![]() |
| Kabar Duka dari Pangkajene Hj. Nurhaedah Wafat, Bupati Sidrap Turut Melayat |
SIDENRENG RAPPANG, NARASIRAKYAT.ID – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Hj. Nurhaedah. Perempuan yang dikenal sebagai sosok yang tekun beribadah dan aktif bermasyarakat itu berpulang ke rahmatullah pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Almarhumah merupakan ibunda dari sejumlah putra-putri yang dikenal di tengah masyarakat, yakni Dr. Abdul Jabbar, tokoh pemuda sekaligus akademisi yang saat ini menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Rappang (UMS Rappang); Zulkifli, Kepala SDN 10 Benteng Baranti; serta Sitti Rahmah, seorang pengusaha.
Kepergian Hj. Nurhaedah meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, sahabat dan masyarakat yang selama ini mengenalnya.
Semasa hidup, almarhumah dikenal sebagai sosok yang memiliki perhatian kuat terhadap kehidupan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
Di kediamannya di Jalan Anoa, Pangkajene, keluarga, kerabat dan masyarakat berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memanjatkan doa bagi almarhumah.
Bupati dan Ketua TP PKK Sidrap Hadir Melayat
Suasana duka di rumah almarhumah juga diwarnai kehadiran sejumlah tokoh daerah.
Bupati Sidenreng Rappang, H. Syaharuddin Alrif, bersama Ketua TP PKK Sidrap, Hj. Haslindah Hasan, hadir langsung untuk melayat dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.
Kehadiran tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan empati kepada keluarga atas kehilangan sosok ibu yang selama hidupnya menjadi bagian penting dalam perjalanan keluarga.
Selain Bupati dan Ketua TP PKK, sejumlah tokoh dari berbagai unsur juga turut hadir.
Tokoh politik, pemuda, agama dan masyarakat datang silih berganti untuk menyampaikan doa serta memberikan penguatan kepada keluarga.
Momentum tersebut memperlihatkan bagaimana sosok Hj. Nurhaedah memiliki hubungan sosial yang baik dengan lingkungan di sekitarnya.
Dikenang sebagai Sosok Ahli Ibadah dan Bermasyarakat
Di tengah suasana kehilangan, keluarga dan masyarakat mengenang Hj. Nurhaedah sebagai perempuan yang dikenal tekun menjalankan ibadah dan memiliki kepedulian terhadap kehidupan bermasyarakat.
Bagi keluarga, sosok ibu bukan sekadar orang tua yang membesarkan anak-anak.
Ia adalah tempat kembali, sumber nasihat dan teladan yang membentuk karakter generasi setelahnya.
Jejak kehidupan seorang ibu juga sering kali tidak tercatat dalam dokumen formal.
Namun, nilai-nilai yang ditanamkan kepada anak-anaknya dapat terus hidup melalui perilaku, pengabdian dan kontribusi mereka kepada masyarakat.
Dalam konteks keluarga Hj. Nurhaedah, kiprah anak-anaknya di berbagai bidang menjadi bagian dari perjalanan keluarga yang patut dikenang.
Ada yang mengabdi melalui dunia akademik dan kepemudaan, ada yang menjalankan tugas di dunia pendidikan, dan ada pula yang bergerak di dunia usaha.
Dimakamkan di Pekuburan Wala
Setelah prosesi pemakaman, almarhumah Hj. Nurhaedah dimakamkan di Pekuburan Wala.
Lokasi pemakaman tersebut memiliki makna tersendiri bagi keluarga karena almarhumah dimakamkan di samping suaminya, H. Abd. Rahman, yang merupakan pensiunan PSDA Sidrap.
Di tempat peristirahatan terakhir itu, keluarga dan masyarakat mengantarkan almarhumah dengan doa.
Pemakaman menjadi titik akhir dari perjalanan kehidupan di dunia sekaligus pengingat bagi mereka yang masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan.
Lima Fakta tentang Sosok Hj. Nurhaedah
1. Berpulang pada Jumat, 7 Agustus 2026
Hj. Nurhaedah meninggal dunia pada Jumat dan meninggalkan duka bagi keluarga serta masyarakat yang mengenalnya.
2. Tinggal di Jalan Anoa, Pangkajene
Semasa hidup, almarhumah dikenal bermukim di kawasan Jalan Anoa, Pangkajene.
3. Ibunda tokoh dari berbagai bidang
Almarhumah merupakan ibu dari Dr. Abdul Jabbar, akademisi dan tokoh pemuda; Zulkifli, Kepala SDN 10 Benteng Baranti; serta Sitti Rahmah, pengusaha.
4. Dikenal sebagai sosok ahli ibadah dan bermasyarakat
Keluarga dan masyarakat mengenang almarhumah sebagai perempuan yang memiliki perhatian terhadap ibadah dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
5. Dimakamkan berdampingan dengan suaminya
Hj. Nurhaedah dimakamkan di Pekuburan Wala, tepat di samping makam suaminya, H. Abd. Rahman, pensiunan PSDA Sidrap.
Ketika Seorang Ibu Pergi, Doa Menjadi Pengikat
Kepergian seorang ibu selalu meninggalkan ruang yang sulit digantikan.
Rumah yang sebelumnya menjadi tempat berkumpul berubah menjadi ruang penuh kenangan. Suara dan nasihat yang dahulu terdengar setiap hari kini tinggal dalam ingatan.
Namun bagi keluarga yang ditinggalkan, ada satu hal yang dapat terus dilakukan: mendoakan.
Doa menjadi bentuk kasih yang tidak terputus.
Di tengah duka, keluarga besar Hj. Nurhaedah menerima kehadiran masyarakat yang datang membawa simpati dan doa.
Kehadiran para tokoh, kerabat dan masyarakat juga menjadi pengingat bahwa kehidupan seseorang tidak hanya diukur dari berapa lama ia hidup, tetapi juga dari seberapa banyak kebaikan dan hubungan baik yang ditinggalkan.
Doa untuk Almarhumah
Kepergian Hj. Nurhaedah menjadi pengingat bagi setiap orang bahwa kehidupan dunia memiliki batas.
Karena itu, mari bersama-sama mendoakan almarhumah agar Allah SWT mengampuni seluruh dosa dan kekhilafannya, menerima seluruh amal ibadah serta kebaikannya, melipatgandakan pahala amal salehnya, dan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan, khususnya Dr. Abdul Jabbar, Zulkifli, Sitti Rahmah serta seluruh keluarga besar, diberikan kekuatan, kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi kehilangan tersebut.
Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fu 'anha.
Semoga Hj. Nurhaedah mendapatkan rahmat dan ampunan Allah SWT, ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya, serta keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi ketabahan.















