waktu dan tenaganya.
“Turun-Temurun Kami Mappangaji”
Perjumpaan berikutnya berlangsung bersama Ibu Hj. Sadaria, yang telah sekitar 15 tahun mappangaji.
Dengan penuh kesederhanaan, ia menceritakan bagaimana tradisi mengaji menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Beginilah Pak, turun-temurun kami mappangaji. Tidak seberapa juga yang bisa saya ajar mengingat usia dan kegiatan yang lain.”
Namun, ada satu hal yang membuatnya kembali bersemangat.
Kehadiran komunitas BDM.
Menurut Hj. Sadaria, kedatangan komunitas tersebut bukanlah yang pertama. Ia menyebut sudah beberapa kali menerima kunjungan dan perhatian.
“Alhamdulillah sejak komunitas BDM datang jadi semangat lagi mappangaji. Ternyata ada komunitas yang peduli dengan kami guru mengaji kampung.”
Dengan nada penuh syukur, ia menyampaikan terima kasih kepada BDM dan orang-orang baik yang berada di balik gerakan tersebut.
“Kalau tidak salah ini yang ketiga kalinya. Terima kasih banyak, Nak. Sampaikan salam terima kasih juga kepada para orang baik yang terlibat di BDM ini.”
Kalimat sederhana itu memperlihatkan bahwa perhatian tidak selalu harus dalam bentuk besar.
Terkadang, sekadar datang, menyapa, mendengar cerita, dan memberikan apresiasi sudah cukup untuk membuat seseorang kembali merasa dihargai.
30 Tahun Mappangaji, Ibu Samira Tetap Bertahan
Perjalanan kemudian berlanjut ke wilayah Rijang Pitu.
Di sana, rombongan kembali bersilaturahmi dengan seorang guru mengaji kampung, Ibu Samira.
Samira telah sekitar 30 tahun mappangaji di sekitar rumahnya.
Tiga dekade bukan waktu yang singkat.
Selama itu pula ia menjadi bagian dari perjalanan anak-anak di lingkungannya mengenal huruf, membaca Al-Qur’an, dan belajar nilai-nilai agama.
Dalam kesederhanaannya, Samira menyampaikan rasa syukur karena akhirnya ada komunitas yang datang memberikan perhatian kepada guru mengaji kampung.
Kehadiran BDM menjadi pengalaman yang berkesan karena memberikan pesan bahwa pengabdian mereka masih dilihat dan dihargai.
Lurah Rijang Pitu Apresiasi Perhatian kepada Guru Mengaji
Kegiatan tersebut turut melibatkan Lurah Rijang Pitu, tokoh masyarakat, serta mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN di Kabupaten Sidrap.
Lurah Rijang Pitu menyampaikan apresiasi kepada komunitas BDM yang telah memberikan perhatian kepada para guru mengaji kampung, khususnya yang berada di wilayahnya.
Keterlibatan pemerintah kelurahan dan tokoh masyarakat memperlihatkan bahwa keberadaan guru mengaji kampung merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Sementara kehadiran mahasiswa KKN memberikan warna tersendiri.
Generasi muda tidak hanya melihat masyarakat sebagai objek kegiatan akademik, tetapi dapat belajar langsung dari orang-orang yang selama puluhan tahun menjaga tradisi pendidikan Al-Qur’an di lingkungan mereka.
BDM: “Kami Hanya Kurir”
Di balik kegiatan tersebut, terdapat sebuah filosofi sederhana yang disampaikan Ahmadianto dari BDM.
Ia menegaskan bahwa apa yang dilakukan komunitas tersebut setiap bulan pada dasarnya adalah mengantarkan amanah.
“Apa yang kami lakukan tiap bulan adalah mengantarkan amanah dari para orang baik yang menitipkan uang cintanya untuk diberikan hadiah kepada para guru mengaji kampung.”
Ahmadianto bahkan menyebut BDM hanya sebagai kurir.
Menurutnya, apresiasi tersebut sebenarnya berasal dari para donatur dan orang-orang baik yang memiliki kepedulian terhadap guru mengaji kampung.
“Istilahnya kami hanya kurir.”
Kalimat tersebut menjadi inti dari gerakan BDM.
Komunitas hadir sebagai penghubung antara orang-orang yang ingin berbagi dengan mereka yang selama ini mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan baca tulis Al-Qur’an.
Mereka Mengajar, Meski Tanpa Imbalan
Ada nilai penting dari kisah para guru mengaji kampung tersebut.
Mereka mengajar bukan karena mengejar popularitas.
Sebagian bahkan melakukannya tanpa imbalan yang sebanding dengan waktu dan tenaga yang diberikan.
Namun mereka tetap bertahan.
Karena bagi mereka, mengajarkan Al-Qur’an adalah bagian dari pengabdian.
Dalam konteks sosial, keberadaan guru mengaji kampung memiliki peran yang sangat penting. Mereka menjadi bagian dari ekosistem pendidikan nonformal masyarakat dan turut membantu mengenalkan kemampuan membaca Al-Qur’an sejak usia dini.
Karena itu, apresiasi kepada mereka bukan hanya persoalan materi.
Lebih jauh, apresiasi adalah bentuk penghormatan terhadap pengabdian.
Ketika Bantuan Berubah Menjadi Semangat
Salah satu hal menarik dari kisah ini adalah pengakuan Hj. Sadaria bahwa kedatangan BDM membuatnya kembali bersemangat.
Ini menunjukkan bahwa bantuan sosial memiliki dimensi yang lebih luas.
Seseorang mungkin menerima sebuah pemberian secara materi.
Tetapi yang sering kali lebih berharga adalah pesan yang menyertainya:
“Kami melihat perjuanganmu. Kami menghargai apa yang kamu lakukan.”
Pesan tersebut dapat menjadi energi baru bagi orang-orang yang bekerja dalam kesunyian.
Bagi guru mengaji kampung, perhatian seperti itu menjadi pengingat bahwa pengabdian mereka tidak dilupakan.
Mahasiswa KKN Ikut Menyaksikan Kisah Pengabdian
Kehadiran mahasiswa KKN dalam kegiatan tersebut juga memberikan nilai edukatif.
Para mahasiswa dapat melihat secara langsung realitas sosial masyarakat, termasuk bagaimana pendidikan keagamaan berlangsung di tingkat kampung.
Mereka juga dapat belajar bahwa pembangunan masyarakat tidak selalu diukur dari pembangunan fisik.
Ada nilai-nilai sosial yang perlu dirawat: gotong royong, kepedulian, penghormatan kepada orang tua, pendidikan agama, dan solidaritas antarsesama.
Pertemuan antara guru mengaji, tokoh masyarakat, pemerintah kelurahan, komunitas sosial, dan mahasiswa menjadi sebuah ruang pembelajaran bersama.
Lima Fakta Menarik dari Silaturahmi BDM
1. Ada guru mengaji yang telah mengabdi puluhan tahun
Ibu Asrinda telah lama mengajar mappangaji, sementara Ibu Samira telah sekitar 30 tahun mengajarkan Al-Qur’an di lingkungan rumahnya.
2. Hj. Sadaria telah 15 tahun mappangaji
Ia mengaku tradisi mengaji telah berlangsung secara turun-temurun di lingkungannya.
3. BDM hadir secara rutin
Menurut Hj. Sadaria, kunjungan komunitas BDM telah dilakukan beberapa kali, bahkan disebut sebagai kunjungan ketiga.
4. Melibatkan berbagai unsur masyarakat
Silaturahmi melibatkan lurah, tokoh masyarakat, guru mengaji, komunitas BDM, serta mahasiswa yang sedang KKN di Sidrap.
5. BDM menyebut diri hanya sebagai “kurir”
Menurut Ahmadianto, komunitas tersebut bertugas menyalurkan amanah dari para donatur kepada guru mengaji kampung sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian mereka.
Penutup: Ada Orang-Orang Baik yang Memilih Tetap Peduli
Di Lautang Benteng dan Rijang Pitu, terdapat kisah yang mungkin sederhana.
Tidak ada panggung megah.
Tidak ada sorotan lampu.
Hanya rumah-rumah warga, guru mengaji, anak-anak, dan tradisi mappangaji yang terus hidup.
Namun justru di tempat-tempat sederhana itulah nilai pengabdian sering kali tumbuh paling kuat.
Ibu Asrinda tetap mengajar.
Hj. Sadaria tetap mappangaji.
Ibu Samira tetap membuka ruang di sekitar rumahnya untuk anak-anak belajar Al-Qur’an.
Mereka mungkin tidak mendapatkan banyak hal secara materi.
Tetapi mereka telah memberikan sesuatu yang nilainya jauh lebih panjang: ilmu yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dan ketika BDM datang membawa amanah dari para donatur, yang diberikan bukan hanya sebuah hadiah.
Ada pesan yang lebih dalam:
“Terima kasih telah menjaga cahaya itu tetap menyala.”
Sebab kebaikan terkadang tidak membutuhkan nama besar.
Cukup ada orang yang mengajar dengan tulus, ada orang yang peduli, dan ada orang yang bersedia menjadi penghubung.
Dari guru mengaji kampung, ilmu diwariskan. Dari orang-orang baik, penghargaan disampaikan. Dan dari kepedulian yang terus bergerak, harapan tetap hidup.















