![]() |
| BDM Sidrap Sambangi Guru Mengaji Tradisional di Tellu Limpoe, PMII Apresiasi Kepedulian dan Silaturahmi |
SIDRAP — Kepedulian terhadap para guru mengaji tradisional kembali mendapat perhatian. Kehadiran Bangkit Dari Masjid Sidrap di Kecamatan Tellu Limpoe menjadi momentum penuh makna untuk bersilaturahmi sekaligus memberikan paket hadiah istimewa kepada para guru mengaji tradisional yang selama ini berperan penting dalam membina pendidikan Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Ketua Bidang Keagamaan PC PMII Sidrap, Muh. Subhan Razak. Ia menilai kehadiran BDM Sidrap bukan hanya sebatas memberikan bantuan, tetapi juga menunjukkan penghargaan terhadap para guru mengaji yang telah mendedikasikan waktu dan tenaga untuk membimbing generasi di tingkat akar rumput.
Menurut Subhan, guru mengaji tradisional memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat. Di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, mereka tetap hadir mengajarkan anak-anak membaca Al-Qur’an, mengenal nilai-nilai agama, serta membangun fondasi akhlak sejak usia dini.
Silaturahmi yang Menyentuh dari Tellu Limpoe
Bagi sebagian masyarakat, hadiah mungkin terlihat sederhana. Namun bagi para guru mengaji yang menerimanya, perhatian tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Kunjungan BDM Sidrap menghadirkan pesan bahwa perjuangan para guru mengaji tidak luput dari perhatian masyarakat. Mereka yang setiap hari berada di lingkungan tempat tinggal warga, membuka ruang belajar Al-Qur’an dan membimbing anak-anak, juga layak mendapatkan apresiasi.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan BDM Sidrap yang telah hadir dan datang bersilaturahmi serta membawakan paket hadiah istimewa kepada guru-guru mengaji tradisional yang ada di Kecamatan Tellu Limpoe,” ujar Muh. Subhan Razak.
Menurutnya, silaturahmi semacam ini penting untuk terus dirawat karena dapat memperkuat hubungan antara komunitas, organisasi kepemudaan, tokoh agama dan masyarakat.
Guru Mengaji, Penjaga Tradisi Pendidikan Al-Qur’an
Di banyak daerah, pendidikan Al-Qur’an tumbuh dari ruang-ruang sederhana. Tidak selalu berada di lembaga pendidikan formal, tetapi hadir melalui masjid, mushalla dan rumah-rumah warga.
Para guru mengaji tradisional menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut.
Dengan kesabaran, mereka mengenalkan huruf hijaiyah, bacaan Al-Qur’an dan dasar-dasar keagamaan kepada anak-anak. Lebih dari itu, proses mengaji juga menjadi ruang pembentukan karakter.
Karena itu, perhatian terhadap guru mengaji sesungguhnya merupakan investasi sosial dan spiritual. Ketika seorang anak belajar membaca Al-Qur’an, di saat yang sama sedang dibangun fondasi moral yang diharapkan menjadi bekal dalam kehidupannya.
Kehadiran BDM Sidrap di Tellu Limpoe menjadi pengingat bahwa pembangunan generasi tidak hanya membutuhkan fasilitas modern, tetapi juga membutuhkan penghargaan kepada mereka yang dengan ikhlas menjaga tradisi pendidikan keagamaan.
PMII Dorong Gerakan Kepedulian Berkelanjutan
Apresiasi yang disampaikan Muh. Subhan Razak juga mencerminkan pentingnya peran organisasi kepemudaan dalam mendorong gerakan sosial dan keagamaan.
PMII Sidrap melihat silaturahmi dan kepedulian terhadap guru mengaji sebagai bagian dari upaya memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat.
Semangat tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan. Sebaliknya, kepedulian terhadap guru mengaji dapat terus berkembang menjadi gerakan yang lebih luas, melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Sebab, menjaga keberlangsungan pendidikan Al-Qur’an berarti ikut menjaga masa depan generasi muda.
Lima Fakta Menarik
1. BDM Sidrap hadir langsung di Kecamatan Tellu Limpoe
Kehadiran secara langsung menunjukkan bahwa kegiatan tidak sekadar berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi juga membangun kedekatan melalui silaturahmi.
2. Guru mengaji tradisional menjadi penerima perhatian
Mereka merupakan bagian penting dari pendidikan keagamaan masyarakat di tingkat akar rumput.
3. Paket hadiah menjadi simbol penghargaan
Hadiah yang diberikan memiliki nilai lebih sebagai bentuk perhatian dan penghormatan terhadap dedikasi guru mengaji.
4. Mendapat apresiasi dari PC PMII Sidrap
Wakil Ketua Bidang Keagamaan PC PMII Sidrap, Muh. Subhan Razak, memberikan apresiasi atas kegiatan tersebut.
5. Menguatkan pendidikan agama berbasis masyarakat
Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pendidikan Al-Qur’an dapat terus diperkuat melalui kolaborasi antara komunitas, organisasi kepemudaan dan masyarakat.
Ketika Kepedulian Menjadi Cahaya
Kisah dari Tellu Limpoe ini mengajarkan bahwa sebuah kebaikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar.
Kadang, sebuah kunjungan, salam persaudaraan dan bingkisan sederhana mampu membuat seseorang merasa dihargai setelah sekian lama mengabdikan diri untuk masyarakat.
Para guru mengaji tradisional mungkin tidak selalu berada di pusat perhatian. Namun dari ruang-ruang sederhana tempat mereka mengajar, lahir anak-anak yang mengenal Al-Qur’an, memahami nilai agama dan belajar tentang akhlak.
Karena itu, memberi perhatian kepada mereka bukan sekadar memberi hadiah. Ini adalah bentuk penghormatan kepada orang-orang yang ikut menjaga cahaya Al-Qur’an tetap menyala di tengah masyarakat.
Semoga langkah BDM Sidrap menjadi inspirasi bagi lebih banyak pihak untuk terus memperhatikan guru mengaji, memperkuat pendidikan Al-Qur’an dan membangun budaya saling peduli.
Dari Tellu Limpoe, sebuah pesan sederhana kembali menguat: ketika guru mengaji dihargai, pendidikan agama semakin dihormati; ketika silaturahmi dijaga, masyarakat semakin kuat.















