![]() |
| Heboh “Parakang” di Baranti Sidrap, Polisi Temukan Fakta di balik Video Viral |
SIDRAP, NARASIRAKYAT.ID — Malam di Lingkungan Simae, Kelurahan Duampanua, Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Jumat (21/8/2026), berubah menjadi riuh.
Sejumlah warga berbondong-bondong menuju kawasan kebun setelah beredar cerita mengenai sosok misterius yang oleh sebagian masyarakat disebut sebagai “Parakang”, istilah yang dikenal dalam cerita dan kepercayaan masyarakat Bugis.
Keriuhan itu semakin meluas setelah sebuah video yang merekam aktivitas warga beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, beberapa warga terlihat berlari menuju area kebun. Ada yang membawa kayu dan parang, seolah sedang melakukan pencarian terhadap sesuatu yang diyakini berada di kawasan tersebut.
Namun, ketika cerita berkembang menjadi kabar yang mengundang perhatian, satu pertanyaan penting muncul:
Benarkah ada “Parakang” di Baranti?
Polisi kemudian turun langsung ke lokasi untuk memastikan informasi tersebut.
Kapolsek Baranti Iptu Sucianto mengatakan, pihaknya telah memerintahkan personel melakukan pengecekan setelah menerima informasi mengenai dugaan penampakan yang ramai diperbincangkan warga.
«“Terkait video yang beredar adanya penampakan (Parakang), anggota sudah melakukan pengecekan,” kata Sucianto, Sabtu (22/8/2026).»
Hasil pemeriksaan di lapangan tidak menemukan sosok, benda, maupun kejadian yang dapat dikaitkan dengan keberadaan makhluk sebagaimana yang disebut dalam cerita warga.
«“Anggota turun cek ke sana, tapi tidak menemukan adanya makhluk atau kejadian yang mengarah pada gangguan keamanan,” ujarnya.»
Berawal dari Pengakuan Seorang Pelajar
Menurut keterangan Kapolsek Baranti, kabar tersebut bermula dari pengakuan seorang pelajar SMA yang merasa melihat sesuatu yang tidak biasa di sekitar kawasan tersebut.
Cerita itu kemudian disampaikan kepada ayahnya.
Informasi tersebut selanjutnya berkembang di tengah masyarakat hingga sejumlah warga mendatangi kawasan kebun untuk mencari sosok yang disebut-sebut sebagai “Parakang”.
«“Jadi itu awalnya anak SMA yang katanya melihat ada penampakan, kemudian dia lapor ke bapaknya dan ramai-ramai warga juga ikut mencari,” jelas Sucianto.»
Situasi tersebut kemudian terekam dalam video dan menyebar melalui media sosial.
Di sinilah sebuah cerita lokal bergerak lebih cepat daripada proses memastikan kebenarannya.
Sebuah pengakuan pribadi berubah menjadi kabar yang dibicarakan banyak orang. Rekaman kerumunan warga kemudian menjadi bahan perhatian publik, sementara kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi belum ditemukan.
Polisi Pastikan Tidak Ada Gangguan Keamanan
Pengecekan aparat menjadi bagian penting untuk memisahkan antara cerita yang berkembang di masyarakat dengan fakta yang dapat diverifikasi.
Dari pemeriksaan di lokasi, polisi tidak menemukan sosok yang disebut-sebut sebagai “Parakang”.
Tidak ditemukan pula indikasi kejadian yang mengarah pada gangguan keamanan.
«“Tidak ada ji didapat. Cuma heboh saja,” kata Sucianto.»
Dengan demikian, hingga pengecekan dilakukan, keberadaan “Parakang” dalam peristiwa tersebut belum memiliki bukti faktual yang dapat dikonfirmasi.
Cerita mengenai sosok tersebut masih berada dalam ranah dugaan, cerita masyarakat, dan kepercayaan yang hidup dalam budaya setempat.
Ketika Video Lebih Cepat daripada Fakta
Peristiwa di Baranti menjadi gambaran kecil tentang bagaimana informasi dapat berkembang sangat cepat di era media sosial.
Video berdurasi singkat dapat menyebar ke banyak orang hanya dalam hitungan menit. Namun, kecepatan penyebaran informasi tidak selalu berjalan seiring dengan kecepatan verifikasi.
Dalam kasus ini, yang terlihat secara nyata adalah warga yang berkumpul dan bergerak menuju kawasan kebun.
Sementara sosok yang disebut dalam narasi video belum berhasil ditemukan.
Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara apa yang terlihat dalam video, apa yang dikatakan seseorang, dan apa yang telah terverifikasi di lapangan.
Prinsip tersebut penting agar sebuah kabar tidak berkembang menjadi kepanikan atau tuduhan terhadap pihak tertentu tanpa dasar yang jelas.
Lima Fakta Menarik di Balik Heboh “Parakang” Baranti
1. Kehebohan terjadi pada Jumat malam
Kerumunan warga muncul di Lingkungan Simae, Kelurahan Duampanua, Kecamatan Baranti, Sidrap, pada Jumat malam, 21 Agustus 2026.
2. Cerita bermula dari seorang pelajar SMA
Menurut keterangan Kapolsek Baranti, informasi awal berasal dari seorang pelajar yang mengaku melihat sesuatu yang dianggap tidak biasa.
3. Warga ikut melakukan pencarian
Cerita tersebut kemudian membuat sejumlah warga mendatangi kawasan kebun. Aktivitas mereka terekam dalam video yang kemudian beredar di media sosial.
4. Polisi turun langsung melakukan pengecekan
Kapolsek Baranti memerintahkan personel untuk memeriksa lokasi guna memastikan informasi yang beredar.
5. Tidak ditemukan sosok maupun gangguan keamanan
Hasil pengecekan polisi tidak menemukan makhluk, benda, atau kejadian yang dapat memastikan dugaan penampakan tersebut.
Antara Tradisi, Cerita dan Tanggung Jawab Informasi
Kepercayaan terhadap cerita rakyat merupakan bagian dari dinamika sosial dan budaya masyarakat. Istilah seperti “Parakang” juga memiliki tempat dalam cerita dan kepercayaan yang dikenal di tengah masyarakat Bugis.
Namun, ketika sebuah cerita masuk ke ruang publik melalui media sosial, diperlukan sikap yang lebih hati-hati.
Cerita budaya dapat dibicarakan sebagai bagian dari kearifan dan tradisi. Tetapi ketika sebuah informasi diklaim sebagai kejadian nyata, masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang berdasarkan fakta dan hasil verifikasi.
Dalam konteks inilah keterangan kepolisian menjadi penting.
Bukan untuk menghakimi kepercayaan masyarakat, melainkan memastikan bahwa situasi tetap aman dan informasi yang beredar tidak menimbulkan keresahan.
Heboh “Parakang” di Baranti akhirnya menyisakan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Ada video yang beredar. Ada warga yang berkerumun. Ada cerita mengenai sosok misterius. Namun, setelah dilakukan pengecekan, tidak ditemukan bukti yang dapat memastikan adanya penampakan atau gangguan keamanan.
Peristiwa ini menjadi pengingat sederhana di tengah derasnya arus informasi: viral belum tentu benar, ramai belum tentu fakta, dan sebuah video belum tentu menjelaskan seluruh kejadian.
Masyarakat boleh menyimpan cerita, budaya, dan kepercayaan sebagai bagian dari identitas sosial. Tetapi ketika informasi dibagikan kepada publik, satu hal tetap harus dijaga bersama: tabayyun, verifikasi, dan tanggung jawab sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Sebab, terkadang yang paling penting dari sebuah cerita bukan seberapa cepat ia menjadi viral, melainkan seberapa kuat ia dapat dipertanggungjawabkan sebagai fakta.















